
Kedua anak manusia yang sudah dewasa dan juga lawan jenis itu masih menikmati hidangan di atas meja itu. Pandangan Sultan tidak luput dari wajah Anura yang menikmati menu makanan favorit nya. Anura tidak berani menatap balik wajah laki-laki dewasa yang merupakan mantan suaminya itu. Hanya perlu berpura-pura saja menikmati makanan di depannya, itu lebih baik daripada kembali menatap wajah tampan pria yang sebenarnya masih memiliki kekuatan untuk menaklukkan hati Anura. Namun jika mengingat cerita ke belakang di mana bersama pria itulah Anura pernah terluka dan kecewa, hal itu akan membuat Anura seketika akan berpikir seribu kali jika harus kembali menjalin hubungan lebih dari teman dengan Sultan. Di tambah sikap mama mertuanya yang benar-benar membuat hati Anura sakit hati.
"Aku sudah selesai! Ayo kita kembali ke rumah! Semuanya pasti sudah menunggu kita, terutama Latina putri kesayangan kamu," kata Anura.
"Benar! Namun sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengan kamu, Anura!" sahut Sultan. Anura melebarkan senyuman nya seraya menatap wajah tampan laki-laki di depannya.
"Baiklah! Kalau kamu masih betah di tempat ini, aku akan kembali naik taksi saja," ucap Anura terdengar sudah sangat malas berlama-lama bersama dengan Sultan.
"Hai, jangan begitu dong! Kita datang bersama masak pulang nya mau sendiri-sendiri sih? Nanti dikira orang kita sedang berantem. Baiklah, ayo kita kembali ke rumah kamu!" ujar Sultan seraya berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan Anura sejak tadi sudah siap untuk meninggalkan saung itu.
"Oh iya, ini kunci mobilnya! Aku akan ke kasir dulu untuk membayar semuanya," kata Sultan sambil merogoh kunci mobil di sakunya dan menyerahkan nya pada Anura. Anura menerimanya tanpa banyak protes.
Kedua anak manusia dengan jenis kelamin yang berbeda itu berjalan dengan tujuan yang berbeda. Anura langsung melenggang menuju ke tempat parkiran sedangkan Sultan menuju ke kasir di kafe itu untuk membayar semua yang dipesannya tadi bersama dengan Anura.
Anura sudah menunggu di dalam mobil Sultan. Di sana Anura menerima panggilan masuk dari Fatika. Fatika memberitahukan kalau tiba-tiba saja produser film ingin berjumpa dengan dirinya.
"Kenapa bisa mendadak begini sih? Nanti malam? Kamu gimana sih, Fatika? Bilang saja kalau hari ini aku ada acara keluarga atau apa gitu dong. Ini terlalu terburu- buru sekali. Sebenarnya ada apa sih? Bukannya besok aku baru akan mengikuti audisi?" kata Anura.
"Entahlah! Aku juga baru ditelepon langsung oleh Roy kalau Pak produser ingin melihat kamu. Sebenarnya tanpa kamu mengikuti audisi pun, jika pak produser itu menyukai kamu, kamu langsung bisa main dan memerankan tokoh utama di film tersebut. Kamu bisa langsung menandatangani kontrak nya besok pagi," jelas Fatika.
"Apa? Maksudnya om Roy menyuruh aku untuk menjual diri pada produser itu? Supaya aku bisa menjadi aktris di film tersebut tanpa audisi?" tuduh Anura.
" Hem tidak! Tidak! Bukan begitu maksudnya, Anura!" sahut Fatika bingung.
"Fatika! Kamu kan tahu jelas bagaimana aku bukan? Aku tidak pernah memilih jalan pintas untuk mendapatkan peran maupun popularitas. Aku ingin sukses dan maju lantaran prestasi ku sendiri," kata Anura.
"Tapi Anura! Sekarang ini sangat sulit jika hanya mengandalkan kemampuan dan cantik saja. Orang-orang atas dan yang memberikan modal dalam proses produksi film itulah yang menentukan semuanya. Semua artis-artisnya lah yang akan menjual dirinya pada pengusaha-pengusaha itu. Kamu mengerti bukan?" terang Fatika.
