
Alisa mengernyitkan kedua alisnya melihat tingkah Ratih yang sedang berakting.
###
"Alisa, betul kata mbak Ratih kenapa kamu mesti capek-capek turun cuman buat ambil gelas aja?. " Tanya Agus, Laki-laki itu terlihat khawatir.
Alisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak bukan kayak gitu mas, tadi mbak Ratih... " Alisa mencoba menjelaskan tapi Ratih lagi-lagi memotong ucapannya.
"Maaf tuan, ini kesalahan saya karena membiarkan nyonya Alisa untuk mengambil gelas sendiri, hukum saya saja tuan, saya benar-benar lalai dalam bekerja di rumah ini, kalau perlu telpon saja bi Karsih agar dia bisa mencari pengganti saya untuk bekerja di rumah ini. " Oceh Ratih, dengan nada suara memelas, menyalahkan dirinya sendiri membuat Alisa jadi tidak tega melihatnya.
Alisa tahu berul perempuan itu sedang berbohong, jelas-jelas tadi Ratih masih sempat mencemooh dirinya. Alisa hanya bisa menatap datrmar ke arah Ratih yang saat ini sedang menunduk.
"Astaghfirullah mbak Ratih kenapa harus berbohong sih. " Batin Alisa heran melihat tingkah keponakan bi Karsih itu, perilaku mereka sangat berbeda dalam memperlakukan Alisa.
"Lain kali jangan seperti itu ya mbak Ratih, cepat bersihin kacanya jangan sampai ada yang tersisa di lantai, bahaya kalau ada yang nginjek. " Perintah Agus kemudian.
"I-iya tuan, terima kasih untuk kebaikan hati tuan. " Balas Ratih.
Agus segera menarik tangan Alisa untuk menjauhi pecahan kaca tersebut dan membawanya ke lantai atas. Sedari tadi Agus sudah sangat khawatir pada Alisa namun ia tidak mungkin memperlihatkan kekhawatiran yang berlebihan nya itu di depan Ratih.
"Kamu tidak apa-apakan?. " tanya Agus sembari mengecek tangan dan kaki Alisa, namun Alisa segera memundurkan tubuhnya.
"Eh maaf Alisa, aku sangat khawatir. " Lanjut Agus merasa tidak enak karena lancang menyentuh tubuh Alisa, gadis berjilbab itu.
Alisa menggelengkan kepalanya dengan pelan.
__ADS_1
"Ah tidak, aku tidak apa-apa, aku cuman sedikit heran saja pada mbak Ratih. " Balas Alisa.
"Kenapa?. "
Alisa berpikir sejenak, menimbang-nimbang apakah ia harus mencimritakannya pada Agus atau tidak.
"Hmm, Iya soalnya pas tau mobil kamu datang dia langsung buru-buru mau merebut gelas kaca yang sedang aku pegang tadi, aku heran aja kenapa mbak Ratih kayak nggak suka sama aku yah?." Ujar Alisa, memutuskan untuk menceritakan keresahan nya pada Agus.
Hanya Agus yang bisa menjadi temannya bercerira sekarang. Melaporkan kelakuan Ratih pada tuan Cipto? Yang ada Alisa lah yang akan kena semprot, mengingat suaminya itu sama sekali tidak mengingat dirinya sebagai istri.
"Maksud kamu, Mbak Ratih tadi berbohong?. " Tanya Agus memastikan.
Alisa kembali mengangguk.
"Kurang ajar, biar aku kasih pelajaran ke dia, kamu masuklah ke dalam kamarmu biar aku tegur perempuan itu agar dia bersikap lebih baik kepala damu kalau perlu aku akan langsung mengusirnya dari rumah ini. " Gerutu Agus kesal mendengar pernyataan Alisa.
"Udah mas, tidak usah kejadian barusan di lupain aja, yang terpenting sekarang keadaan rumah aman dan tenang, Alisa malas kalau mesti ada drama-drama lagi, tuan Cipto juga udah tidur kalau kita bikin keributan lagi istirahatnya bisa terganggu. " Tutur Alisa panjang lebar, ia sebenarnya tidak memiliki niat untuk membuat Ratih dalam situasi yang buruk.
Agus yang mendengar hal itu tidak serta merta langsung setuju dengan pemikiran Alisa.
"Tidak bisa begitu Alisa kalaupun ayahku tidak mengingatmu sebagai istrinya tapi Ratih itu pembantu di rumah ini, dia tidak boleh memperlakukanmu seenak jidatnya. "
"Iya Alisa tahu, Alisa paham, tapi untuk sekarang biarkan saja dulu, lagi pula mengurus rumah harusnya sudah menjadi kewajibanku sebagai ibu rumah tangga di rumah ini, kasian juga Ratih jika harus mengerjakan semuanya seorang diri. "
Agus merasa kesal dengan Alisa yang plin plan.
"Alisa, ayahku membayar pembantu di rumah ini untuk mengurus rumah, untuk apa ada mbak Ratih kalau ternyata yang mengerjakan semua pekerjaan rumah malah kamu?. " cecar Agus.
__ADS_1
"Iya aku tau, kalau begitu biarkan saja masalah malam ini berlalu, tidak usah di perpanjang lagi, oke?jika tau kamu akan selesai ini, lebih baik aku simpan saja sendiri keresahanku. " Balas Alisa, berharap ucapannya akan membuat Agus tidak jadi memarahi Ratih.
Agus menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Huuufffh ya sudah kali ini akan kubiarkan masalah tadi berlalu, pergilah tidur. " Perintah Agus kemudian.
Alisa tersenyum mendengarnya, ia tahu Agus memiliki ymhati yang lembut dan peduli pada orang lain.
"Tapi kamu harus berjanji dulu, tidak akan menegur mbak Ratih untuk kejadian tadi?. " Seru Alisa mengacungkan jari kelingkingnya.
Deg
Jantung Agus kembali berdetak sangat kencang, hal itu selalu mereka lakukan jika sedang membuat janji pada saat hubungan percintaan mereka tidak serumit sekarang.
"Janji kelingking?. "Gumam Agus.
Alisa mengangguk. .
"Huhhh, lain kali kalau tugasmu membantu ayahku sudah selesai langsung istirahat saja. " Omel Agus lagi.
"Ayolah mas tidak usah di bahas lagi, ayo berjanji tidak akan menegur mbak Ratih tentang kejadian tadi. " Pekik Alisa, menunggu Agus mengacungkan jari kelingkingnya.
"Oke!. "
Mereka berdua mengaitkan jari kelingking dan berjanji kejadian tadi tidak akan di bahas lebih lanjut lagi.
Bersambung....
__ADS_1