
Agus masih belum benar-benar iklas menerima semua kenyataan.
###
Alisa memberikan tuan Cipto makanan yang baru dan akhirnya kali ini laki-laki itu tidak melemparkan oiringnya dan memakan makanannya dengan lahap. Semua itu tidak lepas dari bantuan Agus.
Kali ini Alisa di temani Agus mengantarkan makanan baru untuk tuan Cipto. Agus menemani ayahnya makan dan duduk berdampingan di atas sofa sementara Alisa berdiri di depan pintu, menunggu intruksi.
Sebenarnya Agus sudah menyuruhnya untuk ikut duduk namun gadis itu sungkan.
"Kenyang, ayah sudah kenyang. " Ujar tuan Cipto, setelah menghabiskan makanannya.
"Sudah kenyang? Kalau begitu Agus akan membawa piring-oiring ini tirinnke bawah. " Balas Agus sembari mengambil piring-piring yang telah kosong di atas meja.
"Jangan lakukan itu, biarkan saja pembantu baru yang melakukannya!. " Pekik tuan Cipto, Agus seketika menghentikan aktivitasnya.
"Bi Ratih? Dia lagi pulang kampung yah, besok baru balik kesini, di rumah ini nggak ada pembantu jadi biarin Agus aja yang beresin. " Ujar Agus.
Tuan Cipto menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tangannya terangkat dan menunjukkan ke arah Alisa.
"Gadis itu, si pembantu baru! Suruh dia membersihkan ini, peraturan di rumah ini semua urusan rumah tangga di urus oleh pembantu. " Peki tuan Cipto.
"Ayah di bukan pembantu.. " Balas Agus, memandang iba pada Alisa yang nampak salah tingkah.
__ADS_1
"Dia pembantu baru di rumah ini Agus! Hei gadis muda cepat bersihkan piring-piring ini jangan membiarkan majikanmu di rumah ini yang melakukannya, kurasa bi Kasih tidak mendidiknya dengan baik!. " Omel tuan Cipto.
Agus nampak tidak suka dengan perlakuan ayahnya pada Alisa.
"Ayah, dia Alisa... "
Belum sempat Agus menyelesaikan ucapannya Alisa segera memotong.
"Ah iya tuan, maafkan saya yang masih baru di rumah ini, kalau begitu permisi tuan biarkan saya mengangkat piring-piring kotor ini ke bawah, permisi... " Ujar Alisa sembari mengangkat piring-piring kotor di meja ke atas nampan, sesaat kemauan Alisa beranjak keluar dari dalam kamar itu.
Agus yang tidak tega segera ikut beranjak dari tempat duduknya namu tuan Cipto segera menahan tangannya.
"Agus, ada yang ingin ayah katakan pada mu. " Ujar tuan Cipto nada bicaranya terdengar serius.
"Ada apa ayah?. "
"Begini, karena kondisi ayah saat ini tidak memungkinkan untuk mengurus bisnis ayah di pasar, bagaimana kamu untuk sementara kamu menggantikan posisi ayah untuk mengurusnya. " Ujar tuan Cipto, to the point.
Akan tetapi, sekali lagi Agus menolak.
"Ayah, Agus udah bilang berkali-kali kalau Agus nggak mau jalanin bisnis kotor ayah itu, Agus cuman mau hidup yang tenang. " Balas Agusxengan nada suara yang sedikit tegas sontak membuat tuan Cipto memegangi dadanya.
Tuan Cipto mengernyit kesakitan, melihat hal itu Agus panik.
__ADS_1
"Ada apa ayah?. "
"Dadahh ayah sakithh... " Balas tuan Cipto sesak nafas.
"Ah obat, ayah belum minum obat.. . Tunggu Agus ambilkan obatnya. " Pekik Agus yang langsung mengambil obat di samping televisi dan meminumkan nya pada tuan Cipto.
"Huh hah..."
Tuan Cipto nampak terengah-engaj, beruntung obat jantung tersebut bereaksi dengan cepat dan membuat tuan Cipto bisa kembali bernafas lega.
"Aduh jantung ayah sudah tidak kuat lagi, bisa saja ayah mati tiba-tiba Agus, kamu harus menjalankan bisnis ayah itu." Perintah tuan Cipto yang nampaknya kali ini Agus tidak berani menolaknya.
Agus khawatir kondisi ayahnya akan semakin memburuk jika dirinya terus-terussan menolak dan membantah.
Pada akhirnya dengan satu tarikan nafas yang berat, Agus mengangguk.
"Baiklah... "Ujar Agus, nada suaranya terdengar terpaksa.
Akan tetapi, bagi tuan Cipto hal tersebut adalah salah satu hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
Terbukti tuan Cipto tersenyum lebar saat mendengar Agus akhirnya setuju untuk menjalankan bisnisnya.
Bersambung...
__ADS_1