
Ditengah pertanyaan Mavericks yang tidak mendapatkan jawaban nya, seketika mereka dikejutkan dengan sebuah gedoran pintu yang terdengar begitu memekakkan telinga.
"Ada apa didalam sana, mave... Ireland?"
Sebuah teriakan memekakkan telinga.
"Buka pintu nya cepat sayang, atau kami akan menendang nya"
Hahhh oh god.
Irene Seketika melonjak kaget, dia membenahi posisi tubuhnya, dengan cepat berlarian mendekati Mavericks dan langsung berusaha untuk mencabut pisau yang menancap di dinding.
"Aku khilaf"
Bisa-bisa nya perempuan tersebut menjawab dengan nada yang begitu enteng.
"jika pisau itu tadi membunuh ku, kamu masih bisa bilang itu sebuah kekhilafan?"
Mavericks melotot kesal.
Dia ingin mencengkeram Irene karena mendapatkan kesempatan, tapi dia jelas tidak mungkin melakukan nya sebab di pintu depan kamar terdengar kehebohan.
Padahal kamar mereka jelas-jelas kedap suara, kenapa pertengkaran mereka bisa terdengar hingga keluar sana?!.
"Berjanjilah kamu tidak akan mengadu"
Pinta Irene cepat.
"Kau fikir aku anak kecil?"
Ucap Mavericks sambil mengerutkan keningnya, wajah nya menampilkan kesuraman yang mendalam.
Apa dia gila? Tentu saja dia tidak mungkin mengadu, mempermalukan diri nya sendiri karena di serang oleh istri nya, dikalahkan dan dihempas kan bahkan nyaris mati.
Seorang Grim Reaper yang Biasanya memerintah pembunuhan dan membunuh seseorang nyaris di bunuh oleh istri nya sendiri.
Kau pasti sudah gila.
"Aku tidak bilang aku kalah, aku hanya sedang mengalah"
ucap Mavericks cepat me arah Irene, kemudian dia langsung membuang pandangannya dan berjalan menuju ke arah pintu depan.
"Mavericks...Irene...apa hal yang buruk terjadi?"
lagi terdengar teriakan dari luar sana.
Itu adalah suara Ibu nya.
Mavericks buru-buru membuka pintu kamar mereka, bisa dia lihat ibu dan ayah nya berdiri tepat di depan pintu, sang kakek tua terlihat memegang tongkat nya, laki-laki itu menatap ke arah Mavericks sambil mengerutkan dahi nya.
Oh jangan katakan mereka mencurigai keadaan.
"ada apa?"
Mavericks bertanya cepat.
"Kakek mu bilang ada suara Gaduh di kamar kalian, terdengar sedikit jelas dari kamar nya"
__ADS_1
Mendengar ucapan ibu nya seketika Mavericks terkejut.
"Ya?"
Dia seperti nya lupa jika kamar mereka bersebelahan, apakah hantaman pisau yang diberikan Irene ke arah dinding cukup terdengar kekamar sebelah hingga mengganggu waktu istirahat kakek nya?!.
Mavericks baru ingat, letak kasur mereka saling berhadapan dibalik dinding tersebut.
"Tidak ada kakek"
Tiba-tiba Irene menyembulkan kepalanya, dia mengintip tepat dibalik telinga sisi kiri Mavericks, membuat laki-laki tersebut Seketika merinding karena suara serta sentuhan lembut dari wajah perempuan itu yang mengenai ujung telinga nya.
Satu sensasi aneh menjalar di sepanjang tubuhnya.
Apa itu?!.
Mavericks mengerutkan keningnya.
Irene menyentuh lembut bahu Mavericks kemudian kembali berkata.
"Aku menjatuhkan sesuatu tadi Bu, tidak ada kegaduhan didalam, apakah kakek baik-baik saja? mau aku temani tidur disebelah?"
Irene cepat-cepat menyeruak dari arah sisi kiri suami nya, dia langsung bicara sambil menawarkan kebaikan hati nya.
dia fikir tidur di kamar kakek pasti jauh lebih aman ketimbang tidur bersama bajingan itu.
"Aku bisa bernyanyi lagu penghantar tidur untuk kakek jika kakek bersedia"
Lanjut Perempuan itu lagi.
Dia menunggu jawaban kakek tua Rolf dengan perasaan berdebar-debar.
