
Pagi hari semua terasa seperti mimpi, kekacauan kemarin malam sudah hilang tanpa bekas.
keluar dari kamar tidur, saya melihat Karen dengan kaus ketatnya dan celana jin pendek sedang menikmati sarapan pagi.
"aku membuatkan roti isi dari bahan bahan yg ada di lemari pendingin, makanlah lalu antar aku ke lokasi pengerjaan proyek." kata Karen dengan santai sambil menikmati sarapan paginya.
"biar aku mandi dulu" tapi saya segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas pagi dan sekalian mandi.
hal ini sudah menjadi kebiasaan saya untuk mandi pagi sebelum melakukan aktivitas apapun di pagi hari.
"cepatlah atau makanan mu akan dingin.." teriak Karen yg terdengar dari luar.
"ok ok..." tentu saja saya membalas dengan teriakan yg sama agar dia juga bisa mendengar.
hanya butuh 10 menit dan saya segera keluar dari kamar mandi lalu bergabung dengan Karen di meja makan.
"aku sudah mempelajari cetak biru mini bus yg kamu berikan, pertanyaannya untuk apa kamu terobsesi membuat hal seperti itu? apa kamu bosan tinggal di apartemen?" Karen memulai percakapan dengan pertanyaan yg langsung mengenai inti masalah.
"anggap saja cita cita saya sejak kecil." susah untuk menjelaskannya saat ini jadi saya sedikit berbohong padanya.
"terdengar seperti omong kosong di telinga ku, tapi karena kamu sudah membayar untuk perjalanan ini maka aku akan menyelesaikan semuanya dan setelah itu ingat janji mu untuk mengajakku jalan jalan ke pulau Bali, semua biaya adalah tanggung jawab mu."
"tentu saja, semakin cepat selesai maka semakin cepat kamu bisa ke Bali."
"satu bulan... dalam satu bulan aku jamin semuanya akan selesai." Karen menegaskan dengan tatapan penuh keyakinan dan saya mengangguk tanda keyakinan akan kemampuannya. "baguslah."
setelah sarapan pagi, saya membawa Karen ke garasi yg sudah saya sewa khusus untuk memodifikasi mini bus tidak jauh dari gedung apartemen saya.
di dalam garasi sudah ada mini bus dengan transmisi automatis dan berbagai bahan bahan modifikasi.
pertama isi di dalam mini bus segera di kosongkan dari jok penumpang dan bahkan jok sopir.
setelah bagian dalam kosong, Karen mulai membongkar jendela dan kaca depan bus.
baru setelah itu Karen mulai memasang plat pelindung tambahan untuk mini bus.
__ADS_1
butuh beberapa hari sampai plat tambahan terpasang sebelum Karen mulai memodifikasi mesin dan suspensi mini bus.
hari hari berlalu begitu saja, tapi kali ini ada sesuatu yg berbeda seperti biasanya.
saat kembali dari garasi bersama Karen, saya bertemu dengan Fina dan intan di dalam lift.
mereka masing masing membawa pasangan mereka, tapi sepertinya intan sudah menikah karena dia terlihat menggendong anak berumur 2 tahun.
untungnya mereka sepertinya sudah melupakan ku, tapi pria yg di duga suami intan adalah pria yg saya temui di bandara tempo hari.
"kamu pria mesum yg waktu itu kan?" tanya pria itu dengan nada menghakimi.
dalam hati saya hanya bisa menghela nafas tak berdaya karena saya paling malas berurusan dengan orang yg suka mengurusi urusan orang lain seperti ini.
"maaf mungkin kamu salah orang." jawab saya dengan malas.
"aku yakin itu kamu." tapi pria itu tetap tidak mau kalah.
"sayang.. ada apa ini?" tanya intan dengan raut wajah penasaran.
"tetap saja hal itu tidak benar dan menyalahi ajaran allone." pria itu masih tidak terima. "menurut hukum ajaran allone, mereka harus mendapat hukum cambuk."
