
Di ruang tamu itu, kini ada Sultan dan juga Anura. Kedua pasang mata mereka bertemu. Entah apa yang ada di dalam pikiran keduanya. Yang pasti kedua mata Sultan mengisyaratkan minat yang cukup besar terhadap Anura. Ada kerinduan yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Namun karena Sultan selalu menghargai Anura dalam setiap langkah dan keputusan itu, Sultan tidak mau memaksakan diri dengan segala egonya. Lagipula, Sultan bukan siapa-siapa lagi bagi Anura. Hanya kepingan masa lalu yang mengukir cerita indah dan kelam. Masa indah itu saat keduanya menjadi suami istri yang penuh keharmonisan dan keromantisan. Namun ketika kelam itu tiba, saat Sultan melakukan kesalahan dan telah berselingkuh dengan adik kandung Anura sendiri, yaitu Tinira. Walaupun semua itu bukanlah kesalahan sepenuhnya pada Sultan. Semua terjadi karena rencana mama nya, bu Subangun dan Tinira sendiri untuk merusak rumah tangga Sultan dengan Anura. Pada akhirnya, memang semua rencana itu berhasil dan Anura dengan Sultan bercerai karena Anura mendapati Sultan tidur dengan adiknya sendiri.
Walaupun Anura setelah itu bertemu dengan Dewa dan keduanya saling jatuh cinta serta membangun rumah tangga kecilnya. Menikah dengan Dewa, Anura mendapatkan buah cinta mereka dengan hadirnya Danan. Namun Sultan ingin tetap kembali dan merebut kembali hati Anura karena Dewa sudah tidak ada di dunia ini. Seolah takdir memberikan peluang besar itu pada Sultan. Namun apakah Anura sendiri mau kembali dengan Sultan setelah mama mertuanya dengan nyata menyingkirkan nya dari keluarga besar Sultan.
Anura tidak terbukti mandul. Nyatanya Anura bisa hamil dan melahirkan Danan dari benih cinta Dewa. Lantas, dalam hal ini, apakah sejatinya Sultan lah laki-laki yang mandul itu? Sultan ingin membuktikan bahwasanya dia juga laki-laki sejati. Namun Sultan tidak ingin sembarangan mencoba dan tidur dengan Wanita yang tidak ia cintai nya. Itulah pribadi Sultan yang lain dari yang lainnya. Soal dirinya bermain dan berhubungan dengan Tinira itu adalah suatu ketidaksengajaan yang nikmat. Karena pengaruh obat perangsang yang diminum nya. Walaupun setelah itu pada akhirnya Sultan menikah dengan Tinira.
"Ikut denganku!" ucap Sultan seraya menarik tangan Anura menuju kamar utama yang diketahuinya adalah kamar Anura. Sultan tau, tidak ada siapapun di kamar Anura. Sedangkan Danan dan juga baby sitter nya di kamar Danan. Dan juga Fatika serta Latina, putri nya pasti diajaknya bermain di kamar Danan.
"Eh, ngapain ke kamar ku?" protes Anura.
"Maaf! Kalau begitu ikut aku!" ucap Sultan seraya mengurungkan niatnya masuk ke kamar Anura. Kini tangan Sultan menarik paksa Anura dan membawanya ke luar rumah itu. Anura sebenarnya ingin memberontak dan menolak Sultan untuk mengajaknya pergi.
Benar! Kini Anura menuruti kemauan Sultan membawa dirinya ke suatu tempat. Keduanya kini di dalam mobil yang sama. Bahkan mobil Sultan yang saat ini dibawa adalah mobil yang sama seperti dulu saat mereka masih menjadi suami istri. Keduanya masih diam tidak berbicara. Anura masih tenang, Sultan mengajak pergi ke suatu tempat. Sampai akhirnya Sultan menghentikan mobilnya ke suatu kafe dan memarkirkan mobilnya di sana.
"Aku hanya ingin berbicara santai berdua dengan kamu. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam dengan kamu!" ucap Sultan. Kini pintu mobil itu dibukakan dan turunlah mereka berdua.
"Hanya makan dan minum di sini. Dan juga berbicara masa depan. Kamu cukup mendengar saja. Oke!" tambah Sultan. Anura masih santai dengan sikap Sultan yang memperlakukan dirinya bak seorang putri.
__ADS_1
*****
Sultan terlihat sibuk menuliskan pesanan makanan dan minuman untuk dirinya dan juga wanita di depan nya. Kafe dengan bernuansa lesehan dan saung itu menambah suasana semakin akrab dan intim. Anura memperhatikan laki-laki yang dulu pernah mengisi hari-harinya penuh kebahagiaan itu sedang berusaha membuat dirinya senang.
