JAMAN EMAS

JAMAN EMAS
Bab 15 Monyet cabul 2


__ADS_3

Segera cengkraman tangan pak Joko semakin mengeras dan dia kembali membuka mulutnya. "Apa paha Cicilia mulus?"


Saya menelan ludah dan perlahan menganggukan kepala. "Mulus, bapak membuatnya dengan cukup baik."


"Mmm.. dia mirip dengan ibunya."


"Oohhh" hanya itu yg bisa saya katakan.


"Mmmm"


"Jadi apa saya boleh kembali ke kelas?"


"Yang lain silahkan ke kelas selain kamu."


"Kenapa begitu?'


"Karena kamu harus push up 50 kali sebelum bisa masuk ke kelas." Alis saya berkedut mendengar perkataan pak Joko, tapi Cicilia tiba tiba mendekati pak Joko dengan tatapan memelas. "Ayah.. jangan seperti itu.."


Saya sedikit menghela nafas kerena sepertinya Cicilia akan membantu saya lolos dari hukuman ini.


"Wisnu adalah pria yg kuat, 50 kecil baginya. Beri dia 100 ayah.."


"Kamu benar, kalo begitu biar Wisnu melakukan push up 100 kali sebelum masuk kelas."


Saya benar benar terkejut mendengar kata kata Cicilia dan segera menatapnya dengan tatapan kesal.


"Ayah, sepertinya Wisnu merasa kurang. Beri dia 200 saja ayah."


"Baiklah.."


"Cicilia... Aku akan membalas mu..." Saya berkata dengan kesal padanya, tapi Cicilia hanya menjulurkan lidahnya sambil menarik lengan baju ayahnya. "Ayah... 300...."


"Ya ya ya.." pak Joko hanya mengangguk setuju.


"Sial..." Saya hanya mengutuk dan segara melakukan push up agar tidak ada tambahan lagi.


Tapi dalam pikiran, saya benar benar berniat membalas dendam pada Cicilia dan mulai memikirkan metode balas dendam apa yg cocok untuknya.


*


Setelah membersihkan keringan dan mengganti pakaian di kamar mandi, saya segera kembali ke dalam kelas.


Untungnya saya menyimpan semua pakaian dan perlengkapan mandi di dalam penyimpanan tak terbatas, jika tidak saat ini saya pasti sudah di penuhi bau keringat.


300 push up bukan sesuatu hal yg bisa di lakukan secara enteng.


"Masih hidup.." seru Cicilia melihat saya perlahan masuk ke dalam kelas, tapi saya segera membalasnya dengan jari tengah dan segera duduk di tempat saya.

__ADS_1


Pojok kanan paling belakang di dekat jendela adalah posisi duduk saya.


Bukan tanpa alasan, itu semua agar saya terhalang oleh pandangan guru saat saya sedang tidur.


Semua teman sekelas juga tahu tentang kebiasaan saya, jadi tidak ada yg mau duduk di sebelah saya agar tidak ikut kena marah jika guru memergoki saya tidur.


Tapi kali ini siswi yg terlihat seperti versi muda Kristin menempati tempat duduk saya.


Melihat saya mendekat, dia hanya melirik sekilas sebelum kembali membaca buku pelajaran.


Meja lebar untuk dua orang dan dua kursi, sedangkan satu kursi di dekat jendela di tempati olehnya dan kursi di sebelahnya masih kosong.


Tanpa basa basi saya pergi ke belakangnya dan menarik kursi yg di tempati sehingga di juga ikut tertarik ke belakang.


Lalu saya memindahkan kursi kosong ke sisi dekat jendela, lalu duduk di sana.


Setelah itu saya memindahkan semua buku yg ada di depan saya ke sisi sebelah kanan saya dan segera mengambil posisi tidur.


Tapi sebelum itu saya sedikit melirik siswi itu yg wajahnya masih di penuhi kejutan dengan tatapan mengejek. "Heh.."


Seketika kulit wajahnya yg tadinya putih tiba tiba mulai memerah dari pangkal leher hingga ke seluruh wajahnya.


Segera dia memindahkan tempat duduknya di sisi saya dengan kasar sebelum kembali duduk lalu memberi tatapan kesal pada saya.


