Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)

Istri Muda Tuan Cipto (Pelunas Hutang)
Bagian 53 : Agus Cemburu


__ADS_3

Perempuan itu terlihat sangat tidak iklas dalam melakukan pekerjaannya.


###


Terapi hari pertama tuan Cipto untuk peNyembuhan kakinya yang lumpuh hari ini berjalan dengan lancar.


"Kalau begitu saya permisi dulu yah. " Pamit dokter sekaligus terapis yang membantu tuan Cipto hari ini.


Alisa mengantarkannya sampai ke depan pintu utama.


"Iya dokter, terima kasih. " Balas Alisa sambil tersenyum.


Dokter itupun berlalu pergi menggunakan mobilnya, sedangkan Alea kembali masuk dan naik ke lantai atas.


Tidak lama kemudian gadis itu sudah duduk di samping tuan Cipto yang terlihat kelelahan tengah terduduk lesu di atas kursi sembari menatap keluar jendela yang terbuka setelah tadi berkali-kali mencoba untuk melangkahkan kakinya.


"Tuan Cipto... Apakah tuan butuh sesuatu?. " Tanya Alisa dengan ramah.


Tuan Cipto menggeleng.


"Tidak perlu, aku ingin duduk disini dulu. " Balas laki-laki itu.


"Kalau begitu Alisa akan disini menemani tuan. " Ujar Alisa lagi sembari duduk di samping tuan Cipto.


###


Di tempat lain.


Agus yang kini kembali ke kantor setelah tadi memastikan terapi tuan Cipto di lakukan hari ini saat ini terlihat sedang sibuk mencari tahu siapa preman-preman yang membawa pergi orang tua Alisa 1 minggu yang lalu.


Agus memperhatikan jadwal-jadwal di pembukuan para suruhan ayahnya itu dan mendapati jika 1 minggu yang lalu memang ada 3 preman yang sedang mengambil libur.


Agus mengernyitkan alisnya.


"3 orang suruhan ayah ini pasti yang melakukannya. " Gumam Agus.

__ADS_1


Laki-laki itu kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu memanggil seseorang.


"Karyo.. Karyo!. "


Tidak lama kmeudian muncul seseorang berbadan tinggi kurus dengan kumis tebalnya.


"Iya tuan, tuan manggil saya? . "


Agus mengangguk.


"Masuk kesini ada yang mau saya tanyakan ke kamu. " Tempat Agus.


Mereka berdua kembali masuk dan duduk di atas sofa, Agus kemudian menunjukkan catatan jadwal untuk 1 minggu yang lalu.


"Wisman, Supri dan Dodon ini yang mana?. " Tanya Agus to the point sembari menunjuk nama oeang-orang yang berada di pembukuan.


Karyo terlihat kebingungan.


"Eh itukan preman yang biasa bertugas buat nagih tuan. " Ujar Karyo.


"Masuk tuan, tapi biasanya kalau udah mau sore gini mereka lagi kerja di lapangan, merek ada yang cuman pas pagi-pagi sampai tengah hari aja tuan, selebihnya mereka bakalan ke pasar kalau jam-jam segini. " Jelas Karyo.


Agus mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Besok, suruh mereka datang untuk menghadap saya ke ruangan ini. " Perintah Agus.


"Eh kenapa tuan? . " Karyo nampak heran.


"Tidak usah banyak tanya, suruh saja mereka menemui saya besok pagi!. " Tegas Agus.


Karyo langsung mengangguk cepat.


"I-iya tuan maaf atas kelancaran saya. "


"Ya sudah keluarlah!. " Perintah Agus.

__ADS_1


Karyo segera berdiri dan langsung berlari keluar meninggalkan ruangan tersebut.


"Sebentar lagi kita akan tau di mana orang tuamu berada Alisa, bersabarlah. " Gumam Agus berbicara dengan dirinya sendiri.


###


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore Agus akhirnya pulang.


Laki-laki itu masuk ke dalam rumah dengan ekspresi wajah yang lelah, padahal pekerjaannya sama sekali tidak berat.


Agus justru lebih banyak duduk di kursi kerjanya di banding mengurus sesuatu yang penting.


"Tuan sudah pulang?. " Sapa Ratih yang baru saja keluar dari dapur dengan celemek yang terlamoir di tubuhnya.


"Iya mbak. " Balas Agus.


"Mau saya bikinin teh hangat? Kopi atau jus?. " Tawar Ratih.


Agus menggeleng.


"Tidak usah, malam ini makanan saya di bawa ke kamar saja ya mbak Ratih, saya lagi malas naik turun tangga. " Ujar Agus.


Ratih segera mengangguk.


"Baik tuan. " Perempuan itupun berlalu pergi kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.


Pandangan Agus kemudian teralihkan pada Alisa yang sedang mendorong kursi roda tuan Cipto di halaman samping.


Agus melangkah mendekati mereka, namun langkah itu terhenti saat melihat Alisa dengan lembut mengusap rambut ayahnya.


Deg


Jantung Agus tiba-tiba saja berdegup sangat kencang, pemandangan itu membuatnya cemburu.


"Sialan, kenapa aku harus melihat ini. " umpat Agus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2