"Ini catatan pesanan nya mbak! Jangan lupa sambel terasi nya. Dan yang terakhir, jangan lama yah!" ucap Sultan seraya memberikan buku kecil pesanan itu pada pelayan kafe. Pelayan kafe itu tersenyum ramah dan berlalu meninggalkan saung dimana mereka sedang duduk berdua.
"Aku sudah memesankan iga bakar dan juga juz mangga kesukaan kamu, Anura. Apakah menu itu masih favorit bagimu?" ucap Sultan. Anura tersenyum lebar.
"Kamu masih ingat menu kesukaan aku, mas! Tapi sekarang aku juga suka cah kangkung. Apakah kamu sudah memesan nya juga?" sahut Anura.
"Tentu saja! Aku sudah memesankan sayuran kesukaan kamu, Anura. Oh iya, kembali ke pembicaraan serius," kata Sultan. Anura menyipitkan matanya.
"Aku ada sedikit penawaran untuk kamu, Anura! Bukankah kamu ingin sibuk dan kembali bekerja. Nah, aku sebenarnya tidak ingin kamu kembali ke dunia akting dan kamu menjadi artis. Bagaimana kalau kamu kembali bekerja di perusahaan bersama ku. Jujur saja! Aku sangat mengkhawatirkan kamu, Anura. Setidaknya jika kamu bekerja di kantor bersama dengan aku, aku bisa selalu memantau kamu dan memastikan kalau kamu selalu baik-baik saja," kata Sultan. Bola mata Anura membulat dengan sempurna.
"Mas Sultan! Antara aku dengan kamu sudah tidak ada ikatan apapun lagi. Kenapa kamu masih peduli dengan aku, mas! Lagi pula, aku tidak mungkin bekerja di perusahaan kamu, mas. Dimana di sana juga ada papa kamu," ucap Anura.
"Hai, aku peduli dengan kamu dari dulu Anura! Karena aku selalu menyayangi kamu. Kamu tau itu bukan? Kalau pun kita tidak ada ikatan apapun lagi, aku ingin setelah ini aku mengikat kamu," kata Sultan. Kini sifat asli Sultan yang egois dan protektif mulai keluar.
__ADS_1
"Apa maksud kamu, mas?" sahut Anura dengan menyipitkan matanya.
"Aku ingin rujuk lagi dengan kamu. Bukankah Dewa sudah tidak ada di dunia ini?" kata Sultan tanpa memperdulikan perasaan Anura yang masih berduka dan kehilangan Dewa. Sontak saja kedua bola mata Anura melebar dengan sempurna.
"Mas!" sahut Anura yang terlihat tidak suka dengan ucapan Sultan.
"Maaf! Maafkan aku! Anura, tolong aku Anura! Aku dari dulu ingin kembali dengan kamu. Aku ingin kita seperti dahulu. Tolong maafkan aku dan beri kesempatan aku untuk memberikan kebahagiaan itu pada kamu dan juga anak-anak kita," kata Sultan seraya meraih pergelangan tangan Anura. Anura segera menarik tangannya.
"Anak-anak kita?" tanya Anura.
"Benar! Anak kamu, anak aku juga! Danan dan juga Latina akan kita besarkan bersama-sama, Anura. Berikan mereka kebahagiaan dengan memiliki orang tua yang lengkap," ucap Sultan.
"Mas!" sahut Anura seolah ini memprotes dengan semua yang diucapkan oleh Sultan.
"Maaf, aku terlalu terburu-buru. Tolong Anura, jangan kembali menjadi aktris yah. Bergabung di perusahaan aku. Perusahaan kita! Papa mama tidak akan keberatan jika kamu berada di dekat aku. Karena papa sangat menyayangi kamu. Dan juga mama, sudah menyesali perbuatannya. Anura, aku mohon!" ucap Sultan memohon.
Anura diam. Banyak pertimbangan yang dia pikirkan jika bekerja di perusahaan mantan suaminya itu. Jika dirinya menyanggupi bekerja di tempat itu, itu artinya dirinya mendekatkan dirinya pada Sultan. Itu sama halnya memberikan peluang yang besar untuk kembali pada Sultan.
__ADS_1
"Ah, maaf Sultan! Aku tidak bisa! Aku tetap akan terjun ke dunia akting seperti sebelumnya. Dan ini adalah duniaku. Semua yang aku kerjakan adalah hobi yang menghasilkan uang. Ini lebih baik untuk aku menikmati hidup," ucap Anura. Sultan menarik nafasnya dengan kasar. Tentu saja dirinya sangat kecewa dengan apa yang Anura katakan.
"Ah, baiklah! Aku hargai semua yang menjadi keputusan kamu. Oke, lebih baik kita makan dulu!" sahut Sultan seraya diam dan mendekatkan piring-piring di depan Anura setelah pelayan di kafe itu tiba dan meletakkan makanan dan minuman yang telah dipesan oleh Sultan.