"No...aku tidak mengizinkan nya"
Laki-laki tersebut langsung membuat penolakan tanpa peduli pada jawaban kakek nya sendiri.
"Kakek bisa minta ibu atau siapapun untuk menemani kakek, bahkan ada Loouz dan Grey yang bisa di andalkan"
Bisa-bisa nya dia protes dengan begitu keras, tidak peduli dengan apa yang akan di ucapkan oleh kakek tua nya tersebut.
"Kau ini benar-benar tidak sayang kepada orang tua"
Irene jelas langsung protes.
Bilang saja kau ingin macam-macam dengan Ku malam ini.
pekik nya didalam hati.
Dia langsung melirik kearah kakek dan ibu mertua nya, meminta persetujuan dengan cepat.
Seketika ibu Mavericks mengulum senyuman nya sedangkan kakek tua Rolf menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku fikir seseorang masuk ke kamar kalian, itu bukan masalah, kembali lah tidur dan jangan lupa buatkan laki-laki tua ini seorang cucu"
Kakek tua Rolf bicara dengan cepat.
"Nah itu maksud ku"
__ADS_1
Mavericks langsung menyambar dan menjawab.
"bukankah semakin cepat mendapat kan cucu akan semakin baik"
Bisa-bisa nya laki-laki itu berkata begitu.
Irene jelas melotot kesal.
"Yakin tidak terjadi apa-apa?"
Ayah Mavericks kembali bertanya, dia menatap Irene untuk beberapa waktu.
"Sebenarnya bukan begitu"
Irene terlihat ingin bercerita tapi Mavericks buru-buru menarik Irene dan menghalau gerakan nya, laki-laki itu kemudian berkata.
"Tidurlah, aku akan pergi main catur bersama ayah"
mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari Mavericks seketika membuat Irene melonjak kegirangan.
Main Catur? itu artinya bergadang.
Oh god...dia Selamat dunia akhirat malam ini.
Buahahahaha rencana nya berjalan sesuai kemauan nya.
"Baiklah, kakek selamat tidur, ibu selamat tidur, ayah aku berdoa semoga ayah menang hingga pagi tiba dan suami ku mengalah tanpa di sengaja"
Dan bisa-bisa nya perempuan itu bicara dengan penuh semangat, mencium pipi kakek tua Rolf Dan kedua mertua nya dengan keceriaan tidak terhingga.
Semua orang sejenak mematung sebab tidak ada satu pun anggota keluarga yang pernah bertindak seperti itu, tidak pernah ada ciuman hangat menjelang tidur malam.
"Selamat malam suami kuuuu"
Dan bisa-bisa nya Irene bicara menghadap kearah Mavericks, menggenggam kedua pipi Mavericks kemudian mencium bibir nya dengan tidak tahu malu.
"I love you Mave..."
setelah berkata begitu Perempuan tersebut langsung melesat masuk ke kamar dengan penuh kemenangan.
Sedangkan dia tidak pernah menyadari bagaimana ekspresi Mavericks saat ini yang seperti laki-laki Linglung karena bingung tiba-tiba mendapat kan ciuman kilat tidak terduga di bibirnya di hadapan semua orang.
Kau...!.
Mavericks mencoba menahan kata-kata nya,. menatap punggung indah Irene yang bergerak Menuju kearah kasur mereka.
laki-laki itu fikir kenapa dia menikahi perempuan seperti itu, dia merasa begitu frustasi secara tiba-tiba, sejenak dia buru-buru menoleh ke arah ayah nya.
Perempuan itu jelas adalah pilihan ayahnya.
Mavericks fikir siapa Irene yang sebenarnya, apa yang ayah nya sembunyikan soal Irene.
"Jika kamu bisa menikahi dia, seluruh Grim Reaper jelas akan jadi milikmu, kakek tua Rolf akan tunduk dibawah keinginan mu termasuk semua orang bahkan kau bisa memperluas kekuasaan bersama gadis itu tanpa pernah kau duga betapa berpengaruh nya dia di beberapa klan mafia"
"Kau akan menjadi satu-satunya penguasa mafia paling kuat di dunia jika bersanding dengan nya dan tidak menyia-nyiakan dirinya, ayah jamin kau tidak akan menyesali nya"
"Memang nya siapa dia?"
__ADS_1
"Kau akan tahu seiring berjalannya waktu"