
Di lapangan upacara, pak Joko hanya memberi pengumuman singkat tentang acara kamp pelatihan yg akan di adakan di markas tentara angkatan darat 742 di Tuban Senin depan.
Tujuan pelatihan adalah untuk membekali para siswa dengan kemampuan pertahan diri untuk menghadapi situasi di masa depan.
Segera setelah pengumuman selesai, saya segera membawa Cicilia ke gedung kosong di belakang sekolah.
"Kamu tahu apa yg akan terjadi pada mu saat ini?" Saya menyandarkan Cicilia di dinding sambil menatapnya dengan tatapan mengancam.
"Jangan banyak omong kosong, lakukan dengan cepat. Sebentar lagi kita masuk kelas, jangan bilang kamu hanya bisa menggertak."
Melihat kesombongan Cicilia, saya juga tidak mau kalah dan segera menempelkan tubuh saya ke tubuhnya. "Jangan menyesal nantinya."
"Banyak bacot.." Cicilia segera mencium bibirku dan saya juga mulai memainkan lidah saya untuk memberi perlawanan.
Awalnya Cicilia hanya menerima secara pasif, tapi setelah beberapa saat dia mulai mengimbangi permainan lidah saya.
Setelah beberapa menit, Cicilia mulai melepaskan ciumannya dan tangannya mulai melepas sabuk celana saya denga terburu buru. "Cepatlah, waktu kita terbatas."
"Bodo amat lah.." balas ku setelah mendengar desakan Cicilia.
Saya tidak peduli lagi tentang yg lainnya karena harga diri pria di pertaruhkan di sini.
Jika saya mundur saat ini, maka Cicilia pasti akan terus mengejek saya dan sikapnya akan semakin semena mena.
Jadi biarkan dia merasakan bagaimana pria sejati bertindak.
Karena Cicilia melepas ikat pinggang celana saya, maka saya langsung mengangkat rok nya dan mulai melepas ****** ********.
Sangat mudah untuk melepasnya, cukup niatkan saja cenala dalam Cicilia untuk di bawa ke penyimpanan tak terbatas dan secara otomatis ****** ******** langsung menghilang.
"Sstttt" desis Cicilia saat senjata saya perlahan menusuk ke lubang miliknya.
Sangat sempit dan seperti ada sesuatu yg menghalangi ujung senjata saya untuk menerobos masuk lebih dalam.
Tapi saya memaksakan senjata saya untuk masuk dan akhirnya dengan sedikit tambahan tenaga, penghalang itu seperti hancur berkeping keping.
"Mmmm" geram Cicilia sambil mengaitkan kedua tanganya di leher saya dan mengencangkan kedua kakinya yg memeluk pinggang saya.
Perlahan saya mulai menggali sedikit demi sedikit dan tangan cicilia juga mulai meremas rambut kepala saya.
Beberapa detik berlalu dan cairan pelumas mulai memenuhi lubang galian yg sedang saya gali.
Cicilia juga perlahan menggerakan pinggulnya untuk mengikuti irama permainan saya.
"Kamu terlihat lebih seperti monyet cabul."
"Jangan banyak bicara.... Mmmm... Percepatlah... Huh huh... Jangan sampai telat masuk... Mmm kelas..." Mendengar suara terbata bata Cicilia, saya mulai mempercepat proses penggalian dan menggunakan seluruh panjang senjata saya untuk menggali.
Segera saya merasa dinding galian terus di hantam oleh ujung senjata saya secara bertubi tubi.
Tubuh Cicilia juga terlihat semakin gelisah dan menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Brengsek... Kamu brengsek..." Setelah memaki sebentar, Cicilia mulai menghisap leher saya sambil mengencangkan pelukannya.
__ADS_1
Menit demi menit berlalu dan akhirnya 30 menit terlewati begitu saja.
"Wisnu... Ayo berhenti... Huh huh huh aku tidak tahan... Aku menyerah... Mmmm ini sudah yg kedua... Huh huh dan kamu masih belum selesai... Huh huh... Ayo lanjutkan besok saja..."
