
Kamis pagi, saya berangkat sekolah dengan suasana hati yg sedikit kesal.
"Hati hati sayangku..." Melihat Kristin melambaikan tangannya sambil memberi ciuman udara, saya segera memberinya jari tengah sebagai balasan.
Tapi Kristin hanya tertawa kecil sembari memberi kedipan main main pada saya.
Saya hanya bisa menghela nafas tak berdaya mengenang kegilaan yg dia lakukan tadi malam.
Segera saya naik ke atas skuter matik butut dan pergi dengan cepat dari kost succubus jahat ini.
Dari sepion kaca, saya bisa melihat matanya masih menatap ke arah saya dengan tatapan penuh cinta yg kembali membuat perasaan saya menjadi rumit.
Sebegitu cinta kah kamu pada saya, pikiran seperti ini terlintas di benak saya untuk sesaat sebelum saya dengan paksa membuang pikiran tersebut.
Tapi ingatan saat dia menyiapkan sarapan pagi dengan penuh kasih layaknya seorang ibu yg merawat anaknya tiba tiba kembali muncul di pikiran saya.
"Sial... ini pasti skill pesona dari ras succubus, aku harus segera mencari pengalihan. Jika tidak aku akan termakan olehnya dan menjadi budak succubus jahat ini selamanya."
*
Saat memarkir motor di parkir sekolah, saya melihat ayu yg di bonceng oleh pria tak di kenal juga tiba di parkir sekolah.
"Pagi ayu.. apa ini pacar baru mu?" Saya menyapa ayu dengan ramah sambil memberi senyum lembut pada ayu dan pria yg baru turun dari motornya.
"Wisnu.." tapi saat ayu ingin menjawab, pria itu segera memotongnya. "Saya pacar ayu, nama saya Hendra wirawan. Saya baru pindah dari Jakarta dan sekarang tinggal di dekat rumah ayu. Ini hari pertama saya di sekolah ini, salam kenal."
Melihat Hendra mengulurkan tangannya, saya segera menjabatnya sambil berkata dengan sopan. "Jadi kamu murid baru, salam kenal juga. Nama saya Wisnu, mantan pacar ayu. Tolong jaga ayu seterusnya, dia anak yg agak cengeng."
Hendra sedikit terkejut untuk sesaat sebelum dia menganggukan kepalanya, tapi ayu tiba tiba berkata. "Wisnu... Jangan dengarkan dia.. kami hanya..."
"Wisnu brengsek... Aku akhirnya menangkap mu." Sayangnya penjelasan ayu kembali terpotong karena Cicilia bergegas ke arah saya dan langsung naik kepundak saya.
Merasakan ukuran dada Cicilia dan tangan lembutnya yg melingkar di leher, saya berusaha untuk melepaskannya. "Apa yg kamu lakukan pagi pagi seperti monyet."
"Jangan melawan.. Gendong aku sampai kelas sebagai permintaan maaf atas kejadian tempo hari." Kejadian yg di maksud adalah saat Cicilia tidak sengaja mencium saya.
Memikirkan itu, saya juga merasa menjadi korban. "Pergi ke dogles, dia lah dalang di balik semua itu."
"Gendong atau aku akan melaporkan mu pada guru BK karena telah melakukan pelecehan."
"Cih..." Saya menarik kedua pahanya ke atas agar lebih seimbang sebelum melangkah ke kelas.
"Saya kembalikan hp mu nanti yuk" saya juga tidak lupa menginfokan pada ayu tentang hpnya karena saya sudah memiliki hp baru.
Tapi cicilia segera meraba raba saku baju ku dan mengeluarkan hp ayu yg ada di sana, lalu menyerahkannya pada ayu. "Ambil ini, hus hus hus..." Kata Cicilia dengan nada mengusir.
Melihat ini ayu benar benar kesal dan tidak berniat menerima hp yg di berikan oleh cicilia.
__ADS_1
Tapi Hendra segera mewakili ayu untuk menerima hp dari tangan Cicilia dan menyerahkannya pada ayu.
Ayu menerima hp itu dengan raut wajah yg tidak senang dan berkata pada saya. "Wisnu.. istirahat nanti aku ingin berbicara dengan mu?"
Tapi Cicilia segera membalas "Wisnu sibuk.. jangan gangu dia lagi." Setelah itu Cicilia menggeliatkan tubuhnya untuk memberi tanda agar saya segera bergerak.
Tentu saja saya mengikuti tanda yg di berikan oleh cicilia dan bergegas pergi ke kelas.
"Terima kasih cicil..."
"Huh... Traktir makan siang kalo begitu."
"Baiklah, makan siang apa yg kamu mau?"
"Semuanya.."
"Pantas saja kamu sangat berat."
"Apa... Katakan lagi jika kamu ingin mati.." Cicilia mengeratkan kedua tangannya yg memeluk leher saya.
"Cicil..." Saya berusaha melonggarkan kedua tangannya sambil melihat ke belakang untuk melihat cicil.
Tatapan kami bertemu, tapi entah kenapa tiba tiba suasana menjadi sangat aneh.
Mata cicil terlihat seperti mata Kristin saat ingin menerkam saya dan saya juga merasakan detak jantung cicil tiba tiba meningkat.
