Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)

Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)
Bagian 22 : Ratih Yang Dengki


__ADS_3

Kini giliran tuan Cipto yang nampak seperti sedang memikirkan sesuatu, menimbang-nimbang permintaan Alisa.


###


"Baiklah kalau begitu, akan tetapi orang tuamu yang akan datang kesini selama beberapa hari. " Ujar tuan Cipto, menyetujui permintaan Alisa.


Alisa seketika melongo, seakan tidak percaya tuan Cipto akan semudah itu mengabulkan keinginannya.


"Sungguh tuan? Boleh?. " Alisa nampak sangat antusias.


Tuan Cipto mengangguk.


"Akan tetapi, bukan kamu yang akan pergi menemui mereka, tapi mereka yang akan datang kesini, aku tidak ingin mengambil resiko dan membiarkanmu berkeliaran di luar sana, aku belum percaya 100 persen padamu, bisa saja kau mencoba melarikan diri saat aku lengah. " Balas tuan Cipto.


Alisa nampak tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, yang terpenting dirinya bisa segera bertemu dengan ibunya, di manapun tempatnya Alisa tidak peduli.


"Terserah tuan saja, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk tuan karena sudah mengabulkan keinginanki, terima kasih banyak tuan. " Seru Alisa, senang sekaligus bersemangat karena orang tuanya akan di berikan izin untuk tinggal beberapa hari di rumah mewah tersebut.


"Hanya 2 hari, tidak boleh lebih. " Ujar tuan Cipto lagi.


Alisa kembali mengangguk.


"Baik tuan, tidak masalah asal aku bisa melihat mereka, sekali lagi terima kasih banyak tuan. " Pekik Alisa, senang.


Diam-diam tuan Cipto tersenyum memperhatikan istri mudanya itu nampak bahagia.

__ADS_1


Dalam hati tuan Cipto sebenarnya merasa aneh sekaligus heran karena bukannya memilih uang, emas ataupun berlian, Alisa malah lebih memilih di pertemukan dengan orang tua yang telah menjual gadis itu kepada dirinya, tuan Cipto jadi merasa sedikit iba pada Alisa.


###


Sementara dari kejauhan, Ratih diam-diam memperhatikan gerak gerik tuan Cipto dan Alisa, tatapan matanya seolah-olah tidak suka melihat kedekatan dua orang tersebut.


"Sialan! gadis muda itu benar-benar seperti pelacur kecil, berani sekali dia menggoda tuan Cipto, pasti gadis itu hanya ingin uangnya saja, lihat saja usia mereka bahkan terlihat sangat jauh, tidak ada gadis seusia Alisa yang akan menikahi laki-laki yang seusia dengan orang tuanya jika bukan karena uang. " Gumam Ratih, merasa dengki melihat tuan Cipto nampak tersenyum senang dengan setiap kata yang keluar dari mulut Alisa.


"Bi Karsih.. Bi Karsih... " sesaat kemudian tuan Cipto tiba-tiba saja meneriakkan nama pembantu rumah tangganya yang saat ini sedang pulang kampung itu.


Ratih dengan tergesa-gesa menghampiri tuan Cipto dan Alisa yang saat ini masih berada di ruang tengah.


"Iya tuan, ada apa memanggil bi Karsih?. " Tanya Ratih.


Tua Cipto mengernyitkan wajahnya.


"Iya tuan, saya Ratih ponakannya bi Karsih yang tadi pagi pulang kampung. " Jelas Ratih.


Tuan Cipto mengangguk.


"Oh iya, perkenalkan ini istri ku kau sepertinya juga sudah melihat diakan? Alisa ini Ratih yang akan membantu mengurus rumah dan mengurus kita selama beberapa minggu ke depan. " Tutur tuan Cipto kepada Alisa.


Alisa mengangguk mengerti.


"Saya sudah berkenalan dengan mbak Ratih sejak dari tadi tuan. " Balas Alisa.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, Ratih ini sudah pernah beberapa kali menggantikan bi Karsih disini, jadi dia juga sudah paham seluk bekuk di rumah ini dan kalau kau butuh sesuatu bilang saja pada Ratih ini yah. "


Alisa kembali mengangguk, sedangkan Ratih nampak panik raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


Sepertinya perempuan itu takut jika Alisa melaporkan perlakuan tidak menyenangkannya tadi.


"Ratih, kamu harus memperlakukan istri saya sebagaimana bi Karsih memperlakukan nyonya dan tuan rumah di rumah ini, jangan bersikap tidak sopan padanya apalagi membiarkannya melakukan sesuatu yang berat seorang diri, kalau sampai aku melihat sesuatu yang kurang menyenangkan, kau akan langsung ku tendang keluar dari rumah ini. " Tuan Cipto memberikan peringatan sekaligus himbauan agar Ratih memperlakukan Alisa dengan baik.


"Baik tuan. " Balas Ratih, patuh dan nampak menurut sangat berbeda jika tuan Cipto sedang tidak berada di dalam rumah.


"Kalau begitu kau pergi bersihkan kamar yang berada tepat di seberang kamarku, karena mertuaku akan datang besok jangan sampai ada debu yang menempel dan pastikan makanan selalu tersedia. " Perintah tuan Cipto.


Ratih kembali mengangguk patuh.


"Alisa, kau sudah makan?. " Tanya tuan Cipto, beralih pada Alisa lagi.


"Sudah tuan, aku tadi makan di dapur. " Jawaban Alisa seketika membuat Ratih tidak nyaman dan gelisah.


"Makan di dapur?. " Tuan Cipto mengernyitkan alisnya, lalu pandangannya beralih pada Ratih yang kini menundukkan kepalanya semakin dalam.


Tuan Cipto memelototi pembantu baru itu.


Alisa yang menyadari situasi yang tidak nyaman tersebut mencoba membuat alasan.


"Tadi saya mau tambah nasi, karna merasa sangat kelaparan dan melihat Ratih sedang mengerjakan hal lain jadi saya turun dan sekalian membawa makanan saya dari atas tuan. " Jelas Alisa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2