
Alisa kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
###
Agus mengernyitkan kedua alisnya melihat penolakan Alisa. Padahal ia berharap Alisa bisa hidup bahagia meskipun pada akhirnya mereka tidak akan bisa bersama.
"Aku nggak bisa tinggalin tuan Cipto dalam keadaan seperti itu, biar gimanapun dia udah jadi suamiku mas, aku bakalan jadi orang yang sangat berdosa kalau ninggalin dia dalam keadaan sekarat, kalaupun pada akhirnya nanti kami berpisah aku pengen pisahnya secara baik-baik dan bukannya lari. "Ujar Alisa yang seketika membuat perasaan Agus kecewa.
"Alisa, kesempatan ini tidak akan datang 2 kali, kalau ayahku udah kembali ke rumah artinya kamu juga tidak akan punya kesempatan lagi untuk kabur, para preman bayaran ayahku pasti akan berjaga di sekitar rumah untuk memastikannya tetap aman, saingan bisnisnya pasti akan mencari celah untuk memastikan ayahku tetap berada di dalam rumah, situasimu juga bisa terancam Alisa. " Oceh Agus, mencoba meyakinkan Alisa agar gadis itu pergi meninggalkan tuan Cipto yang di diagnosa akan mengalami kelumpuhan itu.
Otomatis bisnis yang di bangunnya tidak akan berjalan mulus seperti biasanya. Agus khawatir hal itu akan membuat Alisa juga terkena dampaknya.
Alisa kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah berjanji pada tuan Cipto akan selalu disisinya dan merawatnya, maaf mas... " Balas Alisa, tetap kekeh pada pendiriannya.
Agus nampak prustasi, sementara Alisa beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Aku mau kembali ke ruang perawatan tuan Cipto, aku harap kamu mau membantuku untuk merawatnya dan.... " Alisa tidak enak hati untuk melanjutkan ucapannya.
Alisa ingin mengatakan pada Agus untuk melupakan semua masa-masa indah bersamanya dan fokus ke masa depan mereka masing-masing.
"Dan apa Alisa?. " Cecar Agus.
"Aku sudah menjadi ibu tirimu mas, ku harap kamu akan mengerti dengan keputusan yang ku ambil ini, aku tidak mungkin meninggalkan ayahmu sementara kondisinya sedang tidak baik-baik saja. " Tutur gadis ituitu, nerbalik meninggalkan Agus.
Agus mencoba menyaring setiap kata yang keluar dari mulut Alisa, hingga pada akhir Agus ikut beranjak dari tempat duduknya dan menahan Alisa.
"Alisa, apa kamu sudah tidak memiliki perasaan lagi untukku? . " Cecar Agus, tiba-tiba.
"Maaf mas, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas perasaan kita, yang terpenting saat ini adalah kesehatan tuan Cipto, ayah mas Agus. " Balas Alisa, kali ini gadis itu berlalu dengan cepat meninggalkan Agus yang terpaku membisu di tempatnya.
"Aaarrrghhh kenapa ini bisa terjadi!. "Pekik Agus menjambak rambutnya sendiri, prustasi.
###
__ADS_1
Ruang perawatan tuan Cipto.
Alisa masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah terhuyung-huyung tubuhnya lemas, di pandangi nya wajah tuan Cipto yang sedang dalam keadaan tertidur sangat pulas itu.
" Tuan, apa yang harus saya lakukan.... "Gumam Alisa, pelan.
Di sela-sela kembimbangannya itu, Alisa kembali mengingat ucapan Agus tadi yang menyirihnya untuk melarikan diri dan meninggalkan tuan Cipto, kesempatan yang Alisa miliki saat ini sedang terbuka sangat lebar.
Gadis itu bisa saja pergi dan melarikan diri sejauh mungkin dari jangakauan tuan Cipto, tapi bagaimana dengan orang tuanya?.
Alisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku harus bertahan, kasian ibu kalau aku sampai kabur mereka pasti akan jadi bulan-bulanan orang-orang tuan Cipto, lagi pula aku sudah menikah dan tuan Cipto sekarang sudah menjadi urusanku. " Batin Alisa.
"Ya Allah aku harus bagaimana?. " Gumam Alisa.
Suasana di dalam ruang perawatan itu terasa sangat hening. Tentu saja karena di dalamnya hanya ada Alisa yang asyik melamun dan tuan Cipto yang tengah tertidur.
__ADS_1
Semantara Agus masih duduk di bangku taman sambil memperhatikan langit malam.
Bersambung...