JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 12 Kebenaran dan kebohongan


__ADS_3

"kamu manusia brengsek... Tidak taat ajaran... Mau jadi apa kamu di masyarakat... Kamu anak durhaka... Tidak berguna... Pemalas..."


"Terserah... Untuk apa juga berguna terhadap masyarakat, memang masyarakat berguna bagi ku?"


"Apa kamu bodoh... Apa kamu ingin hidup sendiri di hutan.. manusia adalah mahluk sosial."


"Ide yg bagus... Saya memang ingin hidup di hutan dari pada di kota, hidup juga pada engos-engosan."


"Keluar kamu dari rumah ini... Kamu memalukan nama bapak saja di masyarakat... Jangan pernah kembali lagi jika kamu masih tidak mau bermasyarakat..."


"Ok... Aku memang berencana untuk pergi.."


Awalnya saya bingung harus membuat alasan seperti apa agar saya bisa pergi dari rumah dan tinggal bersama Kristin di rumah kos sementara.


Tapi untungnya bapak saya membuka pertengkaran karena saya tidak datang saat upacara besar yg di adakan di kampung saya.


Dengan begini saya memiliki alasan yg bagus untuk keluar dari rumah.


Setelah mengemas pakaian sekolah dan lain lain, saya segera pergi menuju kos sementara.


"Kristin.. ini saya. Cepat buka celana mu.. ehem.. maksud ku cepat buka pintu." Saya mengetok pintu kamar kos sambil memanggilnya.


Tidak butuh waktu lama dan saya melihat kristin membuka pintu dengan senyum centilnya.


"Sayangku..." Kristin segera menarik lengan saya dan membawa saya masuk dengan terburu buru.


Di ruang tamu saya melihat beberapa wanita muda sedang duduk dengan anggun sambil menikmati cemilan dan minuman yg ada di atas meja.


Melihat tatapan terkejut mereka, saya hanya bisa tersenyum canggung sambil menganggukan kepala.


"Sayang.. ini teman baik ku, yg sebelah kiri namanya Cindy, yg di tengah arlin dan yg paling kanan adalah Maya. Aku merekrut mereka untuk membantu ku di masa depan, sayang tidak keberatankan?." Kristin menuntun saya untuk duduk di sofa sambil menjelaskan keberadaan temannya.


Saya mengangguk ringan dan mulai memperkenalkan diri. "Panggil saja saya Wisnu, saya korban yg sudah di makan habis oleh Kristin. Jadi hubungan kami berdua adalah korban dan pelaku, jadi tolong bantu saya mengawasi Kristin agar tidak sampai jatuh korban lain seperti saya."


Cindy, arlin dan Maya melebarkan matanya menatap Kristin yg hanya bisa tersenyum canggung sambil mencubit pinggang saya sebelum tertawa kecil. "Tenang Wisnu.. Kristin adalah orang yg setia."

__ADS_1


"Mmm... Jika dia mencintai satu pria maka dia hanya akan bersama pria itu saja."


"Benar.. kamu tidak perlu cemas, saya bisa menjaminya."


Saya terseyum ringan dan bertanya pada arlin. "Apa yg akan kamu jaminkan?"


"Tentu saja diri ku, jika Kristin bermain belakang maka kamu bisa menjadi kekasih ku."


"Ha ha ha ha.." cindi dan Maya langsung tertawa, tapi Kristin segera memberi tatapan tajam pada arlin yg membuat lehernya sedikit menciut.


Saat itu saya sedikit merapikan rambut Kristin sambil berkata. "Kenapa kamu merekrut model majalah pria?" Lalu menunjuk ke arah arlin yg membuatnya sedikit terkejut.


"Dari mana kamu tahu jika aku pernah menjadi model majalah pria, itu sudah dua tahun yg lalu."


"Saya seringa melihatnya saat ke kamar mandi, sampai sekarang sepertinya majalah itu masih ada di kamar mandi itu."


"Untuk apa...." Arlin yg ingin bertanya tiba tiba menutup mulutnya dengan mata yg penuh kejutan.


Bahkan cindy dan Maya membuka mulutnya lebar lebar karena syok.


Saya cepat cepat kabur dari ruang tamu sebelum terjadi hal hal yg tidak di inginkan.


Dan benar saja, teriakan marah Kristin tiba tiba terdengar. "Pergi kamu arlin... Kamu merusak suami ku..."


