
Tika yg mendengarkan dari tadi menunjukan wajah yg tidak senang dan bermasalah. "Apa kalian sekolah hanya untuk pacaran?"
Saya dan Cicilia menatap Tika yg berkata dengan nada kesal, lalu saya dan Cicilia saling menatap sebelum mengangkat bahu secara bersamaan tanpa memberi jawaban apapun.
"Cicil, sebenarnya apa yg terjadi pada mu? Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit dalam kondisi kritis?" Pertanyaan Ratih langsung memecah suasana aneh yg di buat oleh Tika.
Cicilia menatap semua orang secara perlahan sebelum menceritakan kisahnya. "Aku menderita penyakit kronis yg tidak mungkin di sembuhkan. Dokter berkata umur saya tidak panjang dan solusinya adalah melakukan operasi yg menelan banyak biaya di luar negeri. Itu pun saya hanya memiliki peluang 30% untuk berhasil yg membuat hidup ku terasa suram.... Sampai aku bertemu dengan Wisnu dan memutuskan mengabiskan sisa waktu ku untuk membuat kenangan yg bahagia bersamanya sebelum kematian ku."
Cicilia tiba tiba memeluk lengan saya dan menyandarkan kepalanya di bahu saya. "Tapi aku tidak ingin hubungan yg lebih, karena aku takut membuat Wisnu kecewa. Sampai hari ini di mana detik detik ajal ku tiba, Wisnu datang dan menyuntikan sesuatu yg putih dalam jumlah besar ke dalam tubuhku yg langsung membuat ku hidup kembali."
Bibir ku kembali berkedut dan segera mencubit hidung Cicilia sambil berkata. "Orang akan salah mengartikan kata kata mu."
"Apa aku mengatakan kebohongan?"
"Tidak juga, tapi cara penyampaian mu agak sedikit menyimpang."
"Apa yg aku katakan salah."
"Fiuh.. katakan saja sesuka hati mu." Terserah apa lagi yg ingin di katakan Cicilia, tidak ada gunanya melawan wanita satu ini.
Suasana kembali hening dan semua orang memberi tatapan penuh arti pada saya.
"Bro.. kamu paling ngene... Salute..." Dogles segera memberi dua jempol pada saya tapi Ratih segera menarik telinganya dengan kesal. "Diam saja Napa.."
"Klee..." Doglas hanya bisa mengeluh sambil menggosok telinganya yg sudah memerah.
"Apa kalian pacaran?" Tanya Cicilia membalikan tatapan penuh arti pada dogles dan Ratih.
"Siapa yg mau dengan kon**l kuda seperti ini" bantah Ratih dengan nada tinggi.
"Meehhh punya mu saja yg kekecilan, ada apa dengan tahi lalat di pusar? Apa tidak ada tempat lain untuk menaruhnya?"
"Brengsek..." Ratih tiba tiba menampar bagian belakang kepala dogles. "Kamu enak enak dan keluar begitu cepat."
"Apa masalahnya... Bukankah kamu juga keluar di ronde kedua dan ketiga.."
__ADS_1
"Ok ok... Mari kita hentikan diskusi dewasa ini, ingat umur... Ingat umur..." Saya berusaha menengahi mereka berdua agar kata kata mereka tidak menjadi semakin parah, tapi saya segera di beri tatapan ganas oleh mereka dan Ratih berkata dengan nada menyindir. "Siapa yg berpelukan tanpa pakaian di gedung kosong belakang sekolah."
Saya dan Cicilia langsung terkejut dan segera memalingkan wajah kami tanpa memberi jawaban.
"Ngene bro..." Dogles sekali lagi memberikan dua jempolnya pada ku, tapi Cicilia dan Ratih tiba tiba berteriak. "Diam..." Yg langsung membuat dogles meringkuk tak berdaya.
"Oohhh teman teman Cicilia juga ada di sini.." suara Kristin yg baru memasuki ruangan tiba tiba membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Kristin membalas dengan senyum lembut di ikuti dengan Dian yg mengangguk malu malu di belakang Kristin.
"Kristin.. kenapa kamu ada di sini?" Tanya Harry dengan nada yg penuh kejutan.
"Kenapa aku tidak bisa ada di sini?" Kristin segera duduk di sebelah saya di ikuti Dian yg duduk di sebelah Kristin.
Dengan gaya yg anggun, Kristin segera memberi ciuman lembut di pipi saya sambil berkata. "Semua biaya sudah di selesaikan, kita bisa pergi kapan saja."
"Terima kasih kak.." balas Cicilia dengan nada yg ramah.
"Ada apa dengan itu, kita akan segera menjadi keluarga."
