
Masih di kediaman Keluarga De Albemarle
Kamar tidur Irene
Bisa dilihat barisan kegelisahan di Balik bola mata gadis yang tengah duduk di sebuah kursi meja hias tersebut, dia meraih sebuah kotak musik yang ada di nakas kecil di hadapannya untuk beberapa waktu, meraih sebuah liontin kalung berbentuk kotak kecil.
Dia kemudian secepat kilat membuka liontin tersebut dan menatap sebuah foto didalam nya untuk beberapa waktu, lantas dengan gerakan sedikit terburu-buru dia langsung menutup liontin tersebut lantas menggunakan nya dengan cepat.
Gadis tersebut terus bergumam tidak jelas, seolah-olah melafazkan mantra didalam kamar tersebut untuk waktu yang cukup lama.
Ireland Xavier.
Nama itu beberapa kali meluncur di balik bibir nya, dia menatap ke arah sisi kiri nya dimana jendela besar dengan tulang jendela yang mendominasi berwarna hitam tersebut terus mengeluarkan suara dari kaca yang tertutup karena ranting pohon besar di samping Kamar nya terus bergerak menggesek kaca tersebut.
Bola mata Irene kini bergerak menuju kearah langit malam, memperhatikan warna bulan yang jelas tidak penuh.
"Musim semi"
Irene membatin pelan.
Dia membuang pandangannya kemudian menatap sesuatu didalam laci nakas dihadapan nya, secara perlahan gadis tersebut meraih sesuatu yang dilihatnya barusan.
Sebuah belati bergagang emas terlihat tergeletak disana.
Sudah 15 tahun belati tersebut ada didalam nakas kamar nya, satu ingatan menghantam nya selama belasan tahun yang lalu.
"Saat usia kamu cukup matang, Jika saat nya Pack leader milik Grim Reaper keluar, maka bergeraklah untuk melepaskan dirimu dan membuat jiwa mu tertidur sementara"
Seseorang perempuan bicara sambil menyerahkan berlati tersebut ke tangannya secara perlahan.
__ADS_1
"Hingga dia benar-benar terjaga dan bisa menyempurnakan Mavericks, berjanjilah untuk tidak bangun sebelum waktunya"
"Aku tidak ingin salah satu di antara kalian celaka, cepat atau lambat mereka akan menyadari kehadiran kalian berdua''
Irene menghela pelan nafas nya, menarik belati Tersebut dengan cepat, sebenarnya ucapan Perempuan tersebut tidak sepenuhnya benar di masa lalu.
Dia bisa melihat sepenggal kisah di masa depan melalui mata kanan nya.
Ini tidak baik-baik saja.
Gadis itu bergerak mendekati jendela kaca di sisi kirinya, membuka dengan cepat jendela kaca tersebut kemudian mencoba mencium aroma malam yang pekat.
Aroma saljunya akan tiba jauh lebih awal di akhir tahun.
Batin Irene pelan.
Gadis itu memejamkan bola matanya sejenak, berusaha untuk merasakan sesuatu sambil mendengar sesuatu di seberang sana.
Bisa dia dengar derap suara langkah sepatu, kaki dan lain sebagainya yang saling bergesek dan mengejar, suara Teriakan dan lengkingan beberapa orang, bahkan satu suara yang selalu dia dengar dalam seumur hidup nya namun tidak pernah bisa dia lihat wajah nya terdengar begitu marah, berteriak sambil memaki seseorang yang Irene fikir itu pasti seseorang yang di benci oleh suara teriakan tersebut.
"Ini adalah saat nya Menukar posisi kalian"
Irene tidak bergeming, dia diam tanpa berniat membuka bola matanya.
"Aku akan menjaga dan membawa mu keluar, menggiring mu ke arah sang Pengikat yang sebenarnya"
Bisik suara itu lagi tepat di balik telinga kanan nya.
Irene masih diam, dia tidak bergeming, masih asik menikmati aroma malam dan mendengar suara lain yang saling bersahutan samar-samar di beberapa penjuru.
"Lakukanlah"
__ADS_1
Suara tersebut kembali berbisik.
Hingga akhirnya Irene secara perlahan membuka bola matanya, seketika cahaya bola mata nya berubah bahkan dia menampilkan ekspresi wajah yang begitu tenang dan datar.
Gadis tersebut bergerak menuju kearah kamar mandi, memenuhi air didalam bak mandi secara perlahan, menunggu nya terisi dan penuh.
Sepersekian detik kemudian secara perlahan dia masuk kedalam bak mandi tersebut, lantas tangan nya yang memegang belati secara perlahan bergerak memotong satu pergelangan tangan nya.
Bisa dilihat darah segar secara perlahan mengalir mengubah warna air yang jernih menjadi memerah.
Irene menatap sosok yang menatap dirinya sejak tadi.
"Kau tahu?"
Tiba-tiba Irene bicara sambil menatap kearah perempuan dihadapan nya itu dengan Begitu tenang.
"Jangan lengah menjaga ku, sebab ketika bola mata ku tertutup, Leandre akan merasakan kehadiran ku, karena bukan grey pengikat ku yang sesungguhnya melainkan Leandre,Theodore'
Ucap Irene sambil mengembang kan senyuman nya.
"Apa?"
Mendapatkan pernyataan dari Irene, Seketika membuat perempuan tersebut tercekat.
"Arane...apa maksudmu?"
Dia baru akan meminta penjelasan, tapi seketika Gadis yang dia panggil Arane memejamkan bola matanya, kamar mandi tesebut seketika mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Theodore seketika langsung bergerak meraih tubuh Arane dengan cepat di antara jutaan pertanyaan di hati nya.
Sepersekian detik kemudian beberapa orang membawa sebuah tubuh yang sama persis seperti gadis tersebut dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya yang telah mati dan menukar nya kedalam bak mandi.
__ADS_1
"Biarkan keluarga De Albemarle mengurus pemakaman nya secepat nya"
Ucap Theodore lantas membawa tubuh Arane dengan cepat.