"Tenang Kristin, itu tidak ada hubungannya dengan ku.."


"Benar Kristin... Wisnu pasti hanya bercanda..."


"Ya ya dia sepertinya sengaja melakukan itu."


"Beraninya kalian berdua menyalahkan Wisnu, pergi saja kalian... Cepat pergi...."


"Tenang, Kristin..."


"Aarrgggghhhh"

__ADS_1


Saya hanya bisa tersenyum geli mendengar pertengkaran mereka, sambil berkirim pesan chat dengan ayu.


Setelah beberapa menit, saya mendengar suara bising di ruang tamu kembali tenang dan saya perlahan menuju ruang tamu untuk melihat situasi.


Melihat kedatangan saya, mereka semua segera mengalihkan perhatiannya pada saya dan saya segera membalasnya dengan senyum lembut. "Sebagai tim, kalian memang harus bisa menyelesaikan masalah seperti ini dengan cepat. Jangan mudah terbawa emosi hanya dari kata kata yg belum terbukti kebenarannya."


Saya perlahan duduk di sisi Kristin dan kembali berkata. "Terutama kamu.."


"Huh.." Kristin mendengus sambil melipat kedua tangannya di dada dan segera memalingkan wajahnya.


"He he he.. sudah ku duga, Wisnu bukan pria sembarangan. Tadi itu pasti hanya kebohongan untuk menguji kita." Cindy berkata sambil menatap saya dengan takjub.


Tapi saya segera menggelangkan kepala dan berkata. "Saya berkata jujur."


"Apa..." Seru arlin dengan penuh kejutan dan mereka kembali mengalihkan perhatiannya pada saya, terutama Kristin yg mulai terlihat kesal.


Saya tersenyum geli melihat tatapan mereka sebelum berkata. "Setiap saya meminjam kamar mandi di rumah Harry, saya selalu melihat majalah pria yg terlipat dan menunjukan foto arlin. Setiap kali saya meminjam kamar mandinya, pose foto arlin selalu berubah rubah, Aku sampai hafal setiap lekuk tubuh arlin. Jika tidak percaya kamu bisa pergi ke rumahnya dan coba meminjam kamar mandinya."


"Aku percaya." Kristin tiba tiba berkata sambil memberi tatapan lembut pada saya. "Dulu saya pernah meminjam toiletnya dan dia tiba tiba menghentikan ku dengan alasan merapikan toilet sebentar, lalu dia keluar membawa sebuah majalah sebelum mengijinkan ku untuk masuk ke toilet. Ternyata ada cerita di balik majalah ini yg aku tidak tahu."


Arlin tiba tiba meremas kedua tangannya sambil menghentakkan kakinya dan berkata dengan kesal. "Pantas saja dia selalu memberi tatapan lapar pada ku setiap kali aku melihatnya bersama mu. Dia bahkan sering merayu ku lewat chat online saat dia masih bersama mu."


"Kenapa kamu tidak memberi tahu ku?" Tanya Kristin.


"Aku tidak tega, kamu terlihat sangat tergila gila dengannya. Aku yakin kamu tidak akan percaya pada kata kata ku."


"....." Melihat Kristin terdiam, saya perlahan membelai punggungnya. "Selalu cari kebenaran dari setiap masalah sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan. Jangan terbawa emosi seperti tadi, kebenaran dan kebohongan memiliki sekat yg sangat tipis. Jika kita tidak jeli maka kita mungkin berpikir sebuah kebohongan adalah sebuah kebenaran atau sebaliknya. Saya tidak ingin tim yg kamu buat hancur hanya karena masalah sepele."


Kristin menatap saya dengan tatapan penuh kasih sambil berkata dengan manja. "Sayang.. ayo kita menikah.."


Saya memberi isyarat dengan jari saya agar Kristin mendekatkan wajahnya.


Saat wajah Kristin mendekat, saya segera mencium bibir nya dengan lembut lalu berbisik padanya. "Bangunlah dari mimpi mu anak ku.."


Arlin, Cindy dan Maya langsung tertawa terbahak bahak, tapi Kristin dengan cepat memeluk leher saya dan berkata dengan nada kesal. "Persetan..." Segera ciuman agrisif Kristin mengenai bibir saya dan lidahnya yg seperti cacing kepanasan mulai menggeliat di dalam mulut saya

__ADS_1


__ADS_2