
"Kak Zen, jelaskan pada non Anura kenapa kamu memasukkan obat yang mengandung afrodisiak ke dalam minuman nya?" ucap Fatika pada Zen setelah mereka bertemu di kantor tepat nya di ruang kerja Dino Sudjatmiko. Zen menyipitkan bola matanya mendengar Fatika berbicara seperti itu.
"Loh, siapa yang memasukkan obat perangsang ke dalam minuman non Anura? Aku tidak tahu kok. Apalagi sampai berani melakukan itu," sahut Zen berusaha menepis tuduhan yang dikatakan oleh Fatika. Mata Anura sudah melotot tajam ke arah Zen.
"Sudahlah, Zen! Kamu terus terang saja pada mereka kalau kamulah yang melakukan itu semua nya," sambung Dino Sudjatmiko yang kini sudah duduk di meja kerja nya. Dino menandatangani surat kontrak yang sudah dibuat oleh Zen dan diletakkan nya di atas meja kerja nya. Kini tinggal Anura yang akan menandatangani kontrak tersebut.
"Eh, aku, aku, aku melakukan nya karena punya alasan," sahut Zen ingin membela dirinya. Apa yang ia lakukan sebenarnya untuk menolong bos nya supaya bisa mendapatkan Anura secara utuh.
Anura dan Fatika saling berpandangan. Fatika benar-benar ingin tahu alasan apa yang membuat Zen berbuat seperti itu yang tentu saja akan merugikan Anura.
"Aku hanya ingin tuan muda Dino Sudjatmiko jadian dengan non Anura. Bila perlu mereka akan menjadi pasangan suami istri. Apa aku salah? Sedangkan non Anura dengan bos Dino Sudjatmiko sama-sama berstatus sendiri dan belum memiliki kekasih dan calon pendamping," ucap Zen. Sekarang Dino dengan Anura saling berpandangan. Kedua netra mereka saling beradu. Tentu saja Dino merasa terintimidasi oleh Anura.
"Eh, bukan aku yang menyuruh Zen, kok! Sumpah Demi Tuhan! Berani di cium bidadari sampai seribu dalam satu malam deh kalau aku menyuruh Zen," ucap Dino.
"Bos!? Bukankah tuan muda juga secara tidak langsung menyuruh saya supaya memperlancar usaha anda lebih dekat dengan non Anura?" sahut Zen meralat.
"Eh???" Dino terkejut dan memerah wajahnya.
"Heh??" Anura tidak kalah terkejut bukan main. Matanya semakin membulat dengan sempurna melihat ke arah Dino Sudjatmiko.
"Lebih baik kita membahas yang penting saja. Ini tolong ditandatangani saja kontrak kerjanya dan besok setelah mengadakan doa bersama untuk dimulainya produksi film itu, nona Anura langsung bisa bekerja dan syuting memerankan tokoh utama dalam film itu. Dan dialog akan diberikan nanti oleh anak buah pak Roy," ucap Dino Sudjatmiko berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Fatika melihat isi surat perjanjian itu sebelum Anura menandatangani nya.
"Ya sudahlah, non Anura! Lebih baik kita tanda tangani saja surat perjanjian ini. Lalu. kita kembali," kata Fatika.
__ADS_1
"Apa kah di sana sudah ada pihak-pihak yang terkait yang sudah menandatangani nya?" tanya Anura.
"Sudah nih! Di sini ada om Roy, tuan muda Dino Sudjatmiko yang terlibat dalam penggarapan film itu," jawab Fatika.
"Apakah isinya menguntungkan atau setidaknya tidak memberatkan pihak aktris?" tanya Anura.
"Tidak Anura!" jawab Fatika.
"Baiklah kalau begitu! Aku akan mengambil kontrak film itu. Setelah aku pelajari naskah dan ceritanya, tokoh yang aku perankan tidak ada adegan ranjangnya. Jadi aku mau ambil saja," kata Anura.
"Oke, silakan nona Anura!" ucap Dino Sudjatmiko seraya memberikan pena pada Anura. Anura segera menandatangani surat perjanjian itu.
"Nah, sekarang bagaimana kalau kita makan siang bersama dengan kami, nona! Ini sebagai permintaan maaf karena asisten pribadi saya sudah melakukan tindakan yang kurang etis dan sopan terhadap nona," kata Dino Sudjatmiko.
"Loh, makan siang ini juga ada pak Roy, kok! Benar begitu kan Zen?" sahut Dino Sudjatmiko.