"Sedikit lagi... Sabarlah..."
"Brengsek kamu Wisnu.... Aku sudah tidak tahan... Huh huh... Kita sudah telat masuk kelas...."
Saya sudah tidak peduli lagi dengan kelas, pakaian kami berdua sudah berserakan di lantai dan kami sudah bermain seperti ini. Jadi untuk apa lagi memikirkan tentang kelas.
"Saya akan keluar..."
"Lakukan didalam... Cepatlah... Aku juga sudah di puncak..."
Setelah beberapa detik, tubuh kami sama sama menegang dan cairan putih susu segera di tembakan ke dalam lubang galian Cicilia.
Perlahan, Cicilia menyandarkan kepalanya di bahu saya untuk sesaat sebelum melepaskan pelukannya dan mulai membersihkan susu putih yg keluar dari lubang galian miliknya.
Di antara susu putih itu, saya juga melihat sedikit bercak darah yg tertingga.
"Perawan.." kata saya dengan penuh kejutan.
"Heh.. jangan bandingkan aku dengan ayu mu yg sok suci itu. Sebaiknya kamu jauhi wanita itu, dia hanya menipu mu dengan kepolosannya."
Saya menatap Cicilia dengan tatapan rumit karena dari kata kayanya, terlihat Cicilia tidak berniat mengikat saya dengan status pacaran.
"Apa yg kamu tunggu, cepat kenakan pakaian mu." Melihat Cicilia sudah mulai mengenakan pakaiannya, saya juga segera mengenakan pakaian saya sambil bertanya. "Apa kamu tidak ingin menjadi pacar ku?"
"Jika kamu tahu lalu kenapa?"
"Jangan banyak bicara, cepatlah berkemas... Jika kamu menginginkannya lagi, sebaiknya kita cari tempat yg lebih nyaman. Jangan di tempat seperti ini."
"Sial.." saya hanya bisa mengutuk sambil merapikan pakian saya dan setelah semua beres, Cicilia segera menarik tangan saya untuk bergegas pergi ke kelas.
Waktu berlalu dan bel pulang sekolah pun segera berbunyi yg langsung membuat semua murid bersorak.
Semua murid mulai berbondong bondong menuju tempat parkir.
"Ayo brangkat.." kecuali Cicilia yg dengan sengaja naik ke pundak saya sambil memeluk leher saya dengan erat.
Saya dengan pasrah menggendong Cicilia untuk pergi ke tempat parkir, sampai ayu tiba tiba menghalangi jalan saya. "Wisnu.. ayo bicara.."
"Ayu.. kami sedang terburu buru karena kami sudah memesan kamar hotel untuk bercinta."
"Kamu wanita murahan..." Melihat kemarahan ayu, Cicilia tersenyum sinis sambil berkata dengan nada menghina. "Jika aku murahan, maka kamu apa? Apa menurut mu aku tidak tahu semua tentang mu? Aku tidak memberi tahu Wisnu hanya karena aku takut Wisnu akan sedih."
"Jangan mulai memfitnah cicil.." teriakan marah ayu seketika menarik perhatian semua orang.
Hendra yg baru saja keluar dari kantor guru karena urusan administrasi juga segera menghampiri ayu. "Ada apa ini? Apa yg membuat mu begitu marah?"
Tapi sebelum ayu sempat menjawab, Cicilia terlebih dahulu bertanya pada Hendra. "Bukankah kamu pacar ayu, aku yakin kemu sudah bercinta dengannya kan?"
Hendra dengan cepat mengangguk. "Kami bercinta tadi malam, karena itu kita pacaran. Tapi masalah seperti itu seharusnya tidak di bahas di tempat seperti ini."
__ADS_1
"Jadi kalian bercinta bahkan sebelum kalian pacaran?" Cicilia berkata dengan nada yg penuh kejutan dan Hendra segara menjawab dengan canggung. "Itu bukan urusan mu..."
"Lihat Wisnu... Sudah kubilang ayu itu tidak seperti yg kamu bayangkan. Kamu hanya akan dikhianati dan dikhianati oleh nya, jangan buang waktu mu untuk wanita seperti itu."
