
"Baiklah Alisa, aku akan membantumu sebisa mungkin. " Balas laki-laki itu.
###
Alisa dan Agus kembali ke rumah mewah Tuan Cipto, nampak ada 1 mobil lain yang terparkir di halaman rumah tersebut.
"Jangan-jangan dokter yang mau meriksa keadaan tuan Cipto udah datang mas?. " Ujar Alisa sesaat setelah mobil yang mereka kendarai itu berhenti tepat di samping mobil tadi.
"Aku juga nggak tau, ya udah ayo turun nanti biar barang-barang itu di urus sama mbak Ratih dan di angkut sama penjaga. " Ajak Agus.
Alisa menuruti perkataan laki-laki itu meskipun hatinya masih gelisah dan takut terjadi apa-apa pada orang tuanya sendiri, tapi untuk saat ini yang bisa Alisa lakukan hanya berpasrah diri pada Tuhannya, Alisa berharap orang tuanya tersebut selalu dalam lindungannya.
Hal yang harus Alisa pikirkan untuk saat ini adalah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu tuan Cipto agar laki-laki itu segera pulih, syukur-syukur ingatannya akan kembali dalam waktu dekat sehingga tuan Cipto bisa mempertemukan Alisa dengan ayah dan ibunya yang ternyata sudah di jemput oleh para preman suruhan suaminya itu sebelum ia mengalami serangan jantung dan membuatnya lupa beberapa hal penting dalam hidupnya.
"Alisa ayo masuk, kenapa melamun?. " Tegur Agus yang sudah berjalan lebih dulu saat melihat Alisa masih berdiri di samping mobil.
"Eh iya mas maaf. " Balas gadis itu, Alisa kemudian berlari kecil mengikuti langkah Agus yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Tenang aja, kalau ayahku ternyata udah mindahin orang tuamu ke tempat yang lain mereka pasti aman kok, yang harus kita lakukan saat ini mencari tahu dimana mereka tinggal dan mencari tau dimana surat perjanjian kontrak pernikahanmu dengan ayah, jangan khawatir Alisa. " Ujar Agus pelan mengingatkan Alisa agar gadis itu bersikap biasa saja dan jangan terlalu menampilkan kegelisahannya.
__ADS_1
"Emangnya ekspresi Alisa terlihat segelisah itu mas? . "
Agus mengangguk.
"Iya, makanya jangan terlalu dipikirin karena aku bakalan berusaha untuk menemukan mereka secepat mungkin, bahkan sebelum ingatan ayahku pulih. " Ujar Agus kembali mengucapkan kalimat-kalimat penenang.
"makasih banyak mas. " Balas Alea tulus. Ia sadar betul meskipun masih ada perasaan yang tersisa di dalam hatinya untuk Agus, akan tetapi cinta mereka akan sulit untuk bersatu.
"Ekheeemmm." Suara batuk seseorang membuat percakapan kedua orang itu seketika terhenti.
Ratih nampak baru saja turun dari lantai 2 dengan sebuah nampn di tangan kanannya.
"Mbak Ratih? Dokternya udah datang?. " Tanya Agus memastikan.
Ratih mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Udah datang mas, udah saya siapin minum juga. " Balas perempuan itu.
"Udah lama mbak dokternya datang?. " Timoal Alisa, kali ini gadis itu yang bertanya.
__ADS_1
Ratih kembali mengangguk.
"Yah sekitar 20 menitan lah, langsung naik aja, dokternya juga udah nunggu kedatangan tuan Agus dan Nyonya." Ujar Ratih, nada suaranya terdengar berat saat menyebutkan kalimat "Nyonya" Sambil menatap sinis pada Alisa.
Beruntung Agus tidak melihat hal tersebut, jika tidak sudah habis perempuan itu kena omelan.
Alisa sendiri tidak ingin terlalu mempermasalahkan tatapan tidak suka yang selalu di tunjukkan Ratih padanya.
"Oh ya udah, ayo mas kita segera naik takutnya tuan Cipto ada butuh apa-apa. " Pekik Alisa, gadis itu berjalan lebih dulu menaiki anak tangga.
"Ya udah mbak Ratih tolong suruh penjaga di depan gerbang itu untuk bwa barang-barang yang ada di dalam mobil saya, ini kuncinya. " Perintah Agus sembari menyerahkan kunci mobilnya pada Ratih.
"Eh iya tuan... " Balas Ratih mencoba tetap terlihat ramah, namun setelah Agus melewatinya untuk menaiki anak tangga raut wajah perempuan itu langsung berubah masam.
"Enak aja main nyuruh-nyuruh, kenapa nggak sekalian kasih tau sebelum masuk ke pintu gerbang aja, semua orang dirumah ini sangat menyebalkan terutama gadis penggoda itu. " Gerutu Ratih.
Perempuan itu terlihat sangat tidak iklas dalam melakukan pekerjaannya.
Bersambung...
__ADS_1