"Jadi kamu secara tidak langsung menyuruhku untuk menjual tubuh ku pada laki-laki hidung belang seperti mereka itu?" sahut Anura.
"Eh, bukan begitu Anura! Aku.. aku.. aduh bagaimana ini? Aku juga bingung," kata Fatika di seberang sana.
Tanpa di sadari Sultan sedari tadi sudah menguping pembicaraan Anura dengan Fatika. Walaupun suara Fatika tidak terdengar jelas, namun Sultan sangat paham arah pembicaraan keduanya. Sultan segera menyambar ponsel Anura dan bicara dengan Fatika.
"Fatika! Sampaikan pada orang tersebut, jika Anura tidak jadi mengikuti audisi dan ikut bergabung dalam film tersebut!" kata Sultan. Fatika di seberang sana tentu saja terkejut tiba-tiba saja ponsel Anura berada di tangan Sultan.
__ADS_1
"Eh, Sultan! Ba.. baiklah kalau begitu!" sahut Fatika. Sultan memutuskan panggilan masuk dari Fatika dan menyerahkan ponselnya kembali pada Anura. Sultan menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Apakah kamu akan tetap terjun kembali ke dunia akting, Anura? Bahkan selalu saja orang-orang terutama pria hidung belang suka memanfaatkan artis-artisnya untuk menghangatkan tempat tidur nya," ucap Sultan. Anura melebarkan bola matanya menatap tajam ke arah Sultan.
"Tidak semuanya seperti itu. Memang Produser ini memang dikenal suka bermain dengan artis-artisnya nya," kata Anura tetap keras kepala.
"Hah, terserah kamu! Aku tidak akan bosen untuk mengingatkan kamu dan kamu akan selalu aku lindungi dari pria-pria hidung belang seperti mereka," sahut Sultan seraya menghidupkan mesin mobil nya.
*****
Pagi hari nya Anura dan Fatika sudah meluncur menemui produser film di rumah produksi. Dua wanita dengan status yang berbeda itu kini sudah masuk di gedung tinggi, di mana seseorang itu telah menunggu kedatangan keduanya. Anura mengikuti arahan Fatika untuk menjumpai orang yang memiliki pengaruh dalam dunia hiburan. Fatika mendatangi resepsionis di perusahaan itu untuk bisa menjumpai orang yang dimaksud.
"Selamat pagi, nona! Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu resepsionis dengan penampilan yang anggun dan menarik.
"Selamat pagi! Apakah kami bisa menjumpai Pak Dino Sudajmico?" tanya Fatika. Anura di sebelah nya hanya berdiri mematung tanpa ikut bicara.
"Apakah nona sudah membuat janji dengan beliau?" sahut resepsionis tersebut ramah.
"Sebenarnya kami belum membuat janji khusus dengan pak Dino Sudajmico. Namun kami kemari karena mendapatkan pesan khusus dari Pak Roy supaya kami pagi ini menjumpai Pak Dino untuk suatu perihal penting. Dan menurut Pak Roy, Pak Dino sendiri lah yang memerintah kami supaya pagi ini datang menjumpai nya di perusahaan ini," terang Fatika panjang lebar. Anura yang mendengar Fatika berbicara hanya menyipitkan kedua bola matanya. Fatika menyampaikan pesan itu terdengar bertele-tele sekali.
"Baiklah! Silahkan nono tunggu dulu di kursi depan dulu! Saya akan menghubungi asisten pribadi Pak Dino Sudajmico terlebih dahulu, apakah Pak Dino Sudajmico berkenan menerima kehadiran nona berdua. Kalau boleh tahu nama nona berdua.... " kata resepsionis tersebut ramah.
"Baik, tunggu sebentar nona! Saya akan menghubungi Pak Hima terlebih dahulu. Karena pak Hima lah yang saat ini menjadi asisten pribadi dari Pak Dino Sudajmico," terang resepsionis tersebut sambil menghubungi orang yang dimaksudkan dengan telepon genggam tidak jauh di depan nya.
Anura masih sabar menunggu sedangkan Fatika sudah mulai gelisah dengan lambatnya pelayanan resepsionis di perusahaan tersebut.
"Seperti ini rupanya, kalau hendak menjumpai orang penting?" ucap Fatika kepada Anura. Anura hanya nyengir kuda.