"pffttt" saya benar benar tidak bisa menahan tawa mendengar kata kata pria itu yg semakin membuatnya naik pitam. "apa yg kamu tertawakan, apa menurutmu itu lucu?"
saya mengangguk dan berkata. "mas, ini negara Indonesia bukan negara allone. bisa bisa saja menerapkan hukum ajaran mas, tapi itu tidak boleh bertentangan dengan hukum dan aturan di Indonesia. melakukan penganiayaan hukum cambuk yg mas katakan sudah bertentangan dengan aturan dan hukum di Indonesia, tapi jika mas memaksa menerapkan hukum hukum ajaran allone berarti mas sudah berniat menentang hukum dan aturan negara Indonesia yg artinya mas bisa di anggap sebagai *******."
"...." pria itu langsung terdiam dengan raut wajah rumit, suasana left juga menjadi canggung.
"Ting" untungnya lift segera berhenti dan pintu lift segera terbuka.
ini adalah lantai teratas yg bisa di capai lift umum dan untuk ke apartemen saya, butuh lift khusus yg hanya bisa di akses dengan kunci kartu.
saat memasukan kunci kartu, lift akan membawa kita langsung ke pintu apartemen kita.
saya keluar dari lift bersama Karen yg masih menunjukan expresi acuh tak acuh di ikuti oleh rombongan intan dan Fina.
__ADS_1
"mas.. apa kita pernah bertemu sebelumnya? kenapa rasanya wajah mas begitu akrab?" mata tajam intan sebagai polisi memang tidak bisa di anggap remeh dan saya juga tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darinya.
sudah beberapa tahun berlalu dan saya yakin dia tidak akan mempermasalahkan hal hal yg dulu pernah saya lakukan.
"oohh saya anak kecil yg kakak ingin culik waktu di bus Surabaya Jakarta, untung saja waktu itu saya tidak tergoda oleh rayuan kakak." jawab saya dengan nada bercanda yg langsung membuat mata intan dan Fina melebar.
mungkin karena perubahan yg drastis membuat saya terlihat benar benar berbeda dari 5 tahun yg lalu.
50 poin stat di masing masing atribut juga memainkan peran penting dalam perkembangan fisik saya.
secara sekilas orang orang akan mengira saya adalah pria berumur 20 tahun dengan tinggi dan bentuk tubuh yg proposional.
jika saya menggunakan kaos ketat, mungkin bentuk tubuh dan lekukan otot saya bisa membuat sebagian wanita basah... mungkin.....!
atribut luck juga memberikan karisma tertentu yg membuat saya terlihat menarik di mata para wanita.
"Wi.. Wisnu... jadi kamu selama ini bersembunyi di sini..." Fina berkata dengan penuh kejutan dan mata lebarnya perlahan mulai menyipit lalu berubah menjadi tatapan kesal.
berbeda dengan Fina, expresi intan tiba tiba berubah menjadi serius. "saat itu aku mencari informasi tentang mu dan ternyata kamu adalah anak yg hilang dari Bali. kenapa kamu kabur dari rumah? apa kamu tidak pernah menghubungi orang tua mu? mereka pasti sangat mencemaskan mu."
saya mengangkat bahu sambil berkata dengan acuh tak acuh. "Mereka hanya menghambat tujuan saya dan mempersulit hidup saya."
"tapi mereka orang tua mu, merekalah yg membesarkan mu. kamu tidak seharusnya bersikap seperti anak durhaka." balas intan dengan tegas tapi saya melambaikan tangan saya dengan sikap malas sambil berkata.
"Urus urusanmu sendiri."
Setelah mengatakan itu saya mengabaikan mereka dan menuju lift khusus yg ada di ujung lorong bersama Karen.
intan yg terdiam karena penjelaskan saya segera menyerahkan anak yg dia gendong pada suami nya. "Tunggu Wisnu.. ada sesuatu yg ingin aku bicarakan."
"kami lelah, bicara saja besok." balas saya sambil terus berjalan menuju lift.
"beri no hp mu." intan mengeluarkan hpnya dan bersiap mencatat no hp saya.
"08....." saya dengan cepat memberi tahu no hp saya sebelum masuk ke dalam lift bersama Karen.
__ADS_1