Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)

Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)
Bagian 45 : Kamar Tuan Cipto


__ADS_3

Alisa kemudian menggeser pot bunga yang tuan Cipto tunjuk dan benar saja kunci kamar laki-laki itu ada di bawah pot bunga.


###


Klek


Suara pintu terbuka.


Alangkah terkejutnya Alisa sesaat setelah gadis itu membuka pintu kamar tuan Cipto.


Alisa seketika tertegun melihat isi di dalamnya yang menampilkan banyak sekali poto-poto nyonya Berlian terpajang mengelilingi kamar tersebut.


"Nyonya Berlian?. " Gumam Alisa, pelan.


Gadis itu terpaku di tempatnya, otaknya kecilnya tidak bisa mencerna apa yang sedang ada di hadapannya saat ini.


"Kenapa tuan Cipto masih menyimpan poto-poto istrinya, apa laki-laki itu sebenarnya masih tidak bisa melupakan istrinya ayang telah meninggal itu?. " Batin Alisa kembali bertanya-tanya dan merasa aneh dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


"Hei gadis muda apa yang kau lihat cepat dorong kursi roda ku, aku ingin berbaring. " Perintah tuan Cipto yang seketika membuat Alisa tersadar dari lamunannya.


"Eh maaf tuan. "


Alisa segera beranjak mendorong tuan Cipto memasuki kamarnya, nampak jelas raut wajah Alisa semakin terkejut saat tubuhnya lebih dalam memasuki kamar tersebut.


"Apakah ini yang di sebut sebagai obsesi yang berlebihan?. " Batin Alisa, bulu kuduknya meremang bukan tanpa alasan orang yang ada di poto tersebut sudah meninggal Alea merasa poto-poto itu sedang memperhatikannya sekarang.


Alisa memandangi sekeliling kamar itu dengan perasaan takjub mengagumi kecantikan nyonya Berlian, akan tetapi di sisi lain ia juga merasa heran kenapa tuan Cipto menaruh poto-poto tersebut memenuhi setiap sudut dinding kamarnya.


"Hei kenapa melamun, cepat bantu aku berpindah ke atas ranjang. " Suara tuan Cipto kembali membuat lamunan Alisa buyar, dengan cepat gadis itu membantu tubuh tuan Cipto berpindah dari kursi rodanya ke atas ranjang.

__ADS_1


Raut wajah tuan Cipto nampak datar.


"Keluarlah aku ingin sendiri. " Usir laki-laki itu.


Akan tetapi Alisa tidak segera beranjak, Alisa ingin menemani tuan Cipto di kamar itu, ia takut jika sewaktu-waktu suaminya itu memerlukan bantuan.


"Tapi, tuan... "


"Keluarlah! Aku ingin sendiri, pergi!."Bentak tuan Cipto yang kali ini membuat Alisa langsung keluar dari kamar itu secepat mungkin.


"Eh Tunggu... " Pekik tuan Cipto sebelum Alisa menutup pintu kamarnya.


Alisa yang nampak takut itu sontak menghentikan langkahnya, lalu membalik tubuhnya ke arah tuan Cipto.


"I-iya tuan apa ada sesuatu yang tuan butuhkan lagi?. " Tanya Alisa, memastikan.


"Jika nanti anakku pulang, pergilah dan temani dia ke bandara untuk menjemput alat-alat untuk melakukan terapi itu. "Ujar tuan Cipto kemudian.


Alisa semakin keheranan.


"Dari mana tuan Cipto tau jika alat-alat nya akan datang hari ini?. " Batin Alisa.


Alisa sama sekali belum memberitahu tuan Cipto tentang alat-alat terapi yang akan datang siang nanti karena yang berbicara dengan dokter melalui telepon adalah Alisa, lalu dari mana tuan Cipto tau?.


Tuan Cipto yang melihat raut wajah Alisa yang bingungpun melanjutkan ucapannya.


"Aku juga di hubungi oleh si dokter. " Jelas tuan Cipto menjawab kebingungan Alisa.


"Ah begitu... " Gumam Alisa.

__ADS_1


Alisa kemudian mengangguk pertanda ia mengerti dan segera minta izin pada tuan Cipto untuk meninggalkan kamar laki-laki itu.


"Kalau begitu, saya permisi tuan. " Ujar Alisa.


Tuan Cipto mengibaskan tangannya pertanda ia memerintahkan Alisa untuk menutup pintu kamarnya.


Klek


Pintu tertutup.


"Huuuffffhhh." Alisa menghembuskan nafasnya dengan berat.


Entah mengapa akhir-akhir ini setelah tuan Cipto mengalami kelumpuhan di kakinya, Alisa selalu merasa tegang berada di dekat laki-laki itu.


"Semangat isa, kamu pasti bisa melalui ini. " Gumam gadis itu, menguatkan dirinya sendiri.


Alisa kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Pikirannya kembali di penuhi pertanyaan-perranyaan.


"Kenapa tuan Cipto mengoleksi poto-poto nyonya Berlian di dalam kamarnya?. " Gumam Alisa mulai penasaran.


Sambil mengerutkan kedua keningnya Alisa mulai menerka-nerka jawabannya sendiri.


"Ah nyonya Berlian kan istrinya, meskipun sudah meninggal tetap saja tuan Cipto pasti menaruh rasa padanya, kenapa aku harus heran? Bukannya wajar seorang suami mengoleksi poto-poto istrinya sendiri?. " Oceh Alisa, berbicara dengan dirinya sendiri.


"Ah terserah lah, kepalaku pusing... " Gumam gadis itu lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2