
Airport di Jakarta, saya berdiri di jalur kedatangan internasional sambil memegang papan nama bertuliskan Karen.
Dia adalah teman dari Amerika yg saya dapatkan di media sosial.
Sudah 5 tahun berlalu sejak saya pertama kali datang ke Jakarta dan semua tujuan saya sudah terpenuhi kecuali satu hal.
Untuk itu saya mencari orang yg tepat dan bisa di percaya untuk membatu saya menyelesaikannya.
Karen adalah orang yg saya pilih, dia memiliki kemampuan untuk merakit dan memodifikasi kendaraan yg benar benar saya butuhkan.
Tujuan saya adalah membuat kendaraan besar yg bisa bergerak di jalan beraspal atau off road.
Body yg kuat layaknya sebuah tank dan juga fasilitas lengkap yg ada di dalamnya seperti tempat tidur, dapur, toilet dll.
Sebenarnya saya lebih tertarik untuk datang ke negaranya tapi pembuatan paspor dan visa membutuhkan proses yg rumit.
Yg membuatnya sangat rumit adalah identitas saya yg masih belum jelas karena status saya masih anak yg hilang.
Jika saya mengajukan visa maka secara otomatis posisi saya akan di ketahui dan mereka pasti akan menjemput saya yg membuat tujuan saya akhirnya terhambat.
lebih baik saya memintanya untuk datang membantu dengan imbalan sejumlah uang.
"Wisnu..." Di kejauhan seorang wanita asing dengan rambut panjang berwarna emas di ikat kuncir kuda sedang melambaikan tangannya pada saya.
Celana jin pendek dengan kemeja putih yg agak longgar membuatnya terlihat sangat seksi.
Wajahnya juga terlihat cantik dan tidak kalah dengan artis artis Hollywood papan atas.
Saya tersenyum canggung sebagai balasan karena semua orang di sekitar saya memberi tatapan aneh pada saya.
Enetah apa yg mereka pikirkan, tapi saya merasa benar benar tidak nyaman di pandang seperti itu oleh banyak orang.
"Bagaimana penerbangannya?" Sapa saya segera setelah Karen mendekat.
"Luar biasa, ini pertama kalinya aku menggunakan kelas bisnis. Rasanya sangat nyaman, terima kasih Wisnu.." Karen mengaitkan kedua tangannya dan tanpa ragu ragu merebut ciuman pertama saya.
Bagi orang asing, hal seperti ini adalah hal yg wajar tapi bagi warga Indonesia khususnya di wilayah yg mayoritas penganut ajaran allone, hal ini bisa di katakan tabu.
Jelas tatapan semua orang seketika menahan saat melihat kami berdua melakukan hal mesum di depan umum.
"Mas jangan berbuat mesum di tempat umum, istipar mas... Ingat yg di atas." Akhirnya salah satu orang yg merasa dirinya utusan Tuhan segera melakukan kotbahnya.
__ADS_1
Padahal dari sorot matanya, pria sok suci ini sudah ngiler dengan tubuh karen dan anu juga terlihat mulai menonjol.
Karena itu saya hanya mengabaikan mahluk munafik ini dan segera membawa Karen ke taxi yg sudah saya pesan.
"Mas, kalo orang bicara tolong di perhatikan" merasa di abaikan, pria itu mulai kesal dan berusaha mengejar saya.
Melihat pria itu mengejar, saya segera berjalan kearah petugas keaman bandara. "Pak tolong, ada orang mesum yg ingin menggoda pacar saya."
Setelah mengatakan keluhan, saya menjabat tangan petugas dengan raut wajah memelas sembari menyelipkan beberapa lembar kertas merah di tangannya.
Petugas yg terlihat acuh tak acuh itu segera mengerti dan dengan sigap memasukan kertas merah yg saya selipkan ke kantong celananya.
Jika sesuatu bisa di selesaikan dengan uang, kenapa repot repot banyak bicara.
Ini adalah konsep baru yg saya pelajari, tidak ada yg namanya baik dan benar, semua berdasarkan asas manfaat.
Pria sok suci tadi juga menegur saya bukan karena iman atau akhlak, tapi karena dia merasa iri dan ingin memberi pelajaran pada saya karena telah membuatnya iri.
