Istri Tawanan Tuan Mavericks

Istri Tawanan Tuan Mavericks
Saling memainkan rencana


__ADS_3

Masih di kediaman utama Kakek tua Rolf


kamar tinggal Mavericks


Begitu ayah Mavericks pergi berlalu meninggalkan dirinya, laki-laki tersebut secepat kilat naik ke atas menuju ke kamar di mana dirinya dan Irene seharusnya menginap malam ini.


Begitu masuk kedalam kamar itu, laki-laki tersebut langsung menutup pintu kamar secara perlahan, sengaja tidak membuat kebisingan agar Irene tidak terjaga dari tidur lelapnya.


Mavericks menatap kearah warna langit yang jelas masih menggelap kearah jendela kaca di sisi kiri kasur dimana Irene tertidur saat ini.


Angin sepoi-sepoi menerjang gorden berwarna cream tersebut, seperti nya dia lupa menutup jendela tersebut tadi nya.


Dengan gerakan perlahan Mavericks berjalan menuju ke arah jendela tersebut, dia menarik gorden tersebut lantas menutup jendela kaca besar itu dengan gerakan pelan, memastikan tidak ada angin yang kembali menyeruak masuk dan mengganggu tidur lelap Irene.


Lagi laki-laki tersebut mencoba menatap langit malam menjelang pagi, bisa dia lihat dedaunan pepohonan di sepanjang jalan mata dia memandang terus bergerak mengikuti kencang nya angin.


Dia kembali berfikir musim dingin akan datang dengan cepat, jauh lebih cepat dari biasanya, bahkan melihat cuaca yang lebih mendingin tidak seperti biasanya semakin membuat dia yakin tidak lama lagi hujan salju akan memenuhi kota Prancis dan sekitarnya.


Mavericks mencoba merogoh perlahan kantung celananya, dia mengeluarkan kotak rokok dan pamatik nya, mencoba meraih satu rokok yang ada disana tapi,

__ADS_1


sejenak bola mata Mavericks menoleh kearah Irene, bisa dia lihat Irene mencoba meringkuk dibawah selimut, mencoba menarik selimut mendominasi berwarna putih tersebut agar semakin dalam menggulung tubuh nya yang mulai kedinginan.


Laki-laki tersebut tiba-tiba ingat dengan gerutuan Irene disepanjang waktu mereka bersama.


"Tidak bisakah kamu tidak merokok saat didekat ku? kau tahu? aku penghisap pasif, jika terjadi sesuatu kepada ku, apakah kau siap menjadi seorang duda?"


"Mave tidak bisakah kau berhenti merokok didekat ku? kau bilang ingin aku mencetak anak-anak yang banyak, kau tahu? merokok bisa menyebabkan kerusakan janin akut dan menyebabkan kesulitan pasangan untuk hamil"


Seketika Mavericks menghentikan gerakan tangannya, dia menurunkan rokok dan pamatik nya secara perlahan, kemudian dia mendengus dan menertawakan dirinya sendiri.


Shi.t kau membuat ku sulit mengabaikan ocehan mu.


Mavericks langsung kembali memasukkan rokok dan pamatik nya kedalam saku celananya.


Laki-laki tersebut kini mulai berjalan mendekati Irene secara perlahan, dia berusaha duduk di tepian kasur lantas menatap wajah Irene yang menyembul di balik selimut.


"Kau sebenarnya siapa?"


Mavericks berguman pelan, menatap dalam wajah istri nya itu untuk beberapa waktu.

__ADS_1


Ayah nya selalu berkata seiring berjalannya waktu dia akan tahu siapa perempuan itu tapi anehnya laki-laki tua tersebut selalu berusaha memperingati dirinya.


"Jangan sebutkan soal Irene pada keluarga manapun kecuali Grim Reaper, jangan bawa Irene keluar tanpa pengawasan, jangan biarkan dia mengenal banyak orang hingga dia mendapat kan ingatan nya kembali dan dia membuka seluruh jati diri nya sendiri, hingga hari itu tiba biarkan dia terus dibawah pengawasan mu dan berada di bawah Kungkungan mu"


Bukankah peringatan yang diberikan ayah nya terdengar begitu aneh? seolah-olah laki-laki itu berkata diluar sana ada banyak orang yang mengincar dan menginginkan dirinya.


"20 tahun lebih sengaja menyembunyikan identitas nya bukan hal yang mudah, jadi jika orang-orang tahu siapa dia sebelum waktunya, kau tahu bagaimana resiko besar menghantam dirinya"


Mavericks secara perlahan berbaring tepat disamping Irene, dia sengaja berbaring menghadap kearah Irene, menatap wajah perempuan tersebut untuk waktu yang begitu lama.


Hingga akhirnya laki-laki tersebut mulai memejamkan bola matanya.


Suara detak jarum jam terdengar samar-samar memenuhi ruangan kamar tersebut, hanya terdengar deru nafas teratur yang terus berlomba dengan suara jarum jam yang berdetak Secara perlahan.


Irene dengan gerakan perlahan membuka bola matanya, menatap Mavericks dengan tatapan penuh kilatan cahaya dibalik bola matanya.


Perempuan tersebut terlihat menampilkan ekspresi yang begitu tenang tanpa emosi, kemudian seulas seringai tipis yang tidak bisa di artikan mengembang dibalik bibir nya.


"Welcome to my world, Mavericks"

__ADS_1


Gumamnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diterka oleh siapapun yang memandang bola matanya.


__ADS_2