
Zen pergi menuju ke toilet, meninggalkan tuan muda Dino Sudjatmiko dan dua wanita cantik yang menerima undangan makan malam bersama tuan muda Dino Sudjatmiko. Setelah menuntaskan hajatnya di dalam toilet, Zen segera berjalan kembali ke saung di mana ada tuan muda Dino Sudjatmiko, Fatika dan Anura duduk menunggu pesanan makanan dan minuman nya di atas ke meja mereka.
Saat berjalan kembali ke meja nya, Zen melihat pramusaji sudah menghantarkan berbagai pesanan dari tempat meja nya. Zen mengikutinya. Zen berusaha memotong pelayan kafe itu yang membawa troli makanan.
"Mbak, ini pesanan untuk meja 088 di saung di sudut sana itu yah?" tanya Zen memastikan.
"Oh, bapak! Benar sekali!" jawab pramusaji tersebut dengan tersenyum ramah.
"Wah, kebetulan sekali! Saya ambil juz mangga ini satu mbak, sudah sangat haus," kata Zen. Dengan nekat dan tidak sopan mengambil satu gelas juz mangga yang ada di troli makanan itu tanpa menunggu persetujuan dari pramusaji kafe itu. Pelayan kafe itu hanya bisa tersenyum lebar dan ramah. Zen kini sudah memegang gelas yang berisi juz mangga itu.
__ADS_1
"Ya sudah, mbak! Silahkan diantar pesanan makanan nya itu ke saung. Saya juga mau ke sana," perintah Zen. Zen menunggu pramusaji tersebut kembali berjalan dan mendorong troli yang berisi menu pesanan di meja tuan muda Dino Sudjatmiko. Kini Zen mulai mengambil obat perangsang yang sudah ia siapkan di kantong celana panjang nya. Lalu mulai memasukkan nya di dalam gelas juz mangga yang saat ini dia bawa. Zen tersenyum penuh rencana. Zen kali ini bisa bernafas dengan lega.
"Aku akan membantu Anda, tuan muda Dino Sudjatmiko! Selama ini anda sudah terlalu terobsesi dengan model dan aktris itu. Padahal anda sudah jelas-jelas tahu kalau wanita itu sudah tidak original lagi. Bahkan sekarang sudah menyandang status janda yang kedua kalinya. Tuan muda Dino Sudjatmiko! Anda benar-benar sangat bodoh sekali. Mencari barang kok second," gumam Zen.
Zen kini sudah berjalan menuju saung di meja 088. Dan dengan cuek duduk kembali dan bergabung bersama dengan ketiga laki-laki dan wanita dewasa. Gelas yang berisi juz mangga dan sudah Zen taburi obat perangsang dia letakkan di atas meja di depan Anura.
"Semoga saja, tepat sasaran. Jika salah diambil orang, ini bukan lagi keberuntungan bagi tuan muda Dino Sudjatmiko," batin Zen dan tetap berusaha mengingat gelas itu supaya bisa terminum pada orang yang ditargetkan nya.
"Silahkan dinikmati makanan dan minuman nya, pak, bu!" ucap pramusaji tersebut setelah selesai meletakkan semua hidangan yang sudah dipesan oleh Anura, Fatika dan juga Dino Sudjatmiko.
__ADS_1
"Terimakasih, mbak cantik!" jawab Zen dengan mengerlingkan bola matanya. Pramusaji tersenyum dan meninggalkan saung itu.
"Ayo kita makan, Anura, Fatika!" ucap Dino yang terlihat sudah semakin akrab dengan keduanya setelah berbincang-bincang selama menunggu pesanan makanan tadi diantar.
"Selamat makan!" sahut Fatika bersemangat.
"Ayo makan!" kata Zen tidak kalah hebohnya.
Sekarang semuanya sudah mulai menikmati makanan mereka. Zen mendekatkan juz mangga yang sudah diberi obat. Zen mengamati dan memastikan kalau gelas yang berisi juz mangga di depan Anura tersebut benar-benar diminum habis oleh Anura.
__ADS_1
"Ayo, di minum juz mangga nya nona! Habis kan dan jangan ragu-ragu," batin Zen sambil menatap Anura yang sudah mulai meminum jus mangga di depannya.