Ternyata salah satu tangan saya yg memegang pahanya tidak sengaja merosot agak dalam dan hampir menyentuh bagian pantatnya.
"Jadi murid sekarang sudah berani pacaran di sekolah tanpa rasa malu." Suara pria dengan nada yg tegas segera menarik perhatian saya.
Cicilia juga dengan panik turun dari pundak saya.
Tapi karena terburu buru, tangan saya yg terselip di pangkal pahanya membuat rok Cicilia terangkat dan memperlihatkan ****** ***** merah dengan renda mawar yg unit.
Saya benar benar terkejut, karena Kristin juga sangat suka ****** ***** seperti itu.
Katanya itu bisa membuat pria sedikit bergairah, tapi tentu saja itu tidak terlalu berefek pada saya.
Segera Cicilia menutup rok nya sambil memberi tatapan mengancam pada saya sebelum menendang kaki saya dengan kesal. "Cabul..."
"Ehhh apa salah saya?" Tentu saja saya tidak terima di bilang cabul.
"Salah mu adalah cabul..." Melihat Cicilia tidak mau kalah, saya hanya menghela nafas dengan pasrah dan kembali menatap pria yg sedang berdiri di depan ruang guru.
Karena asik berkelahi dengan Cicilia, saya tidak melihat ternyata ada seorang pria paruh baya dengan kumis lebat berpakaian tentara dan di sisinya ada wanita cantik seumuran Kristin dengan perawakan cina yg juga mengenakan seragam militer.
Beberapa guru yg saya kenal, seorang murid perempuan yg terlihat seperti versi muda dari Kristin dengan seragam sekolah.
__ADS_1
Di tambah beberapa siswa lainnya yg juga ada di sekitar sedang menatap kami berdua dengan tatapan menghakimi.
"Jangan salah paham pak tentara, saya menggendongnya karena dia sedang sakit." Saya mencoba menjelaskan pada tentara tersebut yg di seragamnya bertulikan nama Joko Handoko.
Samar samar saya juga sepertinya pernah mengenal nama ini tapi saya lupa di mana.
"Dia tidak terlihat sedang sakit, apa kamu mencoba menipu saya?" Jawab pak Joko dengan nada yg semakin serius.
"Mana berani saya, monyet ini... Maksud saya Cicilia memiliki masalah serius di otaknya. Dia tiba tiba melompat ke punggung saya seperti seekor monyet, jadi karena takut di gigit saya terpaksa menuruti keinginannya untuk di gendong ke kelas. Siapa yg bisa menjamin Cicilia sudah di beri vaksin rabies."
Semua orang terkejut sesaat sebelum berusaha menahan tawa mereka agar tidak keluar.
"Brengsek... Kamu monyet... Dasar monyet cabul.." Cicilia kembali mengamuk dan mulai menendang kaki saya dan memukul bahu saya sekuat tenaga.
"Bapak lihat sendiri... Saya benar benar tidak bisa berbuat apa apa." Saya berkata dengan nada sedih sambil menahan pukulan yg di berikan oleh cicilia.
-1,-1,-1,-1,-1 angka merah seperti ini terus menerus muncul dari mata saya akibat serangan yg di berikan oleh cicilia.
Bar hp Cicilia dan saya juga mulai terlihat di atas kepala yg menandakan kami berdua sedang masuk kedalam mode bertarung.
Tapi semua itu hanya bisa di lihat oleh kami berdua saja.
"Siapa nama mu?" Tanya pak Joko.
"Wisnu pak."
Pak Joko tertegun sejenak sambil perlahan melirik ke arah Cicilia sebelum kembali berkata pada saya.
"Jadi kamu yg bernama Wisnu, murid yg suka tidur di kelas tapi masih bisa memahami apa yg di jelaskan oleh guru yg sebanding dengan murid yg memperhatikan dengan seksama." Pak Joko perlahan mendekat dan saya hanya bisa menjawab dengan senyum canggung. "Saya memang suka tidur di kelas, tapi sepertinya informasi yg anda dapatkan terlalu di lebih lebihkan."
"Jadi bergitu.." pak Joko kembali melirik ke arah Cicilia sebelum berkata pada saya. "Aku dengar kamu juga orang yg sederhana, murid lain suka memamerkan kekayaan orang tuanya tapi ku dengar kamu tidak seperti itu."
"Sebenarnya saya juga ingin, tapi bapak saya sangat pelit. Dia lebih suka membuang uangnya untuk berjudi saat ada acara di kuil dan menyumbangkannya pada janda montok di kampung saya."
"Kamu sangat jujur." Pak Joko menepuk pundak saya.
"Tidak ada gunanya berbohong, itu hanya akan membuat saya harus berpikir keras untuk membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yg lama. Terlalu merepotkan.."
"Bagus.. saya juga setuju dengan mu."
"Terima kasih pak.. tapi dari mana bapak tahu tentang saya. Apa para guru yg memberitahukannya pada bapak?"
"Bukan, itu Cicilia yg selalu menceritakan tentang mu saat kami semua makan malam bersama."
Segera tubuh saya langsung menegang dan perlahan mengalihkan perhatian saya pada Cicilia.
Melihat tatapan saya, Cicilia segera memalingkan wajahnya berpura pura tidak melihat saya.
__ADS_1