"Ini perusahaan milik orang itu kali! Jadi semua bawahan serta karyawan tentu saja mengikuti prosedur dan aturan perusahaan," sahut Anura santai. Fatika mendengus kesal.
Tidak berapa lama wanita cantik yang menjadi resepsionis di perusahaan tersebut memanggil Fatika dan juga Anura.
"Non Fatika!" sebut resepsionis itu. Fatika bergegas mendekati resepsionis itu.
"Iya, bagaimana mbak? Apakah kami diperbolehkan masuk ke ruangannya?" tanya Fatika terlihat sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Maaf, nona Fatika dan juga... " kata resepsionis itu.
"Anura!" sahut Fatika sudah geram.
"Oh, iya non Fatika dan Anura! Sekali lagi minta maaf non Fatika dan Non Anura! Pak Dino Sudajmico dari pagi sampai sore ini tidak bisa diganggu. Beliau ada meeting dengan beberapa karyawan di perusahaan. Dan hanya sekedar informasi saja, selain pak Dino Sudajmico ini memiliki rumah produksi beliau juga memiliki dua perusahaan besar di bidang konstruksi dan perusahaan impor ekspor," terang resepsionis tersebut seolah menjelaskan kepada Fatika bahwa bos nya super sibuk dan tidak hanya mengurusi masalah perusahaan di bidang hiburan.
Fatika menarik nafasnya dalam-dalam. Dia berusaha sabar dengan apa yang dia dengar. Pak Roy tentu saja tidak salah membuat janji kepada pak Dino untuk dirinya dan juga Anura.
"Baiklah! Apakah saya boleh meminta nomer handphone pribadi dari Pak Dino Sudajmico?" kata Fatika.
"Maaf, nona! Kami tentu saja tidak bisa membantu nona berdua. Saya saja yang sebagai resepsionis di sini tidak memiliki nomer handphone pribadi pimpinan kami, apalagi nona berdua," sahut resepsionis itu terdengar nyinyir.
Fatika yang mendengar resepsionis berkata seperti itu rasanya ingin menambah rambutnya. Apalagi Anura yang sudah jenuh dengan sikap resepsionis itu yang mulai tidak sopan.
"Sudahlah, Fatika! Lebih baik aku langsung ke studio dan mengikuti audisi saja. Untuk apa terlalu ribet seperti ini," ajak Anura sambil menarik tangan Fatika.
"Tapi aku disuruh Pak Roy untuk menjumpai laki-laki sombong seperti Pak Dino ini," protes Fatika.
"Dia sibuk! Kamu sudah dengar sendiri bukan?" kata Anura sambil tetap menarik tangan Fatika keluar dari dalam bangunan megah perusahaan itu.
Karena Anura menarik-narik Fatika tanpa melihat ke depan, tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengan Anura.
Prak.
(ponsel mewah milik seseorang itu jatuh dari genggaman saat menabrak Anura yang berjalan tanpa melihat di depan)
"Eh, maaf!" ucap Anura akhirnya melepaskan tangan Fatika dan menunduk mengambil ponsel seseorang yang telah Anura jatuhkan.
Seseorang itu berdiri mematung melihat tingkah Anura yang sudah panik. Sedangkan Fatika menatap orang tersebut dengan tatapan penuh minat dan terpesona.
"Ganteng banget sih?" gumam Fatika tanpa berkedip. Anura segera berdiri setelah mengambilkan ponsel milik seseorang yang telah disenggol nya.
"Maaf, ini ponsel anda!" kata Anura sopan. Seseorang itu menerima ponselnya kembali seraya menyipitkan matanya melihat Anura.
"Apakah kamu karyawan di sini?" tanya seseorang itu dengan jenis kelamin laki-laki.
__ADS_1
"Maaf, kami bukan karyawan di sini! Ayo Fatika, cepat pergi dari sini sebelum audisi nya ditutup untuk hari ini," kata Anura kembali menarik tangan Fatika yang sejak tadi diam berdiri mematung saja melihat wajah laki-laki itu.
"Eh, tunggu dulu!" teriak laki-laki itu namun tidak digubris oleh Anura. Padahal Fatika sudah mencoba mengingatkan Anura kalau laki-laki itu berusaha menahannya.