JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 24 Masalah baru


__ADS_3

Setelah menghubungi Kristin dan menceritakan semuanya, dia segara mengadakan janji temu dengan pak Joko.


Hanya selang beberapa jam setelah kepergian pak Joko dan temannya, Cicilia juga segara bangun dari tidurnya yg bertepatan dengan kedatangan dokter yg merawat Cicilia.


Tentu saja, dokter itu langsung terkejut melihat Cicilia yg sudah sehat dan segera melakukan beberapa tes pada Cicilia untuk memastikan kondisi fisiknya.


"Ayo mandi bersama, kamu juga terlihat kotor." Tawaran Cicilia datang setelah semua tes kesehatan selesai.


Tapi melihat wajah mesum dengan sedikit menggigit bibir, saya tahu mandi yg dia maksud tidak sesederhana mandi untuk membersihkan diri.


Tentu saja saya tidak menolak dan segera membawanya ke kamar mandi.


Berbagai teknik mandi tingkat tinggi segera di praktekan, suara cipratan air bergema secara konstan di ikuti oleh ******* ******* lembut.


Rata rata wanita menghabiskan waktu untuk mandi adalah 30 menit, sedangkan untuk pria adalah 15 menit.


Tapi jika itu pria dan wanita yg mandi bersama, maka waktu yg di butuhkan adalah 1-2 jam.


Mandi bersama membuat Cicilia sangat bahagia dan sesekali dia akan bersenandung nada yg tidak saya kenal.


Setelah mengenakan pakaian yg baru, kami berdua duduk santai di sofa sambil membahas apa yg akan di lakukan di masa depan.


"Pesan makanan... Aku mau siomay spesial yg ada di Renon, pokoknya pedas super seperti biasa.."


Saya hanya menatap bingung pada Cicilia yg memerintah dengan semena mena, tapi Cicilia segera memberi tatapan mengancam sebagai balasan yg membuat saya hanya bisa menghela nafas dan bergegas memesan makanan yg dia inginkan via aplikasi online.


Karena lokasi pemesanan agak jauh, butuh waktu satu jam agar makanan bisa sampai di lokasi kami.


"Tok tok tok... Permisi pak.. pesan makanan online?" Suara wanita terdengar dari luar pintu kamar.


"Ya ya tunggu sebentar.." Cicilia berlari dan membukakan pintu untuk driver pengirim makanan.


Setelah beberapa saat Cicilia kembali membawa sekantong makanan bersama dengan driver pembawa makanan yg mengikutinya dari belakang. "Wisnu.. driver ini mengaku sebagai saudari mu.."


Saya seketika mengamati driver yg mengenakan jaket hijau dengan masker hitam yg menutupi wajahnya.


Walupun tidak terlihat jelas, tadi dari sorot matanya saya tahu siapa driver online ini. "Kanapa kamu jadi driver ojol (ojek online)?"


Namanya adalah Dian anggreni, anak perempuan dari adik bapak saya yg bernama alit Wiguna. "Bli putu..." Entah kenapa saya melihat mata Dian mulai memerah dan segera melemparkan diri pada saya.

__ADS_1


Tentu saja sebagai kakak yg baik saya segera menangkapnya dan perlahan membawanya duduk di sofa. "Ayo ceritakan... Ada apa sebenarnya? Tidak mungkin pak alit membiarkan mu jadi driver ojol."


"Bli putu... Whuuu... Bapak.... Sudah tidak ada... Whuuuuu whuuuuuu." Merasakan tangisan Dian semakin keras, saya segera memberinya pelukan sambil mengusap usap punggungnya untuk menenangkannya.


Tidak perlu kata kata menghibur untuk hal seperti ini, cukup biarkan saja dia melampiaskan rasa sedihnya.


Beberapa menit berlalu dan akhirnya tangisan Dian mulai mereda. "Apa kamu sudah baikan.."


"Bli putu... Bapak sudah gak ada.. katanya gara gara bapak tidak datang saat upacara besar waktu ini... Jadi Dian dan ibu harus melakukan upacara besar untuk bisa membawa roh bapak ke surga... Dian dan ibu tidak punya uang... Biayanya bisa sampai 150jt..."


Melihat wajah sedih dian, saya kembali menghela nafas. Saya tidak tahu harus berkata apa, akhir akhir ini saya terlalu sering menghela nafas yg tidak baik untuk kesehatan.


Tapi saya benar benar merasa aneh dengan logika orang orang ini, ada apa dengan biaya sebesar itu hanya untuk sebuah mayat. Jadi tentu saja saya harus mengusutnya karena rasa penasaran saya. "Siapa yg berkata seperti itu?"


"Itu.. bapak bli putu bersama para tetua yg lainnya."


