
Mereka berdua mengaitkan jari kelingking dan berjanji kejadian tadi tidak akan di bahas lebih lanjut lagi.
###
Keesokan harinya.
Agus terlihat sudah duduk di kursi meja makan pagi ini dengan Ratih yang sedang menyiapkan sarapan pagi di atas meja.
"Bersikap baiklah pada Alisa ada ataupun tidak ada orang di rumah ini karena dia adalah istri dari ayahku jangan memperlakukannya secara tidak sopan. " Tegur Andika saat mendapati Ratih sudah selesai dengan aktivitasnya dan ingin kembali ke dapur.
Ratih yang mendengar hal itupun seketika menghentikan langkahnya dan langsung berjongkok di hadapan Agus.
Agus sontak berdiri dan melangkah mundur menghindari tubuh Ratih yang saat ini tengah bertekuk lutut di kakinya.
"Maaf tuan, tadi malam saya benar-benar tidak bermaksud membuat nyonya Alisa menjadi tidak nyaman. " Ujar Ratih dengan nada memelas.
Agus mengernyitkan kedua alisnya, melihat Ratih yang terlalu berlebihan menanggapi tegurannya.
Walaupun sebenarnya Agus dan Alisa sudah berjanji untuk tidak mempermasalahkan masalah Ratih yang memperlakukan Alisa semena-mena tetap saja Agus merasa harus menegur pembantunya itu.
"Berdirilah, jangan seperti itu!. " Perintah Andika.
"Maaf tuan. " Balas Ratih mencoba berdiri namun tubuhnya nampak tidak seimbang beruntung Agus segera menangkapnya.
Hal itu ternyata di saksikan oleh Alisa dan Tuan Cipto yang baru saja turun dari lantai atas.
__ADS_1
"Ada apa ini?. " Pekik tuan Cipto.
Agus buru-buru melepaskan pegangan tangannya pada tubuh Ratih, sementara Ratih nampak salah tingkah dan lekas menjauhi tubuh Andika.
"Ah maaf tuan, tadi saya hampir jatuh, tuan Agus mencoba membantu saya tadi. " Ujar Ratih menjelaskan situasinya.
Tuan Cipto kemudian memandangi wajah Agus, meminta penjelasan apakah yang di katakan oleh Ratih benar atau tidak.
"Iya ayah, benar yang di katakan mbak Ratih. " Timpal Agus tatapannya beralih pada wajah Alisa yang nampak menaruh curiga padanya.
"Oh ya sudah ayo kita sarapan bersama-sama. " Ujar tuan Cipto kemudian.
Alisa segera mendorong kursi roda suaminya itu mendekati meja makan, sedangkan Agus menatap pergerakan Ratih yang kini telah masuk ke dapur.
Sesaat kemudian Agus sudah kembali duduk di kursinya, sementara tuan Cipto yang duduk di atas kursi rodanya di bantul oleh Alisa menyendokkan makanan pada piring laki-laki itu.
Suasa di meja makan itu menjadi hening, hanya terdengar suara sendok Agus yang beradu di atas piringnya.
"Heh gadis muda jangan coba-coba menyentuh bajuku. " Gertak tuan Cipto pada Alea yang terlihat mencoba merapihkan kancing baju tuan Cipto yang terlepas.
Alisa sontak menarik kembali tangannya dengan canggung. Tuan Cipto kemudian memerintahkan Alisa untuk mengambil kursi yang lain sebagai tempat duduknya.
"Ambil kursi yang lain jangan duduk di kursi meja makan ini nanti kursinya kotor, cuci tanganmu baik-baik sebelum memegang sendok itu!. " Tuan Cipto terus-terussan memberikan perintah pada Alisa.
Agus hanya bisa menghela nafasnya melihat hal itu, kasian sekaligus tidak tega.
__ADS_1
Setelah melakukan semua hal yang tuan Cipto perintahkan kini Alisa duduk di kursi plastik yang baru saja di ambilnya dari dapur, gadis itu duduk di samping tuan Cipto dan kembali menyuapkan makanan pada laki-laki itu.
"Kau beruntung karena bisa bekerja di rumah mewah ini jika tidak, mungkin kau akan hidup menjadi gelandangan di jalanan, orang tuamu yang miskin itu tidak bisa melunasi hutang-hutangnya, kasian sekali kau gadis muda. " Oceh tuan Cipto pada Alisa.
Gadis itu menanggapinya dengan tersenyum canggung, Agus tahu pasti perasaan Alisa sakit mendengarnya namun gadis itu tidak berani membantah. Agus jadi semakin merasa kasihan Alisa. Tuan Cipto sama sekali tidak ingat jika gadis muda yang sedang menyuapinya adalah istri mudanya sendiri.
Niat Agus untuk segera membebaskan Alisa semakin bulat.
"Aku akan segera menemukan surat perjanjian pernikahanmu dengan ayahku, bersabarlah sebentar lagi Alisa. " Batin Agus, menatap nanar pada gadis itu.
"Ayah bersikaplah lebih baik pada Alisa. " Ujar Agus tidak tahan lagi untuk mengeluarkan kata-katanya.
Tuan Cipto yang mendengar hal itu sontak menghentikan aktivitas mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Kenapa? Kamu suka pada gadis muda ini?. " Pekik tuan Cipto, sinis.
Agus kembali menghela nafasnya, emosi tuan Cipto masih seperti dulu todak bisa di tebak. Kadang bersikap sangat baik dan lembut akan tetapi sedetik kemudian laki-laki itu bisa menjadi orang yang sangat pemarah.
"Ayah jangan bicara sembarangan, makanlah nanti dokter akan datang untuk melihat perkembangan kesehatan ayah sekaligus hari ini ayah akan menjalani terapi penyembuhan agar bisa kembali berjalan. " Oceh Agus mengalihkan pembicaraan.
"Ahahahaa, oh iya baiklah Agus, ayah akan menuruti ucapanmu asalkan kamu mengelola bisnis ayah dengan baik. " Balas laki-laki itu, tertawanya terdengar renyah.
Mata Alisa dan Agus saling bertatapan untuk sesaat, seolah-olah mereka sedangbsaling menguatkan karena merasakan beban yang sama-sama berat.
Bersambung...
__ADS_1