"Wisnu.. jangan bertengkar dengan murid baru." Suara guru bahasa Inggris yg mengajar di depan kelas tiba tiba terdengar.


"Ha ha ha ha" tawa semua teman sekelas tiba tiba pecah.


Tapi segera saya di pukul oleh buku pelajaran yg sudah di gulung oleh siswi itu secara beruntun.


Tapi saya hanya diam saja karena pukulannya terasa seperti belain lembut bagi saya.


"Cukup.. jangan bercanda lagi. Wisnu jika kamu berbuat ulah lagi, ibu akan keluarkan kamu dari kelas."


"Baik Bu..." Jawab saya dengan nada malas dan kembali menyandarkan kepala saya di atas meja.


"Rasakan.."


Mendengar ejekan siswi ini, saya membuka salah satu mata saya sambil berkata. "Siapa nama mu?"


"Huh.." Siswi itu segera mengabaikan saya dengan raut wajah menghina.


Tapi saya tidak terlalu peduli dengan semua itu dan segera menyodok teman sekelas yg duduk di depan saya. "Sari.. apa nama murid baru ini Tika sofiana?"


"Ehhh, sudah je kamu tahu." Balas sari dengan cepat.


"Oohhh..."

__ADS_1


"Dari mana kamu tahu nama ku?"


"Huh.." saya balas mengabaikannya dengan raut wajah menghina seperti yg dia lakukan pada saya.


Sekilas saya melihat tatapan terkejutnya yg tiba tiba berubah kembali menjadi kesal, tapi saya hanya mengabaikannya.


Hingga waktu berlalu dan bel istirahat berbunyi.


"Anak anak, semuanya berkumpul di lapangan upacara. Ada hal penting yg ingin di sampaikan oleh kepala sekolah."


Saya membuka mata setelah mendengar perkataan Bu guru, lalu perlahan pergi ke lapangan bersama yg lainnya.


"Senang duduk bersama siswi cantik?" Cicilia segera mendesak saya sambil berkata dengan nada menggoda.


"Kenapa kamu tidak duduk saja dengan ku?"


"Mueee... Siapa yg mau duduk dengan pria cabul seperti mu."


"Setidaknya siswi baru ini mau, benar kan Tika?" Saya menoleh kebelakang untuk melihat Tika yg masih menatap saya dengan expresi suram. "Hapus Iler mu dulu sebelum bicara?"


"Ha ha ha ha" Cicilia tertawa sembari mengeluarkan saputangan dan mengusapnya dengan kasar di mulut saya. "Tidur saja kamu tidak becus."


Saya segera mengaitkan tangan saya di bahunya sambil berkata dengan nada mengancam. "Sepertinya kamu semakin sombong karena ayah mu ada di sini, bagaimana jika setelah ini kita pergi ke gedung kosong di belakang sekolah untuk menyelesaikan urusan kita sekali dan untuk selamanya."


"Heh.. kamu pikir aku takut, dasar pria cabul."


"Katakan sesuka mu, jangan sampai kamu menangis dan memanggil ayah mu."


"Bukankah itu sebaliknya.."


"Katakan lagi..."


Cicilia berbisik di telinga saya. "Bukankah itu sebaliknya, dasar cabul..."


Saya tidak tahu bahwa tindakan kami berdua terlihat sangat intim jika di lihat dari sudut pandang orang lain.


Tubuh yg saling menempel, wajah yg saling berdekayan dan tangan yg saling memeluk bahu dan pinggang satu sama lain.


Sampai suara pak Joko kembali terdengar. "Kamu masih berani menggoda anak ku?"


Saya terkejut dan segera melepas pelukan bahu saya pada Cicilia sambil berkata dengan terburu buru. "Siapa yg mau menggoda monyet nakal ini."


"Ayah... Kenapa Wisnu masih hidup setelah push up 300 kali, apa ayah memberinya kelonggaran." Cicilia berkata sambil memberi tatapan mengejek pada saya sebagai balasan.


"Kenapa ada monyet liar di sekolah?" Saya kembali membalas.


"Kenapa pria cabul bisa berkeliaran di sekolah?" Kami berdua saling menatap dengan tatapan mengancam satu sama lain untuk beberapa saat sebelum pak Joko berkata. "Jangan bertengkar di sini, cepat ke lapangan."

__ADS_1


__ADS_2