
"Baik tuan, tidak apa-apa. " Balas Alisa, hatinya sebenarnya sangat berat namun Alisa hanya bisa pasrah mengikuti ucapan suaminya itu.
###
Tuan Cipto kemudian meninggalkan kamar Alisa, sementara Alisa segera mencari-cari ponselnya yang tadi di taruhnya secara sembarangan di bawah kolong ranjang.
Ponsel Alea yang sudah jadul itu nampak berkedip-kedip menandakan ada panggilan yang masuk.
"Mas Agus?. " Lirih Alisa.
Laki-laki itu sangat kekeh terus-terussan menghubungi Alisa, seketika rasa bimbang itu kembali menimbulkan pro kontra dalam benak gadis itu.
"Angkat tidak ya? Kalau aku angkat aku mesti bilang apa sama mas Agus? Kalau nggak aku angkat pasti dia bakalan nelponin aku terus-terussan, aduh gimana ini. " Gumam Alisa, tidak tau harus melakukan apa.
Di tambah dirinya saat ini tidak memiliki teman untuk di ajak mengobrol dan dimintai pendapat.
Alisa benar-benar berasa dalam posisi dilema.
###
Di tempat lain.
__ADS_1
Agus yang sudah mengetahui jika Alisa, gadis yang di cintainya itu telah menikah dengan orang lain pantas tidak pantas percaya begitu saja.
Sedari tadi ia terus mencoba menghubungi ponsel gadis itu, Agus ingin mendengarnya langsung dari Alisa bukan dari orang lain.
"Angkat dong Alisa, kenapa kau terus-terussan mengabaikan panggilan ku? Apakah cintamu benar-benar sudah tidak tersisa lagi untukku? Apakah kamu benar-benar sudah menikah dengan laki-lami lain?tega sekali kali Alisa. " Batin Andika, kalut.
Selalu berjam-jam berada di depan toko tempat Alisa pernah bekerja itu, Agus akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah ayahnya, tuan Cipto.
Malam juga sudah mulai gelap dan kondisinya yang sedang patah hati tidak memungkinkannya untuk berkendara ke kota sebelah, rumah kakek dan neneknya.
"Alisa, aku akan menunggu kabarmu, sampai aku benar-benar mendengarnya langsung dari mulutmu aku tidak akan percaya pada ucapan orang lain, aku percaya kamu akan menungguku Alisa. " Gumam Agus, sebelum dirinya benar-benar meninggalkan tempat tersebut.
###
Bukan tanpa alasan, mengapa dirinya merasa bimbang. Rumah tersebut menyimpan banyak kenangan dirinya bersama keluarganya yang lengkap bertahun-tahun yang lalu.
Sebelum akhirnya tuan Cipto mengurung nyonya Berlian selama berbulan-bulan di dalam kamarnya dan akhirnya ibunya itu meninggal tanpa siapapun disisinya.
Agus waktu itu tidak terlalu mengerti kenapa ayahnya sampai hati mengurung ibunya tersebut, yang Agus tau waktu itu kondisi kesehatan ibunya menurun sehingga Agus dan kakaknya yang bernama Andra sama sekali tidak di izinkan untuk sekedar melihat keadaan ibunya hingga pada akhirnya ibunya tersebut meninggal dunia.
Tok..
__ADS_1
Tok...
Tok...
Ketukan pada kaca jendela mobil Agus seketika membuat bayangan tentang masa lalunya buyar.
Agus menurunkan kaca mobilnya dan mendapati seorang perempuan yang berusia sekitar 30an menyalanya.
"Selamat malam, mas Agus yah anaknya tuan Cipto?. "
Agus sedikit heran namun ia tidak menunjukkan hal tersebut kepada perempuan itu.
"Iya saya anaknya. " Balas Agus, mengangkat kedua alisnya sembari memperhatikan penampilan perempuan berpakaian ketat itu, Agus seperti pernah melihatnya di suatu tempat tapi tidak tau dimana.
"Saya Ratih ponakannya bi Karsih, dulu waktu nyonya Berlian masih hidup saya pernah bantuin nyonya ngurusin mas Agus, tapi cuman beberapa bulan doang, mungkin mas Agusnya lupa yah, hehehe. " Jelas perempuan bernama Ratih itu.
Agus segera mengangguk dan mengingat perempuan itu, rupanya Ratih adalah orang yang pernah membantu ibunya dalam mengurus segala keperluannya saat bersekolah dulu, namun perempuan itu hanya beberapa bulan saja.
Setelah nyonya Berlian meninggal Agus di urus oleh nenek dari pihak ayahnya, sementara Andra masih bertahan di rumah tersebut bersama tuan Cipto.
"Ayo mas Agus masuk ke dalam rumah, saya tadi di suruh sama tuan buat nyambut mas Agus disini. " Ujar Ratih lagi.
__ADS_1
Agus pun tanpa pikir panjang turun dari mobilnya dan mencoba menguatkan hatinya untuk melangkah masuk ke dalam rumah yang di penuhi dengan kenangan masa lalunya itu.
Bersambung...