"Benar, nona! Seharusnya pak Roy juga sudah di sini menyaksikan salah satu aktrisnya menandatangani surat kontrak ini. Tapi tadi pak Roy meminta ijin terlebih dahulu dan mengatakan terlambat datang karena ada sedikit kepentingan dengan beberapa aktris dan aktor nya juga yang terlibat dalam garapan film ini. Makanya makan siang nanti pak Roy akan datang ke restoran yang telah kita janjikan tempat nya," jelas Zen panjang lebar.
"Bagaimana Fatika?" tanya Anura.
"Kalau urusan makan-makan seperti itu. Kita jangan lagi menolak nya, nona! Ini menolak rejeki juga namanya," jawab Fatika. Zen dan Dino tersenyum mendengar Fatika yang mendukung rencananya.
"Tapi hanya makan siang saja kan? Soalnya saya harus kembali. Kasihan anakku, dari. kemarin aku tinggal terus," kata Anura.
"Hanya makan siang, Anura!" ucap Dino Sudjatmiko.
__ADS_1
*****
Saat makan siang di sebuah restoran. Sultan melihat keberadaan Anura beserta yang lain nya. Apalagi disaat Sultan mendapatkan kesempatan itu di mana Anura sedang berada ke toilet. Sultan segera menarik Anura dan melarikan Anura dari tempat itu.
"Kenapa kamu membawaku kabur mas? Aku sedang makan siang bersama dengan produser film dan juga sutradara film yang akan aku perankan nanti. Ditambah aku sudah menandatangani kontrak kerja dengan mereka," kata Anura yang saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil.
Saat Anura diajak pergi dari restoran itu. Anura tidak mau ribut-ribut. Itu akan mengundang masalah. Jadi Anura memberikan kesempatan ada Sultan, mantan suaminya itu untuk berbicara dengan dirinya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau kamu tidak boleh bekerja dan kembali ke dunia akting. Kenapa kamu sangat keras kepala sih, Anura!" ucap Sultan. Anura menyipitkan bola matanya mendengar semua perkataan Sultan.
"Itu hak aku, mas Sultan! Semua keputusan ada di tangan aku, aku mau bekerja di mana saja, itu sudah urusan aku dan bukan urusan kamu lagi. Lagipula kamu bukan suami aku yang berhak mengatur kehidupan dan jalanku, mas!" ucap Anura yang membuat Sultan yang mendengar nya menjadi geram.
"Tapi aku sangat perduli dengan kamu, Anura! Kamu masih memiliki baby yang harus kamu perhatian dan rawat. Kalaupun kamu mau bekerja dan butuh uang, aku bisa memberikan kepada kamu tanpa susah payah menghabiskan waktu siang dan malam untuk kegiatan syuting film," kata Sultan.
"Tapi ini sudah keputusan aku, mas! Dan Danan baik-baik saja dengan baby sitter ku. Mungkin akan aku ajak juga di lokasi syuting jika memungkinkan juga," ucap Anura.
Mobil itu berhenti dipinggir jalan. Sultan mendekati Anura dan kini merangkum kedua pipi Anura. Kedua netra mereka beradu. Entah apa isi dalam pikiran keduanya. Yang pasti Anura diam dan menahan nafasnya saat wajah Sultan sangat dekat pada wajahnya.
"Aku masih menyayangi kamu, Anura! Kembalilah dengan aku. Jadilah istriku yang penurut seperti dulu, yah! Aku tidak akan menyakiti kamu lagi. Tolong Anura!" kata Sultan. Tanpa bicara Sultan memejamkan matanya dan menempelkan bibir nya ke bibir Anura. Dingin sekali yang ia rasakan.
"Eh, Mas Sultan!" gumam Anura. Anura sedikit menjauh dan menjaga jarak bukan karena Sultan didiagnosa mengidap virus corona. Melainkan Anura takut, sangat takut jika hatinya kembali berbunga seperti dulu dan sangat takut berhubungan kembali dengan Sultan.
"Ma, ma, maaf Anura! Tapi aku benar-benar masih mencintai kamu. Kamu mau yah, menjadi istriku?" tanya Sultan kembali. Namun kembali tidak ada jawaban melainkan Anura terdiam dan air matanya sudah jatuh dari kedua matanya.
Ada apa dengan Anura? Kenapa dia menangis? Apakah kurang lama ciumannya??
__ADS_1