"Kenapa tidak suruh mereka saja yg mengeluarkan biaya? Mereka hanya bisa bacot serasa mereka adalah utusan Tuhan saja. Dari mana mereka bisa yakin bahwa arwah bapak mu akan masuk surga jika melakukan upacara besar seperti itu? Apa mereka pernah ke surga? Mau saja kamu di tipu oleh badut melompat ini..." Saya berkata dengan kesal sambil mengacak acak rambut Dian.


"Ibu juga berkata begitu... Tapi kita tidak bisa melakukan apa apa... Kita tinggal di rumah keluarga besar dan harus mengikuti aturan di sana. Jika tidak kami akan di kucilkan oleh masyarakat di sana."


"Telpon ibu mu, biar bli putu bicara denganya."


"Halo Bu.. bli putu ingin bicara.."


"..."


"Bli putu siapa lagi, emang berapa Dian punya bli putu?"


"..."


"Jangan bercanda Bu.." setelah berteriak kesal dian segera memberikan hpnya pada saya dengan pipi yg sudah memerah.


Tapi saya tidak terlalu peduli dengan semua itu dan langsung fokus ke inti masalah.


"Bibi Katrin, saya sudah mendengar semuanya dari Dian. Saya punya usulan yg mungkin membuat bibi tertarik dan bisa menyelesaikan masalah bibi."


"...."


"Begini bi.. saya akan menikah dengan Kristin melalui pengadilan, lalu membuat kartu keluarga sendiri yg terpisah dengan bapak saya. Jika bibi mau, bibi bisa menceraikan pak alit dan masuk ke kartu keluarga saya. Saya bisa membantu untuk semua urusan administrasi. Saya juga bisa menyediakan rumah untuk bibi tinggali."

__ADS_1


"...."


"Tentu saja Kristin keponakan bibi yg dulu pernah datang berkunjung ke rumah saat saya berumur 10 tahun. Dia sekarang adalah pengusaha sukses, jika saya memintanya dia pasti akan menurutinya. Apalagi bibi Katrin adalah bibi kesayangannya."


"..."


"Tidak bi.. saya tidak akan mengijinkan Kristin meminjamkan uang untuk hal seperti itu. Bagi saya bibi hanya membuang buang uang saja dan itu bukan solusi jangka panjang. Apa bibi ikhlas mengeluarkan uang terus menerus untuk sesuatu yg tidak jelas?"


"..."


"Mmm.. baiklah, saya akan menghubungi Kristin agar segera menghubungi bibi."


"..."


"Ya ya sekolah Dian juga akan saya urus, bibi tidak perlu khawatir."


"...."


"Tenang saja bi.."


Saya mematikan telpon dan menyerahkannya kembali pada Dian.


"Bli putu, gmn?" Tanya Dian dengan raut wajah cemas.


Melihat ini, saya tersenyum dan kembali mengacak acak rambut Dian. "Mulai sekarang kamu tinggal di rumah bli putu, semua kebutuhan akan bli putu sediakan."


"Lalu bagaimana dengan ibu?"


"Bli putu akan mengurusnya, kamu masih kecil jadi fokus saja pada sekolah mu."


"Dian bukan anak kecil lagi, Dian sudah besar." Dian berkata dengan kesal sambil melipat kedua tanganya di dada untuk menaikan dadanya yg sedikit menonjol.


Bibir saya sektika berkedut dan segera memberinya sentilan ringan di dahi. "Katakan pada bli putu, dari mana kamu dapat akun ojol ini."


"Itu..." Dian menunduk malu sambil menggosok dahi putihnya yg baru saya sentil. "Sebenarnya itu akun bapak, sebelum menikah dengan ibu. Karena banyaknya kegiatan upacara dan masyarakat setelah menikah, jadi bapak tidak pernah ojek lagi."


"Bagus.." saya menepuk pundak Dian sebelum melanjutkan kata kata ku. "Pak alit memilih hal yg benar, lihat saja sekarang. Di mana masyarakat yg sering dia habiskan waktunya untuk di bantu. 17 tahun sejak kamu lahir dan setengah dari waktu itu di gunakan untuk masyarakat. Jika 17 tahun di gunakan untuk narik ojol, berapa uang yg kalian punya. Jangan berdalih dengan alasan manusia adalah mahluk sosial, buktinya sekarang mereka hanya nyumbang mulut sampah mereka. Ada yg membantu kalian? He he he he jangan bermimpi. Paling mereka hanya mengucapkan turut berbelasungkawa sambil berkata 'gara gara ini lah, gara gara itu lah'."


Dian segera mengembungkan pipinya dengan raut wajah kesal dan segera memberi sundulan kepala ke perut saya. "Masih bisa mengejek bapak Dian..."

__ADS_1


__ADS_2