"He he he..." Cicilia tertawa kecil sambil menatap saya dengan tatapan jahat yg membuat saya sedikit merinding.
Tapi Kristin tiba tiba mengusap punggung saya dengan lembut sambil berkata. "Kamu benar sayang ku... Kita berdua adalah tipe yg sama... Jadi mohon kerja samanya.."
Seketika hati saya langsung jatuh dan keringat dingin perlahan keluar dari dahi saya.
"He he he he he" tawa Cicilia dan Kristin bahkan terdengar seperti tawa nenek lampir di benak saya.
Agak menyeramkan dan membuat saya merinding membayangkan masa depan.
Lalu saya menoleh Dian yg menunduk malu dan sesekali melirik saya yg akhirnya memberi sedikit rasa lega di hati.
"Kristin.. apa maksud semua ini? Bagaimana kamu bisa bersama Wisnu?" Harry terlihat tidak terima dengan kenyataan bahwa Kristin dekat dengan saya.
Tapi Kristin sama sekali tidak terganggu dengan semua itu dan menjawab pertanyaan Harry dengan sikap santai. "Apa urusan mu? Bukankah kamu meninggalkan ku saat aku sedang jatuh dan tidak memiliki apa apa? Jika aku tidak bertemu Wisnu, aku mungkin sudah menjadi wanita panggilan saat ini."
__ADS_1
Lalu Kristin mengalihkan pandangnya pada Hendra yg dari tadi menatapnya dengan tatapan liar. "Ada apa dengan mata mu itu? Kamu pikir aku akan tertarik dengan pria seperti mu? Jangan bandingkan aku dengan wanita lain seperti ayu. Tapi aku harus tetap berterima kasih karena berkat kamu, Wisnu akhirnya bisa menerima ku. Aku pikir aku harus menunggu 6 bulan agar bisa bersama Wisnu, he he he he..."
Hendra terkejut dan ayu benar benar kesal dengan kata kata Kristin. "Aku membenci mu Wisnu.." akhirnya ayu bangkit dari sofa dan bergegas keluar dari ruangan ini di ikuti dengan Hendra yg terlihat suram.
"Wisnu... Kembalikan Kristin pada ku, bukankah kamu sudah memiliki Cicilia?" Harry juga terlihat sangat tidak senang kepada saya, tapi saya tidak terlalu peduli dengan semua itu dan dengan santai berkata. "Kristin bukan barang, dia punya hak untuk memelih. Jadi semua terserah padanya." Lalu saya menatap Kristin memberi kode untuk menjawab. "Meehhh Wisnu lebih baik dari mu"
Harry juga segera meninggalkan ruangan dengan expresi marah "Aku akan membuat kalian menyesal."
Saya hanya mengangkat bahu dengan expresi tak berdaya melihat kepergian Harry, tapi Kristin segera berkata dengan nada menyesal. "Sayang... Maaf, aku terlalu implusif."
"Jangan pedulikan tentang itu, mari kita fokus untuk rencana kedepan." Saya menampar tangan Kristin dengan lembut yg langsung membuatnya tersenyum sebelum berkata. "Ayo kita berangkat sekarang."
"Baiklah.." saya mengangguk dan perlahan bangkit dari tempat duduk.
"Kemana kamu pergi?" Tanya dogles.
"Urusan keluarga, jadi kami harus buru buru. Terima kasih sudah mau berkunjung." Balas ku dengan sopan.
Tidak ada banyak basa basi, kami semua segera meninggalkan ruangan dan pergi menuju tempat parkir.
Tapi entah kenapa saya memiliki firasat buruk saat memasuki area parkir.
Intuisi kuat saya mendeteksi adanya bahaya yg akan datang, tapi saya tidak melihat kejanggalan apapun di area parkir.
"Kristin, lindungi yg lain."
"Mm" Kristin mengangguk dan membawa Cicilia dan yg lainnya mundur dari saya.
"Ada apa ne.." tanya dogles yg terlihat bingung.
Tapi saya dengan cepat mengeluarkan perisai dan mengarahknnya ke depan.
"Tang..." Suara benturan pedang terdengar dan percikan api terlihat di depan perisai saya.
"Safety wall.." Kristin langsung membentuk perisai ajaib yg langsung membungkus semua orang kecuali saya.
__ADS_1
"Brengsek... Ternyata kamu sudah memanfaatkan sistem." Pria mengenakan topeng Dangan dua belati di tangannya tiba tiba muncul di depan saya.
"Siapa kamu? Apa yg kamu inginkan?" Saya mengeluarkan pedang dan segera mengambil sikap bertarung.