JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 25 Pecicilan


__ADS_3

Satu jam setelah menjelaskan situasi pada Kristin, dia tiba di rumah sakit.


"Ada apa terburu buru, duduk dulu." Kata saya saat melihat Kristin yg terlihat terburu buru membuka pintu.


Tapi dia tidak menjawab dan langsung bergegas ke pelukan saya sambil memberi ciuman bergairah tanpa ada penjelasan.


"Ada apa dengan mu?" Tanya ku setelah Kristin melepaskan hisapan bibirnya.


"Pantas saja kamu bilang aku pelupa, kenapa kamu diam saja selama ini?" Keluh Kristin sambil mengencangkan pelukannya pada saya.


"Kamu saja yg tidak peka, menurutmu kanapa kita bisa bersama saat ini jika bukan karena saya mengenal mu. Apa menurut mu kecantikan mu saja sudah cukup untuk membuat ku jatuh."


Tapi ternyata jawaban saya salah dan sebagai hukuman, Kristin kembali menempelkan mulut penghisapnya di mulut saya dan mulai menghisap tanpa pandang bulu.


Hingga beberapa menit berlalu, Kristin akhirnya melepaskan bibirnya.


"Bagaimana dengan pertemuannya?"


"Aku sudah mengajukan proposal harga untuk mereka, sekarang tinggal menunggu keputusan dari pemerintah pusat untuk mengeluarkan dana."


"Lalu bagaimana dengan masalah bibi katrin?"


"Ayo kita segera buat surat nikah, saya sudah menghubungi orang dalam dan proses akan berlangsung cepat. Kita bertiga bisa mendapat buku nikah hari ini juga. Surat cerai bibi juga sudah di proses dan kartu keluarga akan menyusul setelah semua nya selesai di proses."


Saya mengangguk dan membawa Kristin duduk di sofa bersama yg lainnya.


"Kakak Kristin, terima kasih untuk semuanya." Cicilia segera memeluk lengan Kristin dengan manja dan Kristin membelai kepala Cicilia dengan penuh kasih. "Terima kasih sudah menjaga Wisnu."


"Kakak.. kita harus menjaga Wisnu bersama, kebaikannya sering membuat wanita salah paham."


"Ya ya kamu benar" Kristin mengangguk ringan dan mengalihkan perhatiannya pada Dian sambil memberi isyarat untuk mendekat.


Melihat isyarat Kristin, Dian dengan malu malu mendekat dan duduk di sisi Kristin.


"Semua akan baik baik saja, kamu tidak perlu cemas." Kristin dengan lembut membelai kepala Dian dan dian juga memberi anggukan ringan sebagai balasan.


Saya yg melihat semua ini hanya bisa menatap dengan heran karena semuanya terlihat seperti drama sinetron di tv.


"Cut..." Kata ku dengan gaya seperti sutradara. "Expresinya masuk, benar benar luar biasa. Ayo kita lanjut ke adegan berikutnya. Cicilia cepat buka makanan mu, adegan berikutnya adalah adegan makan siang. Kalian harus makan bersama sambil bercakap cakap dan sesekali membuat lelucon. Buat agar adegan makan menjadi hidup dan penuh kebahagian."


Sekarang giliran mereka bertiga yg memiliki expresi heran dan penuh kejutan sebelum di gantikan dengan wajah gelap.


"Sayang, apa kamu sangat merindukan ************ ku?"

__ADS_1


"Benar kak, monyet cabul ini sepertinya belum puas dengan ************ kita."


"Bli putu... Itu itu..." Wajah Dian langsung memerah dan panik sambil menutup selangkangannya.


Melihat sikap Dian, raut wajah saya semakin gelap dan berkata dengan tegas. "Jangan terlalu sering bergaul dengan Kristin dan Cicilia, mereka tidak baik untuk masa depan mu."


"Mmm.." Dian mengangguk malu, lalu menundukan kepalanya sambil memainkan jari tangannya.


Cicilia dan Kristin seketika memberikan tatapan curiga pada saya lalu pada Dian yg masih menunduk.


"Apa kamu menyukai Wisnu?" Tanya Cicilia tiba tiba dan di balas dengan anggukan ringan oleh Dian.


Tapi seketika Dian menggelengkan kepalanya dan berkata dengan panik. "Bukan bukan... Bukan seperti itu.."


"Oohhh maksudnya kamu mencintainya.."


"Ya ya... Bukan bukan... Itu tidak seperti itu.. sungguh... Dian menganggap bli putu hanya sebagai kakak.."


"Bagaimana jika Wisnu juga mencintai mu?"


"Itu... Itu... Kita hanya adik kakak, sungguh... Tidak mungkin bli putu mencintai Dian..." Dian segera menyusut di sofa dengan wajah yg benar benar merah padam.


