JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 23 Cicilia dan Wisnu 2


__ADS_3

Hukum di Indonesia menyatakan, kewajiban orang tua untuk menafkahi anak berakhir saat anak berumur 18 tahun.


Serta orang tua sudah tidak memiliki hak untuk menghentikan pernikahan anaknya jika anak mereka sudah berumur 18 tahun ke atas.


Jadi saya menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan niat saya. "Jika pak Joko berkenan, saya ingin membuat hubungan saya dan Cicilia sah secara hukum."


Pak Joko dan teman temannya terlihat terkejut dengan pernyataan saya, bahkan Cicilia menjadi linglung dan panik. "Bagiamana dengan Kristin... Jangan hanya karena aku, kamu meninggalkan orang yg kamu cintai. Aku tidak akan setuju jika hal itu terjadi.."


Saya tersenyum melihat raut wajah panik dan linglung Cicilia. "Kristin sudah setuju menjadikan mu adiknya, kalian berdua memiliki arti penting bagi ku. Hanya pria pengecut yg memilih, pria sejati seperti ku mengambil semuanya."


"Sudah kuduga... Dasar monyet cabul... Kamu hanya ingin nge***t dengan ku setiap hari kan... Pasti kamu ketagihan dengan tubuh ku kan... Jujur saja dasar monyet cabul..." Cicilia mulai berteriak kesal sambil memukul bahu saya terus menerus.


Susah bagi saya untuk berbicara jika seperti ini dan saya hanya bisa pasrah menerima perlakuan Cicilia dengan penuh ketidak berdayaan.


Pak Joko yg melihat raut wajah suram ku tiba tiba berkata. "Cicilia... jangan ganggu Wisnu dulu, biar bapak dan wisnu menyelesaikan pembicaraan kami."


"Weeee" Cicilia langsung menjulurkan lidahnya dengan niat mengejek pada pak Joko yg membuat pak Joko menggelengkan kepalanya sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada saya.


"Sebagai ayah dan sebagai komandan TNI, bapak sama sekali tidak akan setuju dengan usulan mu. Apa lagi kamu ingin menjadikan anak bapak sebagai istri kedua mu. Jadi katakan pada bapak, apa modal mu berani mengajukan usulan yg tidak masuk akal seperti itu."


Saya mengangguk ringan mendangar kata kata tegas pak Joko. "Pertama saya memiliki kepercayaan diri untuk melindungi Cicilia, bukan hanya melindunginya tapi juga membuatnya bahagia."


"Kamu... Monyet cabul..." Cicilia memberi tatapan menghina pada saya, tapi segera di tekan oleh pak Joko. "Cicilia..."


"Huh.." balas Cicilia dengan dengusan kesal.


"Lanjutkan.."


"Saya punya rumah sendiri, penghasilan sendiri dan persiapan yg matang untuk menghadapi masa depan. Selain itu saya juga memiliki informasi dasar dan prediksi kemungkinan yg mungkin terjadi di masa depan. Hal ini pasti membuat TNI bisa membuat langkah awal yg mantap untuk menghadapi situasi di kemudian hari."


"Katakan informasi apa yg kamu miliki?" Tatapan pak Joko dan yg lainnya menjadi semakin serius.


Melihat ini, saya tersenyum misterius sebelum berkata. "Saya akan memberikan sedikit spoiler untuk kalian."


Saya terdiam sesaat untuk membuat suasana menjadi semakin serius sebelum melanjutkan kata kata saya. "Saya sudah menghadapi monster yg kemungkinan akan muncul di masa depan. Dari apa yg saya rasakan, senjata kaliber kecil seperti pistol tidak akan bisa menggores tubuh mereka kecuali itu adalah kaliber besar dan meriam tank. Tapi bagaimana jika monster itu muncul dalam jumlah besar di kota, tidak mungkin TNI menembakan meriam di tengah kota atau meluncurkan roket dari pesawat tempur."

__ADS_1


"Jangan bilang pada bapak bahwa kamu pemimpin party love and glory?" Semua orang seketika memicingkan matanya dan saya memberi anggukan ringan sebagai balasan sebelum berkata.


"Kristin mendapat informasi tentang kondisi Cicilia dari informan yg disewa olehnya atas persetujuan saya. Karena itu kami membentuk tim dan bertaruh pada peningkatan level, berharap bisa mendapatkan sesuatu yg bisa menyembuhkan Cicilia jika level kita meningkat."


"Jadi darah di pakaian mu adalah darah monster?"


Saya kembali mengangguk dan Cicilia tiba tiba kembali memukul bahu saya. "Brengsek.. monyet cabul sialan... Bagaimana jika kamu mati..."


"Setidaknya kita bisa bersama di alam sana, di dunia ini tanpa mu benar benar membosankan." Saya mengatakan apa yg ada di hati saya, karena memang benar tanpa Cicilia pasti akan selalu ada yg kurang.


"Omong kosong apa yg kamu katakan.." Cicilia mencekik leher ku dan menekan tubuh ku hingga bersandar di sofa, lalu dia naik ke atas tubuh ku.


"Tenang... Mmm" tapi sayangnya Cicilia tidak memberi saya kesempatan untuk berbicara dan langsung mencium bibir saya dengan agresif.


