
Saat saya mengambil tas saya yg ada di bangku paling belakang, Cicilia dengan tatapan ganas dengan cepat mendekati saya.
Semua teman sekelas juga mulai bersorak seakan ada pertunjukan sabung ayam.
"Cicil.. itu hanya bercanda, jangan di anggap serius."
Tapi cicilia segera menarik kerah saya sambil berkata dengan nada kesal. "Bercanda apa mmmmm"
Saya benar benar terkejut karena tiba tiba bibir kami bertemu satu sama lain.
Cicilia melebarkan matanya dengan penuh kejutan dan entah sejak kapan tangannya yg memegang kerah saya tiba tiba berubah menjadi memeluk leher saya.
Saya juga tidak tahu harus berbuat apa, semua terlalu tiba tiba.
Setelah beberapa detik saya menyentuh pinggang Cicilia untuk mendorongnya menjauh, tapi anehnya cicilia malah menekan saya ke belakang hingga punggung saya membentur dinding.
"He he he he" tawa dougles terdengar dari belakang Cicilia yg ternyata menjadi biang kerok semua ini.
Semua teman sekelas mulai bersorak dan bertepuk tangan.
Posisi saya juga terlihat sangat aneh, karena tangan yg awalnya ingin memegang pinggang cicilia berakhir dengan memeluk pinggangnya.
Setelah sekian detik cicil melepaskan bibirnya dari bibir saya sambil mengutuk saya dengan suara lemah. "Brengsek..."
Cicilia menginjak sepatu saya dengan kesal dan segera berlari ke luar kelas dengan pipi yg sedikit memerah.
"Dogles ******...." Saya berteriak kesal pada dogles yg sudah berlari keluar kelas sambil tertawa terbahak bahak.
Saat itu saya melihat ayu yg menatap saya dari luar jendela dengan tatapan penuh kesedihan.
Saya tidak tahu kenapa hati saya terasa sakit setiap melihat ayu bersedih, tapi tidak ada yg bisa saya lakukan.
Sambil menunduk kepala, saya perlahan keluar dari kelas. Tapi saat itu saya di cegat oleh Harry. "Bro.. dengarkan dulu penjelasan dari kami. Semua tidak seperti yg kamu pikirkan, ayu sebenarnya sangat mencintai mu."
__ADS_1
Saya menoleh ke arah ayu yg masih dengan tatapan memelasnya, jadi saya memutuskan untuk mendengarkan penjelasan mereka.
Teman teman sekelas juga ikut berkumpul untuk mendengar percakapan kami karena rasa penasaran.
Semakin lama, semakin banyak orang orang berkumpul dan akhirnya para adik kelas juga ikut menambah kemeriahan.
Mendengar penjelasan dari Harry, saya kembali mendesah tak berdaya lalu menatap ayu sambil berkata. "Aku punya uang lima juta, jadi apa kamu mau memberikan tubuh mu jika aku membayar mu 5jt?"
Ayu langsung terkejut mendengar kata kata saya dan matanya mulai memerah.
Melihat ini saya kembali berkata padanya. "Aku tidak tahu upacara sesat apa yg keluarga besarmu lakukan sampai sampai kamu harus menjual dirimu seperti itu. Kamu pikir aku akan Sudi kembali pada wanita yg tega menjual dirinya hanya untuk upacara yg tidak jelas. Kemarin mungkin hanya ciuman, tapi aku tidak tahu kedepannya mungkin ************ mu."
"Wisnu... Tarik ucapan mu.." Harry berteriak penuh amarah.
"Jika tidak..." Tapi saya hanya menjawab dengan nada main main.
Saya melihat tatapan marah Harry tanpa ada niat untuk mengalah dan semua siswa juga mulai bersorak untuk mendorong kami berkelahi.
"Semua salah ayu... Ayu minta maaf... Ayu benar benar minta maaf... Whuuuuu..." Melihat ayu kembali menangis seperti itu, hati saya kembali terasa sakit dan pikiran saya kembali kacau.
"Tidak bisakah kamu berhenti menangis, kamu tahu saya masih sangat mencintai mu. Melihat mu menangis seperti ini membuat hati ku sakit." Saya hanya bisa mengatakan isi hati saya yg sebenarnya, karena pikiran saya juga sedang bingung untuk saat ini.
