
Alisa tanpa berkata apapun melaksanakan tugasnya dengan baik, perlahan tangannya memijat jidat tuan Cipto dengan sangat lembut namun penuh penekanan di beberapa titik.
###
"Tuan... " Ujar Alisa pelan.
"Hmm."
"Saya ingin mengatakan sesuatu. " Ujar Alisa memberanikan dirinya.
Alisa merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengajak suaminya itu mengobrol.
Alisa pernah membaca sebuah buku tentang tutorial menjalani pernikahan yang harmonis, kuncinya adalah berkomunikasi.
"Hmm, apa Alisa?. " Ujar tuan Cipto pelan, nampaknya laki-laki itu menikmati pijatan tangan Alisa di kepalanya.
Alisa sempat terdiam sebentar, memikirkan kalimat yang tepat untuk dirinya utarakan.
"Hmm Alisa mau minta maaf untuk kejadian beberapa hari yang lalu tuan, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan tuan, seandainya saya tau hal itu akan membuat tuan sangat marah pasti saya tidak akan melakukannya, bolehkah saya bertanya kenapa saya tidak boleh mendekati pintu itu tuan?. " Ujar Alisa panjang lebar.
Tuan Cipto terdengar menghela nafasnya, lalu perlahan kedua tangannya mendekap tubuh Alisa, sehingga wajah tuan Cipto kini terbenam pada perut Alisa, seketika aktivitas pijat memijatnyapun terhenti.
Hening. Alisa mengigit bibir bawahnya, sedikit gelisah dan takut jika pertanyaannya tadi akan membuat tuan Cipto kembali murka.
"Ah maaf kalau Alisa lancang tuan, saya hanya takut jika nanti tidak sengaja melakukan kesalahan yang sama dan membuat tuan marah lagi, Alisa takut di hukum. " Lanjut Alisa, pelan.
"Bukannya kamu waktu itu mencoba untuk kabur?. " Tanya tuan Cipto kemudian.
"Kabur?. " Alisa nampak bingung dengan pernyataan tuan Cipto.
__ADS_1
"Bukankah kamu mendekati pintu tersebut untuk mencoba kabur dari rumah ini? Tidak ada rahasia apa-apa di balik pintu itu, di belakang sana hanya ada sungai, kau bisa saja melarikan diri dengan cara berenang menyebrangi sungai tersebut. " Jelas tuan Cipto.
Alisa langsung mengerti kenapa tuan Cipto sangat marah hari itu, ternyata tuan Cipto menyangka dirinya akan kabur dengan cara berenang.
"Tapi sejujurnya, Alisa tidak bisa berenang tuan. " Ujar Alisa kemudian.
"Benarkah?. " Tuan Cipto seketika terbangun dan menegakkan tubuhnya.
Alisa mengangguk.
"Alisa mendekati pintu itu bukan untuk kabur, tapi penasaran. " Jelas Alisa.
Tuan Cipto mengernyitkan kedua alisnya.
"Penasaran?. "
Alisa kembali mengangguk.
"Hahaha, heh gadis muda sepertimu sepertinya berpikiran terlalu jauh, kau pikir aku ini psikopat?. " Pekik tuan Cipto, tertawa renyah.
Alisa meringis, menyadari kepolosan dan pemikiran absurd nya.
"Maaf tuan. " Lirih Alisa.
Tuna Cipto menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, jadi sepertinya aku yang keliru karna sudah berpikiran negatif padamu, jadi kau ingin imbalan apa?. " Tanya tuan Cipto kemudian.
Alisa kembali di buat heran dengan sikap tuan Cipto yang seketika menjadi ramah dan sangat baik.
__ADS_1
"Eh maksud tuan?. " Alisa tidak mengerti.
"Karena sepertinya aku sudah keliru menyangka kau akan melarikan diri dariku dan menghukummu selama berhari-hari, maka sebagai permintaan maaf, aku akan mengabulkan satu permintaanmu. " Jelas tuan Cipto.
Alisa terpana untuk sesaat.
"Ada apa dengan laki-laki ini. " Batin Alea, merasa sangat heran dengan karakter tuan Cipto yang sering berubah-ubah.
Jika sedang marah, akan terlihat sangat jahat dan beringas, namun jika sedang senang maka sikapnya akan sangat baik.
"Alisa, kenapa diam saja?. " Tanya laki-laki itu lagi.
"Ah tuan, saya sedikit bingung ingin meminta apa pada tuan. " Balas Alisa jujur.
"Minta apa saja, aku akan mengabulkannya, uang? Berlian? Emas? Asalkan bukan rumah, aku tidak ingin memberikanmu rumah dan membuatmu jauh dariku. " Sentak tuan Cipto yang membuat Alisa justru tersipu mendengarnya.
Seandainya mereka adalah pasangan yang saling mencintai, mungkin Alisa bisa saja langsung memeluk suaminya itu karena terlalu senang, namun karena mereka berdua sama sekali tidak saling mencintai, Alisa hanya bisa memalingkan wajahnya. Agar tuan Cipto tidak melihat pipinya yang memerah.
"Jadi, kau mau apa?. " Tanya tuan Cipto lagi tidak sabar.
Alisa kemudian terlihat berpikir untuk beberapa saat. Bayang-bayang wajah ibu dan ayah tirinya seketika membuat Alisa memikirkan mereka.
"Hmmm, saya hanya ingin pergi melihat orang tua saya sebentar, walau hanya beberapa menit tidak masalah tuan. " Ujar Alisa kemudian.
Tuan Cipto kembali mengernyitkan wajahnya.
"Bertemu orang tuamu?. " Tanya tuan Cipto memastikan.
Alisa mengangguk mantap. Sudah seminggu gadis itu berada di rumah tua Cipto dan tidak pernah mendengarkabar orang tuanya. Alisa benar-benar merindukan orang tuanya.
__ADS_1
Kini giliran tuan Cipto yang nampak memikirkan sesuatu, menimbang-nimbang permintaan Alisa.
Bersambung...