
Yang ada di dalam pikiran Agus saat ini adalah menjauhi rumah ayahnya tersebut untuk menenangkan pikirannya.
###
Agus pada awalnya berpikir ingin pergi sejauh mungkin dan meninggalkan Alisa dan tuan Cipto sejauh mungkin dan melupakan rasa sakit hatinya.
Akan tetapi perasaan iba dan khawatir pada orang-orang yang mengambil pinjaman pada ayahnya itu membuatnya merasa khawatir dan takut, jangan sampai mereka mati konyol hanya karena mengambil pinjaman yang bunganya sangat di luar nalar.
Agus ingin merubah hal tersebut dan satu hal yang paling penting adalah membebaskan Alisa dari jerat ayahnya.
Flasch back on
"Aku tau kenapa kamu tidak ingin pergi meninggalkan ayahku bukan karena kamu mencintainya tapi karna takut dengan hutang-hutang orang tuamu kan?. " Tanya Agus saat mereka sedang duduk berdua di pagi hari, setelah dua hari tuan Cipto di rawat di rumah sakit.
Alisa menggeleng pelan, seolah gadis itu mengisyaratkan jika dirinya tidak terpaksa menikahi tuan Cipto. Akan tetapi matanya menunjukkan hal lain. Agus tau gadis itu sedang berbohong.
"Alisa kalau kamu ingin pergi dan lari, pergilah aku yang akan mengurus sisanya. " Ujar Agus, meyakinkan gadis itu untuk pergi meninggalkan tuan Cipto.
Alisa kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa mas, tuan Cipto sudah menjadi suamiku kami terikat pernikahan, tidak mungkin aku tega pergi meninggalkannya dalam keadaan dan situasi seperti ini. " Balas Alisa, nada suaranya terdengar memelas.
__ADS_1
"Bohong, aku tau bukan itu alasannya, aku sudah mencari tahu melalui para preman yang meboyongmu ke rumah ayahku malam itu, katanya orang tuamu memiliki hutang yang sangat banyak pada ayahku dan sebagai syarat untuk melunasi hutangnya kamu di paksa menikah dengan ayahku. " Cecar Agus.
"Tetap saja mas, tidak akan ada yang berubah. "
"Aku akan membantumu mencari surat perjanjian itu lalu merobek serta membakarnya agar kamu dan kekuargamu bisa terbebas, kamu tidak perlu takut lagi Alisa. " Pekik Agus, laki-laki itu terlihat sangat tulus ingin membantu Alisa pergi jauh dari jerat tuan Cipto.
Mata Alisa berbinar dan melihat ada harapan yang terbuka lebar di hadapannya. Ia ingin mempercayai Agus untuk menolongnya dan meninggalkan takdirnya yang kejam ini, akan tetapi hati kecilnya tetap tidak tega meninggalkan tuan Cipto dalam kondisi yang sedang sakit.
"Kamu sungguh mau membantuku?. " Tanya Alisa kemudian.
Agus menagngguk dengan pasti.
"Baiklah, tolong beri aku kesempatan untuk merawat ayahmu sampai dia benar-benar bisa kembali beraktivitas seperti biasanya, hingga saat itu aku berharap kamu sudah mendapatkan surat perjanjian yang akan membebaskanku itu. " tutur Alisa, meminta waktu pada Agus untuk sekedar merawat suaminya sendiri hingga tiba waktu yang tepat untuk dirinya pergi meninggalkan kehidupannya yang malang ini.
Agus mengernyitkan alisnya.
"Kenapa kamu harus menunggu ayahku sehat? Itu akan sulit Alisa. " Agus nampak tidak mengerti.
"Lalu, apakah aku harus meninggalkan suamiku yang sekaligus adalah ayahmu sendiri sementara kondisinya hampir sekarat karena ulah kita?. " Pekik Alisa.
"Ulah kita? Itu bukan kesalahan kita Alisa, dia hanya terkejut mengetahui kenyataan jika aku dan kamu adalah sepasang kekasih yang gagal ke jenjang pernikahan karena ayahku lebih dulu menikahi dan menjerat mu dengan hutang-hutang sialan itu. " Sentak Agus, kekesalannya kembali memuncak memikirkan takdir cinta mereka yang begitu buruk.
__ADS_1
"Takdir! Yah atau mungkin ini memang suratan takdir untuk kita mas Agus. " Ujar Alisa kemudian.
Agus kembali mengernyitkan alisnya.
"Maksudmu?. "
"Takdir yang mempertemukanku dengan tuan Cipto dan takdir yang menjadikanmu sebagai anak tiriku. " Balas Alisa, nada suaranya tegas.
"Aku bukan anak tirimu!. "Pekik Agus, tidak suka mendengar Alisa menyebutnya sebagai anak tiri.
"Kamu harus menerima kenyataan itu sekarang Agus. "
"Berhenti Alisa, kamu adalah Alisa dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun! aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan surat perjanjian pernikahanmu dengan ayahku, tenang saja aku akan membantumu pergi sejauh mungkin."
Alisa terdiam, tidak tau harus berkata apa lagi.
Flash back on.
"Alisa, aku pasti akan menemukan surat itu dan membebaskanmu. "Ujar Agus pelan. Andika membelokkan mobilnya ke arah kantor tempat tuan Cipto menjalankan bisnis kotornya, ia akan mulai dari sana untuk menemukan surat-surat tersebut.
Bersambung.. .
__ADS_1