Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)

Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)
Bagian 44 : Pura-pura Lupa?


__ADS_3

Mata Alisa dan Agus saling bertatapan untuk sesaat, seolah-olah mereka sedang merasakan beban yang sama-sama berat.


###


Selesai sarapan Alisa berinisiatif mengantar Agus sampai di depan pintu.


"Mas Agus, tadi mas marahin bi Ratih gara-gara kejadian semalam?. " tanya Alisa penasaran, ia sebenarnya merasa curiga dengan gerak gerik Ratih tadi yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Udah nggak usah terlalu dipikirin, kitakan udah janji tadi malam mana mungkin aku marahin bi Ratih kalau kamu udah bilang 'jangan'. " Ujar Agus berbohong agar gadis itu tidak terlalu kepikiran.


Alisa juga nampaknya percaya saja dan mulai membahas hal lain.


"Eh Mas Agus, Pulanglah lebih cepat hari ini karena akan ada beberapa barang yang harus di jemput di bandara. " Ujar Alisa, sebelum AgusUjar berangkat ke kantor.


"Barang?. " Agus nampak bingung.


"Dokter tadi menelpon barang pesanan untuk melakukan terapi mandiri tuan Cipto sudah datang tapi harus di jemput sendiri, Alisa tidak tau harus meminta tolong kepada siapa untuk menjemput barang itu. " Jelas Alisa.


Agus mengangguk pertanda ia sudah mengerti.


"Kamu tidak mau ikut?. " Tanya Agus.


"Ikut?. "


"Iya, ikut ke bandara bersamaku menjemput barang itu sekalian pergi melihat orang tuamu? . " Ujar Agus.


"Eh tapi, aku takut tuan Cipto pasti akan marah, mas Agus. "

__ADS_1


"Nanti aku akan memintanya untuk mengizinkanmu ikut denganku, bagaimana?. "


Raut wajah Alisa nampak berbinar, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk pergi keluar rumah, akan tetapi ia belum yakin apakah tuan Cipto akan mengizinkannya atau tidak.


Andika yang menyadari raut kegelisahan di wajah Alisa mencoba meyakinkan gadis itu.


"Tenang saja, lagi pula ayahku tidak ingat jika kamu adalah istrinya, sekarang kamu bebas keluar masuk ke rumah ini. "


"Tapi, bagaimana dengan preman yang berjaga di depan gerbang mereka pasti tidak akan mengizinkanku meninggalkan rumah ini. "


"Sudah tenang saja, biar aku yang mengurus semuanya, aku pergi ke kantor dulu. " Ujar Agus, Laki-laki itu beranjak masuk ke mobilnya.


Tidak lama kemudian mobil Agus meninggalkan halaman rumah mewah tuan Cipto, nampak jelas dari tempat Alisa saat ini berdiri 2 preman sedang berjaga di samping gerbang tersebut.


Padahal sebelum tuan Cipto mengalami serangan jantung gerbang itu sama sekali tidak di jaga dengan ketat.


Bukan tanpa alasan Alisa merasa takut untuk meninggalkan rumah tersebut walau hanya sebentar saja, meskipun tuan Cipto sama sekali tidak mengingat dirinya sebagai istri muda dari laki-laki itu, akan tetap para preman itu tau jika Alisa adalah istri bos mereka dan tentunya mereka pasti sudah tau jika selama berada di rumah tuan Cipto selama ini Alisa di larang keras untuk meninggalkan rumah tersebut tanpa izin.


Alisa hampir lupa jika dirinya tadi meninggalkan tuan Cipto duduk sendirian di meja makan. Alisa kemudian bergegas menghampiri suaminya itu.


"Kenapa lama sekali?. " Sentak tuan Cipto, kesal.


"Eh maaf tuan, tadi Alisa bicara sebentar sama mas Agus dan Alisa minta dia untuk cepat pulang untuk pergi mengambil alat terapi tuan siang nanti sebelum dokter datang. " Jelas Alisa.


"Oh baguslah kalau begitu, ayo bantu aku naik ke lantai atas aku ingin berbaring. " Perintah tuan Cipto.


Alisa dengan sigap meraih dan mendorong kursi roda tuan Cipto dan membantu laki-laki itu untuk duduk di kursi stairlift atau alat yang di gunakan untuk menaiki tangga secara otomatis bagi orang-orang yang lumpuh dan susah menggerakkan kakinya.

__ADS_1


"Naiklah duluan, tunggu aku di atas. " Seru tuan Cipto.


"Baik tuan. " Balas Alisa, dengan cepat gadis itu menaiki anak tangga lebih dulu.


Tidak sampai 1 menit tuan Cipto sudah sampai di lantai 2 menggunakan stairlift tadi, lagi-lagi Alisa seorang diri mengangkat tubuh tuan Cipto kembali duduk ke kursi rodanya.


Alisa mendorong kursi roda tuan Cipto untuk masuk ke dalam kamar anak sulungnya. Tuan Cipto memang di tempatkan di kamar itu karena beberapa hari yang lalu saat Alisa dan Agus ingin membersihkan kamar pribadinya, tuan Cipto beralasan kunci kamarnya hilang.


Saat baru akan membuka pintu kamar tiba-tiba tuan Cipto menahan tangan Alisa.


"Tunggu... "


"Ada apa tuan?. "


"Aku mau istirahat di dalam kamarku saja. " Ujar tuan Cipto, menunjuk ke arah kamarnya.


Alisa kebingungan harus bagaimana karena yang ia tahu tuan Cipto lupa di mana ia menaruh kunci kamar tersebut.


"Tapi tuan kamarnya terkunci. "


"Aku punya kuncinya, ada di bawah pot bunga itu, cepat bukakan pintu kamarku. " Ujar tuan Cipto.


Alisa yang nampak masih kebingungan itupun segera menuruti peri tah tuan Cipto dan berjalan pot bunga yang berada di antara pintu kamarnya dan pintu kamar tuan Cipto.


"Bukannya laki-laki itu lupa menaruh kuncinya dimana?. " Batin Alisa, mulai curiga jika yang di katakan Ratih benar, bahwa tuan Cipto sebenarnya hanya ingin menguji Alisa. Makanya, laki-laki itu berpura-pura lupa ingatan.


"Ah tidak mungkin, jangan suudzon Alisa, tidak baik. "Alisa menepis segala pikiran buruk itu.

__ADS_1


Alisa kemudian menggeser pot bunga yang tuan Cipto tunjuk dan benar saja kunci kamar laki-laki itu ada di bawah pot bunga.


Bersambung.. .


__ADS_2