
"Iya, ibu kamu bilang di jemput sama suamimu yang kaya itu, saya juga sempat liat mereka di jemput mobil hitam gitu tapi saya nggak sempat nanya juga mereka mau pindah kemana. " Jelas laki-laki itu lagi
###
"Suami saya?. " Gumam Alisa menatap ke arah Agus yang kini nampak ikut heran mendengar penjelasan lali-laki tersebut.
Laki-laki itu kemudian mengangguk.
"Iya, suami kamu tapi kayaknya yang datang buat ngejemput orang tuamu orang-orang suruhannya, soalnya saya liat mereka pake baju hitam-hitam gitu. " Jelas laki-laki itu lagi.
"Ya udah kalau gitu kami permisi dulu, Terima kasih untuk informasinya pak
" Ujar Agus kemudian.
"Iya sama-sama. " Jawab laki-lami itu.
Sementara Alisa hanya bisa terdiam dan pasrah saat Agus menunttunnya kembali masuk ke dalam mobil.
"Mari pak, saya permisi. " Pamit Agus sekali lagi.
"Hati-hati."
Agus ikut masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah gubuk Alisa yang sudah tidak berpenghuni, entah pergi kemana ayah dan ibunya.
Alisa menatap kosong ke kaca mobil, Agus berinisiatif menurunkan kaca mobil tersebut. Berharap dengan begitu Alisa bisa menghirup udara dan membuat perasaan gadis itu sedikit tenang.
__ADS_1
Perjalanan kali ini terasa sangat sepi, tidak seperti sebelumnya saat wajah Alisa begitu ceria dan antusias ingin bertemu keluarganya.
Agus hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
"Alisa... " Panggil Agus kemudian.
"Hmmm." Gadis itu hanya bergumam.
"Hmmm apa kamu tidak mau bertanya langsung pada ayahku saja tentang keberadaan orang tuamu sekarang?. " Tanya Agus.
Alisa menatap ke arah Agus dengan raut wajahnya yang lesu.
"Tuan Cipto?. "
Agus mengangguk.
"Tapi mas kan tau, kondisi tuan Cipto sekarang lagi nggak baik dan ingatannya belum benar-benar pulih mas, tuan Cipto juga pasti tidak ingat pernah menyuruh para oremannya menjemput orang tuaku. " Tutur Alisa, hampir merasa putus asa dalam hati ia sangat berharap tuan Cipto bisa segera sembuh disisi lain hatinya juga gelisah, niatnya untuk kabur setelah Agus berhasil mendapatkan surat kontrak pernikahannya dengan tuan Cipto sepertinya akan kembali terhalang oleh orang tuanya sendiri.
"Ya Allah, kenapa cobaanmu datang silih berganti seperti ini?. " Batin Alea, mengadu.
Agus juga tidak bisa melakukan banyak hal untuk saat ini, pikirannya kacau. Belum lagi ia sempat membuat kegaduhan dan menuduh ayahnya telah berbohong.
"Aku masih tidak percaya ayah lupa ingatan, ini pasti jebakan untuk Alisa agar gadis itu tidak bisa lepas dari jeratannya. " Batin Agus.
Dalam diam itu Alisa kembali teringat permintaannya yang akan di kabulkan tuan Cipto sebelum laki-lami itu terkena serangan jantung.
__ADS_1
Alisa masih ingat beruk hari itu ia meminta agar tuan Cipto mempertrmukan Alisa dengan orang tuanya dan tuan Cipto berjanji akan membawa orang tuanya tersebut untuk tinggal selama beberapa hari di kediaman tuan Cipto.
Seketika Alisa memiliki harapan baru untuk menemukan orang tuanya.
"Mas Agus... " Panggil Alisa.
"Iya? Ada apa Alisa? Kamu butuh sesuatu?. "Tanya laki-laki itu penuh perhatian.
Alisa menggeleng.
"Alisa ingat sesuatu, tuan Cipto pernah janji bakalan ketemuin Alisa sama ayah dan ibu sebelum dia sakit, apa mungkin tuan Cipto sebenarnya emang nyuruh preman itu jemput ayah dan ibu buat ketemu sama Alisa? Tapi karena tuan Cipto tiba-tiba sakit dan lupa ingatan, makanya dia jadi lupa dan sekarang ayah dan ibu Alisa nggak tau di kasih tempat tinggal dimana. "Oceh Alisa panjang lebar.
Agus mengernyitkan alisnya.
"Mungkin saja orang tua kamu sekarang lagi di tempat salah satu preman suruhan ayahku itu. " Ujar Agus menimpali.
Alisa juga nampaknya setuju dengan ucapan Agus.
"Gimana kalau mas Agus bantuin Alisa nyari tau siapa preman yang jemput orang tua Akisa hari itu?. " Saran Alisa kemudian.
Agus mengangguk.
"Baiklah Alisa, aku akan membantumu sebisa mungkin. " Balas laki-laki itu.
Bersambung...
__ADS_1