JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 37 dead race


__ADS_3

"bli putu.." dian bergegas keluar dari kamar sambil membawa dua tas besar berisi pakaiannya.


"ayo kita kembali ke mini bus" saya mengambil salah satu tas yg di bawa dian sambil menarik tangannya untuk bergegas keluar rumah di ikuti oleh karen.


"berhenti" teriak polisi.


"safety wall" saya melemparkan salah satu skill priest ke arah semua polisi.


perisai biru transparan langsung menyelimuti mereka yg membuat mereka tidak bisa keluar dari sana.


sampai di dalam mini bus, karen segera mengambil alih kemudi.


"wisnu, kemana tujuan kita?" tanya karen.


"gas ke utara, menjauh dari pesisir pantai" balasku dengan cepat dan karen tanpa basa basi menancap gas menuju utara.


"bli putu, bagaimana bapak dan ibu bli putu?" tanya dian dengan raut wajah cemas.


"mereka sudah besar, jangan terlalu dipikirkan"


"cuma bli putu saja yg bisa berkata begitu"


"he he he"


semakin lama, gempa bumi semakin kencang.


mini bus yg kami kendarai juga mulai terguncang dan jalan aspal yg kami lalui mengalami retakan yg perlahan mulai melebar.


Tapi karen tidak terpengaruh dengan semua itu dan terus memacu mini bus dengan kencang.


banyak kendaraan yg menghalangi di sapu habis oleh bemper depan mini bus.


"bli putu..." dian memeluk lengan saya dengan cemas karena gaya kemudi karen yg brutal, di tambah tawa bahagia karen yg terlihat menikmati semuanya.


"tenang, anggap saja kita sedang bermain dead race" saya menepuk kepala dian untuk menenangkannya.


"bli putu tidak membantu sama sekali..."


melihat dian kesal, saya segera membawanya ke tempat tidur. "duduk saja dulu, semuanya akan baik baik saja"

__ADS_1


"bersiap untuk benturan!!" teriak karen yg segera di susul oleh benturan hebat.


Saya dengan cepat memeluk dian untuk melindunginya.


segera saya dan dian mulai terlempar ke atas dan kebawah, untungnya saya bisa menjaga agar kami tetap di atas tempat tidur yg empuk.


Tapi benturan tidak hanya terjadi sekali tapi berkali kali, mini bus seperti lumba lumba yg melompat lompat karena jalan yg semakin parah.


"bli putu.. Aahhh"


"tidak apa apa, sebentar lagi aman.."


"bli putu....."


satu jam berlalu...


"bli putu, ayo berhenti... Dian udah gak tahan.."


"sabar, tunggu sampai aman"


satu jam lagi berlalu...


"sabar... Sedikit lagi..."


satu jam lagi berlalu dan akhirnya mini bus mulai tenang dan perlahan menghentikan lajunya.


"bli putu... Hah... hah... hah... Dian gak kuat lagi, perut dian rasanya penuh..."


"ini yang terakhir..."


"hah hah hah bli putu... Hah... Dian takut hamil... Hah hah..."


"tidak akan..."


"mmmm jangan terlalu cepat, dian gak tahan lagi"


"sedikit lagi..."


"bli putu.... Hah... Hah.. Aaahhhhhhhhhh"

__ADS_1


"brengsek... Kalian malah enak enak di sini!" teriak kesal karen saat melihat saya dan dian yg saling berpelukan.


"jangan lihat, jangan lihat" dian dengan panik menutup wajahnya yg sudah memerah.


"tidak perlu malu, kami berdua biasa melakukannya. Ya kan kak wisnu... lubang adik mu sangat nikmat kan..." karen tersenyum main main, tapi saya segera berkata. "beri aku penjelasan nanti"


"jangan nanti, sekerang saja. Adik mu juga sudah basah" karen dengan cepat melepaskan pakainnya dan melompat ke tempat tidur dengan penuh semangat.


***


kebun raya bedugul


Wilayah dataran tinggi yg ada di bagian utara bali.


di sini efek gempa terlihat sangat minim, tapi kabut yg menyelimuti area sekitar sangat tebal dan terlihat tidak normal.


Area ini juga sering di jadikan tempat berkemah di saat musim libur dan kali ini karen memarkikan mini bus di area perkemahan di dekat danau.


"tidak ada sinyal hp dan siaran tv juga menghilang. Hanya radio yg masih bisa berfungsi." jelas karen.


"apa ada informasi dari radio?"


"air laut naik secara perlahan, untungnya tidak ada tsunami. Hanya saja, bali bagian selatan hampir tenggelam air laut. Untung saja kita langsung pergi ke utara, jika tidak kita akan terjebak di sana."


"bli putu... Bagiamana dengan yang lainnya?" tanya dian.


"pikirkan diri sendiri dulu sebelum mencemaskan yg lain"


"mmm" dian mengangguk malu sambil meremas sudut rok nya.


"apa lagi yg kamu pikirkan?"


"dian takut hamil karena yg kemarin."


"tidak akan hamil."


"baiklah"


"mulai besok, bli putu akan melatihmu."

__ADS_1


"ya, bli putu."


__ADS_2