JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
awal bencana


__ADS_3

"bli putu, dian udah gak punya siapa siapa lagi" dian mulai menangis di pelukan saya.


menurut penjelasan dian, ibunya bunuh diri karena terbeban oleh biaya pemakaman yg terlalu besar.


pada hal upacara pemakaman bisa di lakukan dengan cara yg lebih murah, tapi para sesepuh memaksa untuk ibu dian untuk melakukan upacara besar dengan biaya yg tidak tanggung tanggung.


menurut mereka hal ini untuk menjaga nama baik keluarga besar.


"tidak apa apa, sekarang ada bli putu. Dian hanya perlu ikut dan mendengarkan kata kata bli putu, maka semuanya akan baik baik saja." saya membelai kepala dian untuk menenangkannya.


"apa dian juga bisa sehebat bli putu dan bule itu?" dian memberi tatapan penuh harapan pada saya.


"tentu saja, kamu kemas pakaian mu dan ikuti bersama bli putu."


"mmm, tapi bagaimana dengan pemakaman ayah dan ibu?"


"tubuh fisik mereka sudah mati dan jiwa mereka sudah pergi ke alam spiritual untuk mendapatkan apa yg harus mereka dapatkan sesuai dengan karma baik atau buruk mereka. Sedangkan proses pemakaman hanya untuk memusnahkan sisa sisa kesadaran mereka di dalam tubuh fisik agar tidak membentuk suatu kesadaran individu baru yg sering di sebut hantu. Mayat yg terlalu lama juga dapat menyebarkan aura negatif yg dapat mengganggu kelangsungan mahluk hidup, jadi semuanya harus segera di lebur dan di kembalikan ke bumi. Hal itu tidak akan mempengaruhi jiwa ayah dan ibu mu. karena saat mereka sudah meninggalkan tubuh fisik, poin perhitungan karma baik dan buruk sudah berhenti dan tidak dapat di ubah lagi." saya menjelaskan secara singkat tentang unsur unsur pemakaman yg saya ketahui.


"kok bli putu bisa tahu?" tanya dian.


"bacalah... Semua di jelaskan di dalam kitab suci."


"eeehhh... apa kita boleh baca kitab suci, bukankah itu hanya boleh di baca oleh para pemimpin umat." dian menjadi semakin bingung dan saya hanya bisa mendesah tak berdaya.


"bagaimana kamu bisa mengaku sebagai penganut ajaran tiga dewa jika kamu bahkan tidak pernah membaca kitab suci ajaran mu"


"mana dian tahu, sejak lahir sudah seperti ini. Dian hanya ikut kata orang tua dian saja. Jika bisa dian lebih baik ikut ajaran gereja cahaya, ajaran tiga dewa terlalu ribet dan menghabiskan banyak biaya."

__ADS_1


Saya menggelengkan kepala dan memberi sentilan ringan di dahi dian. "ajaran Tuhan di ciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia, jika itu malah mempersulit maka itu adalah ajaran sesat."


"jadi maksud bli putu, ajaran tiga dewa adalah ajaran sesat?"


"bukan ajarannya yg sesaat, tapi orang orangnya."


"kenapa bisa begitu?"


"semua tata cara ajaran tiga dewa di bali berbeda dari asalnya di india. Bisa di katakan apa yg kita lakukan adalah penggabungan antara tradisi animisme leluhur kita terdahulu dengan tradisi budaya cina dari orang orang cina yg dulu pernah datang ke bali di jaman kerajaan. Setelah itu di sempurnakan oleh penasihat raja majapahit yg mengungsi ke bali dan akhirnya menggunakan ajaran tiga dewa sebagai pembungkus agar terlibat rapi."


"kok bli putu bisa tahu?"


"pakek logika, nalar dan kecerdasan. Jika kita memang menganut ajaran tiga dewa, lalu kenapa di kuil kuil tidak ada patung tiga dewa? kenapa ada barong yg mirip seperti barongsai? barong bahkan tidak masuk dalam daftar dewa tingkat rendah di ajaran tiga dewa."


"bli putu, ternyata dian dari dulu adalah orang sesat."


"mmm, dian paham. Tapi bli putu jangan terlalu keras meremas pantat dian"


"maaf maaf, tadi terlalu bersemangat dan rasanya juga empuk."


"bli putu juga sesat" pipi dian mulai memerah sambil memukul dada saya dengan lembut.


"he he he" saya hanya bisa tertawa canggung melibat dian yg tersipu malu sebelum kembali mengusap kepala dian. "jangan bersedih lagi"


"bli putu keluar dulu, dian mau merapikan barang barang."


"bawa yg penting saja, sisanya bisa di beli di luar"

__ADS_1


"mm" melihat anggukan dian, saya keluar dari kamarnya.


tapi di luar, sesuatu yg lebih menghebohkan sedang terjadi.


beberapa polisi dan wartawan sedang berkumpul memgelilingi karen.


"sudah kubilang aku tidak ingin ikut dengan kalian." bentak karen pada polisi yg ingin menangkapnya.


"ada apa ini?" saya segera bertanya pada polisi itu.


"kami di beri tugas untuk membawa kalian berdua ke kantor polisi untuk di mintai keterangan terkait khasus yg terjadi di jakarta." balas polisi itu.


"apa kalian tahu apa yg kami berdua lakukan di jakarta?" saya bertanya kambali pada polis


"tentu saja, karena itu kami datang untuk mendapatkan penjelasan yg lebih detail."


"jadi kalian sudah tahu tapi kalian datang dengan sikap sombong seakan kami berdua adalah seorang penjahat. Apa kulit mu lebih keras dari monster monster yg aku bunuh?"


"apa kamu mengancam polisi?" polisi itu memberi tatapan ganas pada saya.


"ada masalah dengan itu" kilat listrik samar samar muncul dari tubuh saya.


karen juga segera mengeluarkan kapaknya dan aura merah segera menyelimuti tubuhnya.


situasi menjadi semakin memanas dan polisi itu juga segera mengarahkan pistolnya pada kami.


tapi tiba tiba tanah mulai bergetar hebat dan genteng rumah mulai berjatuhan.

__ADS_1


__ADS_2