JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 38 pergi ke selatan


__ADS_3

1 bulan kemudian.


"holy light" dian menembakan cahaya suci pada monster yg melayang di udara dan langsung membuatnya menghilang.


"hah.. Hah.. Ini sudah yg terakhir, beri dian istirahat." dian berbaring lemah di jalan bersalju sambil memeluk tongkat sihirnya.


"kerja bagus pendeta suci." saya memberi senyum tulus pada dian.


"terlihat seperti pendeta mesum di mataku" karen memberi tatapan main main pada dian yg langsung membuatnya kesal.


"bli putu......" teriak dian.


"jangan dengarkan karen.." balasku dengan santai sambil duduk di sebelah dian.


"kenapa dian harus pakai pakaian pendeta yg ketat seperti ini, ada apa dengan belahan rok ini, kenapa harus ****** ***** seperti ini?" keluh dian.


"ehem..." saya memberi batuk ringan sebelum berkata. "ini kostum standar para priest yg bli putu lihat di serial anime. Jika dian tidak suka, bli putu masih ada kostum pelayan, perawat, pramugari dan kostum pegawai kantor."


"bli putu....." wajah dian langsung memerah sambil berteriak kesal.


"ha ha ha ha, kostum itu memang cocok untuk mu dian. Para wifu pasti meneteskan air liur saat melihat mu" tambah karen dengan nada mengejek.


"kalian berdua memang komplotan mesum, dian hanya korban." balas dian yg masih kesal.


"ok ok, jangan marah. Bli putu menyuruh mu menganakan pakain itu karena kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian itu. Tapi jika kamu tidak nyaman, ganti saja dengan armor novis biasa." sambil mengusap rambut dian yg sedang berbaring di sebelah saya.


"tidak apa, selama bli putu menyukainya" dian memalingkan wajahnya yg kembali memerah.


"oohhhh budak cinta..." sindir karen.

__ADS_1


"kamu budak kon**l" balas dian.


"apa kamu tidak?" karen memberi tatapan main main.


segera mereka berdua saling menatap dengan tatapan tajam.


"jangan bertengkar di sini, ayo kita segera berangkat. sudah satu bulan kita tinggal di sini, saatnya membuat kekacauan di tempat lain." saya segera menengahi mereka sambil mengangkat tubuh dian yg masih berbaring di jalan dan membawanya ke salam mini bus.


***


badai salju yg tiba tiba muncul seminggu setelah gempa membuat seluruh pulau bali di tutupi oleh salju.


semua alat alat elektronik mati total dan tidak bisa berfungsi lagi.


mobil mobil terbengkalai di sisi jalan.


semua itu terjadi karena adanya ledakan gelombang energi aneh yg merusak semua jaringan elektronik.


untungnya semua item yg di simpan di dalam penyimpanan tak terbatas sama sekali tidak terpengaruh.


"bli putu, ada orang yg menghadang jalan di depan!!" seru dian dengan sedikit kejutan.


"tenang saja wanita bucin, mini bus ini sekuat tank." balas karen yg segera meningkatkan kecepatan.


"mmm, karen benar" saya juga memberi anggukan setuju.


"bli putu bukan itu maksud dian.." bantah dian.


"bli putu tahu maksud mu, tapi sayangnya tim kita bukan tim pahlawan super tapi tim penjahat super."

__ADS_1


"eeehhh kok gitu" dian menatap saya dengan penuh kejutan dan saya juga segera menjawab. "terlalu merepotkan, tidak ada manfaat nyata untuk membantu mereka. Paling paling itu hanya sanjungan manis mareka, lalu setelah kita tidak bisa memenuhi harapan mereka maka mereka akan menghina kita. Itulah kenyataan hidup, jadi sebaiknya urus diri sendiri saja."


"begitu... Dian ikut kata kata bli putu saja." dian mengangguk setuju dan bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makanan.


di sisi lain, orang orang yg menghadang jalan menyingkir dengan cepat melihag mini bus yg melaju semakin cepat tanpa ada tanda tanda berberhenti.


selang beberapa detik, mini bus langsung menerjang plang pembatas bambu yg menghalangi jalan hingga hancur.


tanpa menoleh kebelakang, karen tetap memaju mini bus dengan kecepatan penuh.


dari wilayah bedugul di bagian utara pulau bali menuju ke wilayah selatan pulau bali.


butuh beberapa hari perjalanan karena kami di hadapkan oleh berbagai jenis monster dan medan jalan yg sudah hancur.


seperti kutub utara, pemandangan di depan kami hanya hamparan salju.


Mobil mobil yg terbengkali dan sesekali kami melihat tempat penampungan yg di jaga oleh orang orang bersenjata.


tidak semua orang kolot, dari 10 orang pasti ada satu atau dua orang yg bisa melihat situasi dan segera beradaptasi.


tapi saya tidak terlalu ingin ikut campur dengan urusan mereka sampai saya tiba di wilayah yg mestinya menjadi wilayah denpasar.


bangunan bangunan tinggi perkotaan sudah tidak terlihat lagi dan hanya lapangan es yg luas membentang jauh.


di arah selatan terlihat sebuah sinar emas yg terlihat samar mengapung di atas langit.


bahkan dengan pandangan jarak jauh, saya tidak dapat melihat persis seperti apa penampakan wilayah selatan.


tapi saat mini bus kami melangkah lebih jauh ke selatan, terjadi retakan lapisan es yg ada di bawah kami.

__ADS_1


jadi terpaksa kami keluar dari mini bus dan memilih untuk berhalan kaki.


__ADS_2