Melihat penampilan Dian, Kristin dan Cicilia mentap saya dengan mata sipit yg penuh kecurigaan.


"Heh..." Kristin memberi senyum menghina pada saya sebelum menarik Dian untuk pergi bersamanya ke bagian pembayaran. "Jangan dekat dekat dengan Wisnu..."


"Ya kak.."


Melihat Kristin dan Dian keluar dari ruangan, saya segera duduk di sebelah Cicilia dan mulai menyajikan makanan yg dia pesan.


"Ayo makan"


"Suap.."


"Sejak kapan kamu jadi anak manja?" Walaupun begitu saya tetap menyuapi Cicilia.


"Terserah..." Cicilia segera menerkam siomay yg saya berikan sambil berpindah posisi ke pangkuan saya.


"Bayi besar..."


"He he he he, lagi lagi aaaaa" Cicilia kembali membuka mulutnya dan saya segera memasukan siomai ke dalam mulutnya.


"Kamu juga, aaaaa" Cicilia mengambil siomai dan mengarahkannya ke mulut saya.

__ADS_1


Saya tidak menolak dan segera menggigit siomai yg Cicilia berikan.


Waktu berlalu dan entah sejak kapan proses saling suap berubah menjadi proses saling menghisap yg lebih extrim.


Cicilia memberi ciuman agresif sambil memainkan lidahnya dengan liar tanpa memberi saya kesempatan untuk berkata kata.


Kedua tangannya memeluk kepala saya dengan erat dan kedua kakinya mengunci tubuh saya dengan posisi mengangkang.


Terhanyut dalam gairah yg membara, saya juga mulai meremas pantat Cicilia yg lengsung memicu agresifitasnya menjadi lebih liar.


"Brengsek..." Seketika teriakan dogles menghentikan tindakan kami dan Cicilia segera melompat ke sebelah saya.


Saat itu kami berdua melihat beberapa orang dengan seragam sekolah sudah berkumpul di dalam ruangan.


Ada dougles, Ratih, ayu, Tika, Harry, Hendra dan beberapa teman sekelas dari kelas IPS 1.


"Klee dah tak duga kamu sekarat karena Wisnu tidak masuk sekolah kan... Menikah saja sekalian..." Kata dogles dengan nada mengejek sambil meleparkan buah yg di bawa ke atas meja. "Bikin orang orang repot aja. Balikin uang buah kami."


"Jangan banyak bacot, duduk aja dulu. Sebentar lagi Cicilia akan pulang."


"Prett" doglas sedikit mencela dan segera duduk di sofa yg ada di depan ku bersama Ratih dan murid lainnya.


Harry dan Tika duduk di sofa sebelah kiri, ayu dan Hendra duduk di sofa sebelah kanan.


Ayu memberi tatapan rumit pada saya dan Tika memberi tatapan kesal pada saya.


Sedangkan saya hanya bisa menghela nafas dalam hati.


"Cicil, apa sebenarnya yg terjadi? Aku dengar dari guru kamu dalam situasi kritis yg mengancam nyawa." Tanya Ratih segera setelah semua orang duduk.


"Guru tidak salah, tapi berkat Wisnu aku segera pulih."


"Sudah kuduga, itu hanya penyakit cinta sialan..." Geram dogles tapi Ratih segera memukul kepalanya dengan kesal. "Diam saja kamu.."


"Kleee..." Dogles hanya bisa menggosok bagian kepala yg di pukul oleh Ratih sambil berkata dengan kesal. "Gak bisa serius kali anak ni."


"Jadi benerkan kalian pacaran?" Tanya ayu secara tiba tiba.


"Kamu sudah punya Hendra, untuk apa kamu peduli dengan hubungan kami?" Balas Cicilia dengan ketus yg membuat ayu sedikit kesal.


"Cicilia benar... kamu sudah punya Hendra jadi fokuslah dengannya, jangan pecicilan seperti sebelumnya. Kamu memang cantik, tapi bukan berarti kamu bisa mencintai semua pria secara bersamaan. Pria juga punya harga diri, gak ada pria yg mau berbagi wanita mereka dengan pria lain." Kata kata saya langsung membuat expresi ayu berubah sedih.


Jika itu dulu, saya mungkin akan merasa tidak nyaman. Tapi sekarang hal itu sudah tidak berpengaruh lagi karena saya sudah menetapkan hati saya pada Kristin dan Cicilia.

__ADS_1


Lebih baik mencintai orang yg mencintai kita dari pada mengejar seseorang yg kita cintai tapi kita tidak tahu pasti apakah dia benar benar akan mencintai kita.


__ADS_2