Wajah semua orang menjadi gelap melihat Cicilia yg dengan ganas mencium bibir saya sambil meremas rambut kepala saya.


"Kenapa aku melihat bayangan istrimu" kata salah satu teman pak Joko.


"Istri ku tidak akan melakukan ini jika ada orang tuanya, Cicilia terlihat seperti versi yg lebih tinggi dari istri ku." Kata pak Joko sambil menghela nafas tak berdaya.


Seketika alis pak Joko mulai berkedut dan segera berkata pada Cicilia. "Cicilia jaga sopan santun mu... Masih ada orang di sini dan kita belum selesai berbicara."


Cicilia perlahan melepaskan ciumannya dan segera menyandarkan kepalanya di bahu saya. "Berjanjilah jika kita tidak akan pernah berpisah, maka aku akan setuju dengan lamaran mu tidak peduli apa yg dikatakan ayah ku."


"Saya berjanji kita tidak akan pernah berpisah."


"Mmm.. aku percaya pada mu, karena kamu sudah membuktikannya hari ini. Sejak awal, aku sudah menjadi milik mu. Tidak peduli apa yg di katakan ayah ku, aku akan selalu menjadi milik mu dan selamanya akan menjadi milik mu."


"Kamu bersembunyi begitu dalam"


"He he he... Aku terlalu mencintai mu Wisnu.. aku tidak sanggup melihat mu bersedih jika suatu hari aku tidak ada di sisimu.."


"Kamu terlalu percaya diri, dari mana kamu tahu saya akan bersedih?"


Cicilia memberi pukulan kuat di dada saya sambil berkata dengan kesal. "Ayolah... Biarkan aku menyelesaikan kata kata romantis ku... Aku sudah menyiapkan kata kata ini dari dulu.. aku ingin melihat mu terharu dengan kata kata ku... Kamu merusak semuanya dasar monyet cabul.."

__ADS_1


"Mimpi mu terlalu berlebihan..."


"Monyet sialan... Lelah berdebat dengan mu, aku ingin tidur. Jangan sampai membuat ku bangun atau aku akan memukul mu dan menendang pantat mu."


"Tidur tidur saja, jangan banyak bacot..."


"Huh..." Cicilia sedikit mengendus kesal sebelum kembali menyandarkan kepalanya di bahu saya dan perlahan mulai tertidur dengan senyum lebar di wajahnya.


Mengabaikan tatapan semua orang, saya membelai kepala Cicilia yg membuat Cicilia semakin nyaman dan segera tertidur.


Setelah itu saya mengeluarkan satu pack red potion, blue potion, green potion dan dead brance lalu meletaknnya di atas meja. "Satu ranting kayu ini bisa mengeluarkan monster secara acak dan bla bla bla..." Saya menjelaskan masing masing item di meja pada pak Joko. "Saya akan mendukung item seperti ini untuk pak Joko sampai hari di mana monster mulai bermunculan."


"Apa yg kamu inginkan, bapak rasa ini bukan sekedar mendapatkan Cicilia."


Saya mengangguk ringan. "Kecuali dead brance, semua item ini bisa di beli di toko sistem tapi sayangnya kalian tidak memiliki zenny untuk membelinya. Karena itu saya akan menjual benda ini dengan uang rupiah sampai kalian bisa membeli sendiri di toko sistem."


"Berapa stock yg kamu miliki?"


"Semua itu di urus oleh Kristin, berdiskusilah dengannya nanti."


Pak Joko mengangguk ringan. "Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian, apa orang tua mu sudah setuju."


Saya menggelengkan kepala. "Tidak perlu persetujuannya, kita hanya perlu status hukum yg sah bukan pengakuan orang lain. Melakukan upacara pernikahan di usia seperti ini hanya akan menambah masalah yg tidak perlu. Masyarakat tidak akan mudah menerima hal seperti ini."


Pak Joko menghela nafas sebelum berkata. "Cicilia memiliki mata yg baik."


Mendengar pujian pak Joko, saya hanya menggelengkan kepala. "Jangan terlalu menyanjung, masa depan tidak pasti. Aku yakin ada banyak orang orang yg sedang bersembunyi seperti ku dan menunggu kesempatan untuk bangkit. Di masa depan, kekuatan menentukan segalanya. Tanpa kekuatan, TNI hanya harimau ompong dan tanpa TNI kedaulatan NKRI akan terancam. Aturan akan menjadi sebuah omong kosong, orang kuat akan melakukan apapun yg mereka inginkan. Tidak mungkin menjaga kedaulatan NKRI, tapi masih ada kesempatan untuk membangun wilayah yg aman untuk anak anak dan orang tua."


"Apa ini prediksi mu tentang masa depan?"


Saya mengangguk. "Manusia mengikuti aturan karena mereka takut akan penegak hukum yg membawa senjata, tapi bagaimana jika mereka tidak takut lagi. Jangan remehkan hasrat manusia, mereka bahkan tega menghancurkan anak mereka demi mendapat ketenaran."


"Kamu bicara tentang orang tua mu sendiri."


"He he he he..."

__ADS_1


__ADS_2