JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 35 kembali ke rumah


__ADS_3

"kak, bukankah itu Wisnu!!" seru fina yg sedang menonton pertarungan Wisnu dan Karen.


"aku sudah merasa ada yg tidak beres dengannya" expresi intan menjadi semakin serius.


hampir seluruh penduduk Indonesia menyaksikan siaran langsung dengan berbagai expresi di wajah mereka.


beberapa menikmati keseruan pertarungan Wisnu dan Karen.


beberapa merasa ketakuatan melihat kekuatan yg mereka tunjukan.


beberapa menunjukan expresi yg penuh harapan.


beberapa kelompok merasa khawatir, terutama kelompok pemerintahan.


di sisi lain, Wisnu dan Karen sama sekali tidak peduli dengan semua itu dan fokus membantai semua monster yg muncul.


waktu berlalu...


level Karen meningkat satu demi satu.


berbagai jenis monster datang silih berganti seperti seperti ngengat yg terjun ke dalam bara api.


hingga waktu menunjukan jam 5 pagi, gelombang monster terakhir akhirnya berhasil di selesaikan.


Wisnu dan Karen mulai memunguti drop item yg berceceran di sekitar mereka.


"Wisnu, aku sudah di level 30. bagaimana dengan mu?"


Wisnu mengangkat bahu dengan expresi tak berdaya. "aku hanya naik 5 level, sekarang ada di level 25"


"kenapa begitu lambat?"


"job class ku memiliki kebutuhan exp dua kali lipat dari pada job class lainnya"


"apa itu luar biasa?"

__ADS_1


"bisa di bilang seperti itu"


satu demi satu orang orang mulai bermunculan dan mendekat ke arah wisnu.


"wisnu, aku ingin bicara dengan mu" intan segera berkata.


"aku pikir kamu sudah melupakanku?" saya tersenyum main main.


"jangan seperti itu, bukankah kamu sudah berjanji pada ku"


Saya hanya mengangkat bahu dan segera membuka portal teleportasi.


"he he he itu dulu" saya segera memeluk karen dan masuk ke dalam portal teleportasi dan menghilang di depan semua orang.


segera kehebohan terjadi saat melihat kami berdua pergi menggunakan portal.


Hal hal yg berbau sihir seperti ini masih sangat langka di kalangan semua orang.


mereka bahkan tidak pernah berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan kemampuan seperti itu jika mereka mau meningkatkan level mereka.


"sepertinya di bali belum ada tanda tanda kemunculan monster" karen mengamati sekeliling melalui jendela mini bus dengan expresi penasaran.


"itu lebih baik, jadi kita bisa sedikit bersantai" saya tersenyum ringan mendengar perkataan karen.


satu jam perjalanan, akhirnya wisnu dan karen tiba di rumah keluarga besar wisnu.


turun dari mini bus, wisnu dan karen di beri tatapan aneh oleh orang orang berpakaian hitam yg berkumpul di depan rumah.


"siapa yg mati?" saya bertanya pada salah satu orang.


"pak dian sama buk dian" jawab orang itu.


"oooo" saya mengangguk.


pak dian adalah paman saya, karena anaknya bernama dian jadi orang orang bisa memanggil nama orang tua dengan nama anak mereka.

__ADS_1


di masa lalu dian juga sempat berkata bahwa ayahnya meninggal, tapi kenapa ibunya juga ikut meninggal.


dari pada bertanya pada orang lain lebih baik langsung bertanya pada sumbernya.


mengabaikan tatapan semua orang, saya dan karen masuk ke dalam rumah.


sama seperti di luar, semua orang yg ada di dalam rumah menatap saya dengan tatapan penasaran dan heran.


"bli putu" dian adalah yg paling cepat mengenali saya dan bergegas memberi saya pelukan yg kuat.


lalu kedua orang tua saya juga mulai mendekat.


"karen, bagaimana kamu bisa sampai di sini? Bagaimana kamu bisa bersama wisnu?" ibu ku segera menghampiri karen dengan wajah yg penuh kejutan.


"he he he, aku tidak sengaja bertemu kakak wisnu di media sosial dan akhirnya kami membuat janji di jakarta." karen memeluk lengan saya dan menggosokkan kepalanya dengan manja.


"bu jangan bilang karen adalah anak ibu setelah die*t*t oleh bule di luar negeri"


"...." ibu ku hanya diam, tapi ayah ku sudah menunjukan raut wajah yg penuh amarah.


"apa maksudnya ini?"


melihat emosi ayah saya mulai meluap, saya dengan cepat berkata dengan nada sinis. "jangan sok suci, m*m*k siapa yg tidak pernah kamu sodok di desa ini"


"jangan asal bicara dasar anak durhaka" ayah saya ingin bergegas menampar pipi saya, tapi tiba tiba tubuhnya berhenti bergerak dan dia segera terlempar ke bekakang.


Semua orang terkejut melihat kejadian itu dan perlagan kengerian muncul di wajah mereka.


"bli putu yg ada di tv itu kan, dian yakin itu pasti bli putu" dian tiba tiba berkata dengan penuh semangat.


"ayo bicara di tempat lain, aku juga ingin dengar kenapa orang tua mu bisa meninggal." saya menepuk kepala dian dan dia segera menganggukkan kepala sambil menarik lengan ku. "ayo bicara di kamar dian."


"karen, kamu tunggu di sini" kata ku sebelum mengikuti dian.


"ya ya, jangan terlalu lama." balas karen dengan santai.

__ADS_1


__ADS_2