"Ayu juga sangat mencintai mu... Ayu tidak mau berpisah dengan mu..." Saya melihat ayu mendekati saya dan perlahan memeluk saya sambil membenamkan wajahnya di dada saya.
"Jangan putus... Ayu berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi..."
Saya bisa merasakan rasa cinta yg dalam dari ayu, tapi hal hal tidak semudah itu untuk di maafkan.
Hal yg membuat saya marah adalah ayu melakukan itu demi ajaran tiga dewa sialan itu.
Tidak ada jaminan jika suatu hari ayu tidak akan melakukan hal yg lebih gila lagi demi ajaran tiga dewa.
"Saya akan jujur pada mu, bahwa saya sangat membenci ajaran tiga dewa. Orang tua saya selalu bertengkar karena ajaran ini dan hidup saya di penuhi oleh tekanan karena ajaran ini. Hubungan kita di takdirkan kandas di tengah jalan. Jika tidak sekarang maka itu akan terjadi di masa depan karena perbedaan keyakinan kita." Saya membelai rambut ayu dengan penuh kasih yg membuat pelukan ayu semakin erat.
__ADS_1
"Tidak mau... Ayu tidak mau berpisah..." Melihat ayu yg seperti ini, saya hanya bisa menghela nafas tak berdaya. "Bukankah kita masih bisa berteman, kita masih bisa saling bertemu dan mengobrol satu sama lain. Selama ini juga hubungan kita seperti seorang teman, tidak ada yg istimewa. Dengan begitu kita tidak akan saling menyakiti seperti saat ini. Kamu bisa bebas berkencan dengan pria lain atau melakukan apa pun yg kamu inginkan tanpa perlu merasa bersalah seperti saat ini."
"Lalu kenapa ayu tidak bisa menghubungi mu dari kemari?"
"Hp saya dilindas mobil, mungkin besok baru beli yg baru. Nanti saya akan menghubungi mu jika saya sudah mendapatkan hp baru." Walaupun saya sudah mendapatkan hp baru, tapi hp itu sudah masuk ke dalam penyimpanan tak terbatas berserta boxnya. Jadi untuk saat ini saya di biarkan tanpa hp.
"Ayu.. ayu.. punya hp lama yg tidak terpakai." Ayu dengan panik memeriksa tasnya dan mengeluarkan smartphone seri lama dan menyerahkannya pada saya. "Bisanya ayu pakai untuk mendengarkan musik, sudah berisi SIM dan kuota internet untuk chat. Itu no lama ayu yg tidak terpakai lagi. Pakai ini dulu.."
Saya memeriksa hp itu sambil tersenyum geli pada ayu. "Apa ibu mu tidak marah jika ganjalan pintu rumah mu kamu bawa kemana mana."
Ayu terkejut mendengar kata kata saya dan segera mencubit pinggang saya sambil berkata dengan kesal. "Rumah ayu tidak semewah itu sampai harus menggunakan iphon sebagi ganjalan pintu."
"Maaf saya lupa jika rumah mu tidak memiliki pintu."
"Mm" ayu menganggu sesaat sebelum terdiam.
Saya hanya tertawa kecil sambil memasukan hp yg di berikan oleh ayu ke saku celana saya.
"Menipu lagi..." Ayu kembali memberi cubitan di pinggang saya, tapi dari senyumnya saya tahu bahwa dia sudah tidak sedih lagi.
"Cubitan mu terasa geli, makanlah lebih banyak agar memiliki sedikit tenaga."
"Salah siapa?"
"Salahkan orang tua mu, kenapa menatap ke arah ku."
"Semua salah mu.. pokoknya salah mu..."
"Bilang saja kamu tidak punya uang untuk makan, ayo biar oppa Wisnu mentraktir mu makan hari ini."
"Baik oppa..." Ayu memeluk lengan saya dengan manja dan segera semua siswa mulai bertepuk tangan menyaksikan ending yg lebih baik.
Tapi dalam hati saya hanya bisa menghela nafas, hanya ini satu satunya cara untuk menangkan ayu. Teknik teman tapi mesra yg legendaris yg pernah tren di tahun 2009 silam.
__ADS_1