"Kamu jangan buat keributan di bandara atau aku akan menangkap mu." Petugas keamanan segera menghalangi pria itu dan memberinya peringatan.
Bahkan tanpa di beri kertas merah, petugas akan tetap melakukannya tapi itu setelah semuanya menjadi sebuah keributan dan kami pasti akan masuk ruang interogasi yg sangat merepotkan.
"Pak... Orang ini tadi berbuat mesum di depan umum." Pria itu tidak mau kalah, tapi petugas keamanan segera membentaknya. "Lalu apa hubungannya dengan mu? apa dia berbuat mesum dengan istri mu?"
"...." Pria itu terdiam sambil memikirkan apa yg harus dia katakan, tapi sekali lagi petugas keamanan memberi pukulan telak. "Di sini saya petugas keamanan bukan anda, jadi jangan coba coba mengambil tugas orang lain. Cepat kembali, jangan ikut campur urusan orang lain."
"Ma.. maaf pak..." Pria itu sedikit menundukan kepala sambil sesekali melirik saya dengan tatapan kesal dan perlahan kembali ke tempatnya semula.
"Kamu juga, hati hati bersama wanita asing. Ajari apa yg boleh dan tidak boleh di lakukan di Indonesia, sebagai pria kamu harus bertanggung jawab pada wanita mu." Petugas itu juga memperingati saya agar lebih berhati hati dan tentu saja saya mengangguk sopan menerima saran petugas itu karena kata katanya tidak ada yg salah.
"Baik pak, terima kasih atas bantuannya."
"Sama sama, hati hati di jalan.."
Saya segera membawa Karin ke taxi dan segera pergi dari bandara.
"Apa yg terjadi tadi? Kenapa sepertinya aku membuat masalah."
"Itu memang ulah mu.." saya tidak menutup nutupi dan menceritakan apa sebenarnya yg terjadi tadi.
"Maaf maaf.. ini pertama kalinya aku ke Indonesia." Karen terlihat menyesal sambil memeluk lengan saya dengan erat.
__ADS_1
"Tidak masalah, lain kali jangan lakukan hal hal senonoh di depan umum."
"Yes bos..."Balas karen dengan tegas, tapi saya hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya melihat dia menyandarkan kepalanya di bahu saya.
"Aku bilang kita pacaran hanya sebagai kedok saja."
"Ohhh ok ok.. tidak apa apa." Karen segera mengerti maksud ku dan melapaskan tangannya yg memeluk lengan saya, lalu perlahan menjaga jarak.
"Kita akan mulai mengerjakan proyek itu besok."
"Begitu cepat, ayo ajak aku jalan jalan dulu. Ini pertama kalinya aku datang ke Indonesia."
"Tidak ada hal menarik di sini, lebih baik kita pergi setelah proyek itu selesai sekalian melakukan tes Drive nantinya."
"Ok kamu bosnya, tapi ngomong ngomong di mana aku akan tinggal?"
"Di apartemen ku, ada dua kamar kosong di sana."
"Siapa lagi yg tinggal di apartement mu?"
"Hanya aku."
"He he..."
"Apa yg kamu tertawakan?"
"Tidak ada.. lakukan saja sesuai Rancana mu."
Perjalanan berlangsung lama karena jam sibuk dan jalanan benar benar macet.
Butuh 2 jam untuk sampai di apartemen yg seharusnya hanya membutuhkan waktu 30 menit jika bukan jam sibuk.
"Gila...." Keluh Karen saat masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas karena apartemen saya ada di lantai yg paling atas.
"Karena itu saya menyarankan untuk memfokuskan proyek dulu sebelum berkeliling." Saya tersenyum geli melihat raut wajah lelah dari Karen sambil memencet angka lantai yg ingin di tuju.
"Minum sambil berendam di kolam renang pasti menyenangkan, apa ada kolam renang di apartemen mu?"
"Rooftop swimming pool."
"Luar biasa...." Sekita raut wajah Karen di penuhi oleh semangat seakan energinya tiba tiba pulih kembali. "Ayo bercinta... Maksud ku ayo berenang bersama.... He he he.." Karen tertawa canggung karena tidak sengaja mengungkapkan keinginan yg sebenarnya, tapi saya memberi anggukan ringan sebagai balasan yg membuat matanya sedikit berbinar sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
__ADS_1