Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)

Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)
Bagian 31 : Pingsan


__ADS_3

Sementara mata Alisa mulai berkaca-kaca.


###


"Aku tanya sekali lagi kenapa Alisa bisa ada disini?. " Kali ini Agus mengecam ayahnya, tuan Cipto yang nampak sangat shock mengetahui jika gadis yang ia nikahi adalah gadis yang anak laki-laki nya itu ingin nikahi.


"A-ayah... "Tuan Cipto tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


" Jangan bilang ayah juga memaksa Alisa seperti perempuan-perempuan sebelumnya yang ayah bawa ke rumah ini?. " Tanya Agus, nada bicara meninggi.


Tuan Cipto pada akhirnya mengangguk pasrah, percuma saja membuat alasan tidak mungkin Agus akan percaya jika tuan Cipto mengatakan gadis itu menikah dengannya atas dasar cinta.


Pada kenyataannya tuan Cipto memang memaksa Alisa untuk menikah dengannya.


"Maafkan ayah, Agus. " Ujar tuan Cipto kemudian dengan nada suaranya yang bergetar.


"Maaf? Ayah sudah merebut kasih sayang ibu pada aku dan kak Andra sampai ibu meninggalkan ayah tidak pernah membiarkan kami bertemu dengannya, ayah juga bahkan sudah membunuh kak Andra satu-satunya orang yang selama ini selalu ada untuk Agus dan sekarang ayah juga merebut gadis yang Agus cintai... "Pekik Agus meluapkan kekesalan di dalam dadanya.


" Ayah tidak pernah bermaksud seperti itu Agus! Ibumu dulu sakit dan akan menularkan penyakitnya jika kalian kubiarkan mendekatinhs, sementara Andra meninggal karena kecelakaan bukan karena Ayah, ayah sama sekali tidak tahu jika Alisa adalah gadis yang ingin kamu nikahi, seandainya ayah tahu, ayah tidak mungkin..."

__ADS_1


Belum sempat tuan Cipto menghabiskan kata-katanya Agus segera memotong.


"Ayah memang tidak pernah tahu apa-apa tentangku, lebih baik aku pergi saja dari rumah ini, anggap saja aku sudah mati aku juga akan menganggap kau sudah mati, tidak sudi lagi aku menginjakkan kakiku ke rumah ini untuk selama-lamanya. " Pekik Agus penuh kemarahan.


"Mas Agus... " Gumam Alisa mencoba menengahi kedua laki-laki itu.


"Dan kamu Alisa, aku mengenalmu sebagai gadis yang kuat dan sederhana namun kenyataannya kamu tidak lebih dari pada seorang gadis lainnya yang pernah ku kenal, aku bahkan masih berharap semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi, Alisa! Teganya kau mempermainkan perasaanku. " Kali ini Agus kembali mengecam Alisa.


"Mas Agus, bukan seperti itu, Alisa... " Alisa ingin mencoba menjelaskan situasinya namun sesuatu yang buruk terjadi.


Tiba-tiba saja tuan Cipto ambruk ke lantai dan tidak sadarkan diri.


Alisa dan Agus yang melihat kejadian itupun seketika terkejut dan spontan mendekati tubuh tuan Cipto.


"Ayah?. " Agus juga melakukan hal yang sama, mengguncang tubuh tuan Cipto sekuat tenaga, namun laki-laki itu tetap tidak sadarkan diri.


"Aduh mas mending kita hubungi rumah sakit smaja dulu. "Saran Alisa, panik.


" Ya udah cepetan hubungi rumah sakit. " Timpal Agus, ikut panik.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Ratih yang berada di lantai bawah dan sedari tadi mendengarkan keributan di lantai atas pun ikut naik dan melihat tuan Cipto tergeletak tidak sadarkan diri.


"Ada apa ini?. " Pekik Ratih.


"Tuan Pingsan, kita harus segera bawa dia ke rumah sakit. " Balas Alisa.


"Ya Tuhan, kenapa bisa gini? Udah telpon rumah sakit?. " Tanya Ratih lagi, ikut mendekati tubuh tian Cipto.


Agus dan Alisa menggelengkan kepalanya bersama aan.


"Aku nggak ada kontaknya. " Ujar Alisa.


"Yaudah kalau gitu kita gotong bareng-bareng aja, ke bawah, ayo. " Pekik Ratih yang langsung di setujui oleh Agus dan Alisa.


Tubuh tuan Cipto yang lebih besar dari ketiganya membuat mereka sedikit kesulitan saat menuruni anak tangga, namun meskipun sulit pada akhirnya tian Cipto bisa di bawa ke rumah sakit dengan cepat dan di berikan pertolongan pertama.


Ketiganya kini duduk di depan ruangan UGD, menunggu perkembangan keadaan tuan Cipto.


Hampir setengah jam berlalu, akhirnya dokter yang menangani tian Cipto keluar.

__ADS_1


Alisa dan Agus serentak berdiri dan langsung menghampiri dokter tersebut, sementara Ratih duduk diam di tempatnya, namun raut wajahnya juga menunjukkan kekhawatiran.


Bersambung...


__ADS_2