Saya menggelengkan kepala saya, segala sesuatu terlalu rumit, saya benar benar bingung dengan semua kenyataan yg di tunjukan di depan saya.
Tapi satu hal yg pasti adalah saya tahu bahwa Cicilia tidak akan berbohong pada saya.
Kami sudah berteman sejak SMP dan dia selalu menjadi orang yg berdiri di depan saya jika terjadi suatu masalah.
Saya orang yg tidak bisa bergaul, tapi Cicilia lah yg selalu aktif berteman dengan saya.
Bisa di bilang kami seperti sahabat yg tidak akan pernah terpisahkan.
Saya masih ingat bagaimana dia menantang semua kakak kelas yg menghina saya saat masih SMP.
Saya bahkan sedikit merinding melihat wajah galaknya saat itu, tapi setelah di pikir pikir saya masih belum tahu apa alasan dia melakukan semua itu untuk saya.
Jika dia mencintai saya, lalu bagaimana saya harus membalasnya? Bagaimana saya harus menjelaskannya pada Kristin? Semua ini semakin membuat saya bingung.
"Wisnu.. kamu sudah berjanji tidak akan berpacaran selama 6 bulan ini, apa kamu mengingkari janji mu?" Tanya ayu yg matanya sudah mulai memerah.
"Wisnu tidak seperti mu yg suka mengingkari janjinya, aku dan Wisnu hanya berteman. Jadi sebaiknya kamu jangan ganggu Wisnu lagi, bukankah kamu sudah punya pacar? Tidakkah kamu malu menggoda pria lain di depan pacar mu sendiri?"
Ayu menatap Cicilia dengan tatapan marah untuk sesaat sebelum menarik lengan Hendra. "Ayo kita pulang."
"Baiklah." Hendra mengangguk ringan sebagi jawaban, tapi sebelum dia mengambil motornya dia tiba tiba melihat ke arah ku dan berkata. "Suatu hari kamu akan menyesal meninggalkan wanita secantik ayu."
Saya tersenyum pada Hendra. "Selamat telah mendapatkan wanita secantik ayu, aku harap kamu bahagia."
Hendra tidak membalas kata kata saya dan segera menaiki motornya dan pergi setelah ayu duduk di jok belakang.
Melihat tatapan sedih ayu, saya hanya menggelengkan kepala dengan sedikit menghela nafas.
"Wisnu.. aku tidak bermaksud menyembunyikan kebenaran tentang ayu.. mmm" tapi saya tidak membiarkan Cicilia melanjutkan kata katanya dan segera mencium bibir nya.
Ciuman panas berlangsung beberapa menit sebelum kami berdua melepaskan ciuman kami. "Apa menurut mu aku bodoh? saat kami berpisah di warung steak, saya diam diam mengikutinya dan ternyata dia tidak pulang kerumah melainkan ke sebuah motel. Di sana saya juga melihat motor Harry, saya yakin mereka di sana bukan untuk mengerjakan tugas."
"Jika kamu sudah tahu, kenapa kamu diam saja?"
"Jangan pikirkan tentang ayu lagi, mari kita bicara tentang mu? Ada apa semua ini?
"Jangan berpikir terlalu jauh, hubungan kita hanya bisa sebatas teman dan aku tidak berniat menjadi pacar mu. Untuk sekarang nikamti saja tubuh ku sepuas mu, kapan pun kamu ingin tinggal chat dan aku akan datang. Tapi jika aku sudah bosan, aku tidak akan mau lagi bercinta dengan mu."
Saya hanya bisa terdiam mendengar jawaban Cicilia, sampai dia berbisik di telinga saya. "K*nt*lmu sangat nikmat..."
Setelah membisikan kata kata centil seperti itu, Cicilia segera menjauh dari ku dengan cepat dan pergi ke arah motornya.
"Monyet birahi..."
"Monyet cabul..."
Kami akhirnya saling memaki satu sama lain sebelum pulang sekolah.
__ADS_1