
Sekarang semuanya sudah mulai menikmati makanan mereka. Zen mendekatkan juz mangga yang sudah diberi obat. Zen mengamati dan memastikan kalau gelas yang berisi juz mangga di depan Anura tersebut benar-benar diminum habis oleh Anura.
"Ayo, di minum juz mangga nya nona! Habis kan dan jangan ragu-ragu," batin Zen sambil menatap Anura yang sudah mulai meminum juz mangga di depannya.
Zen sudah sangat yakin jika juz mangga yang sudah dicampuri obat perangsang itu terminum oleh Anura. Kini langkah kedua adalah menjauhkan asisten pribadi Anura dari tempat itu supaya menyisakan Anura bersama dengan tuan muda Dino Sudjatmiko di sana. Zen memilih mengajak Fatika bersama dengan nya.
"Oh iya, non Fatika! Boleh kah saya berbincang sebentar dengan nona Fatika. Saya perlu membicarakan perjanjian kontrak yang nanti akan ditandatangani oleh non Anura sebagai aktris yang akan memerankan suatu film dengan sutradara film om Roy," kata Zen. Alasan itu cukup masuk akal karena tujuan mereka memenuhi undangan makan malam bersama dengan tuan muda Dino Sudjatmiko adalah soal kontrak kerja itu.
"Tentu saja tuan Zen! Mari kalau begitu!" sahut Fatika dengan semangat menyambut ajakan Zen untuk berbincang.
"Hai kenapa kalian harus berdua? Bukankah aku sebagai pihak pertama yang akan menandatangani kontrak itu? Lebih baik kita mengobrol di sini saja bersama-sama dengan tuan muda Dino Sudjatmiko juga selaku produser film nya," sahut Anura. Zen menyipitkan bola matanya.
"Fatika, kamu bisa berbincang dan ngobrol dengan tuan muda Dino Sudjatmiko. Dan aku dengan tuan Zen. Oke?" desak Fatika.
"Benar, nona Anura! Jangan khawatir! Asisten pribadi nona akan saya kembalikan dalam keadaan utuh dan tidak ada yang hilang," tambah Zen. Rasanya lega Fatika melancarkan usahanya untuk mendekatkan Anura dengan bos nya.
Fatika bersama dengan Zen meninggalkan tempat duduk itu dan menyisakan Dino Sudjatmiko bersama dengan Anura. Kini keduanya menjadi merasa canggung. Apalagi Dino mulai salah tingkah saat Anura menatap nya.
"Ada apa nona? Ayo lebih baik kita lanjutkan makan nya lagi!" kata Dino mulai gugup.
Akhirnya walaupun perutnya sudah merasa kenyang, kembali dirinya menyuapkan makanan ke mulutnya. Namun berbeda dengan Anura yang tiba-tiba saja merasakan keanehan pada apa yang ia rasakan. Akhirnya kembali juz mangga yang masih ada di depannya itu kembali Anura minum hingga tandas. Tentu saja semua obat yang telah dicampurkan ke dalam minuman juz mangga itu semua masuk ke dalam tubuh Anura.
Dino Sudjatmiko mulai heran melihat Anura yang tiba-tiba wajahnya menjadi kemerahan. Anura seperti sangat gelisah. Tingkahnya semakin aneh. Kedua mata Dino Sudjatmiko menyipit mencoba memahami apa yang sedang dirasakan oleh Anura.
"Maaf nona Anura! Ada apa? Apakah ada masalah atau terjadi sesuatu pada nona?" tanya Dino Sudjatmiko.
__ADS_1
"Hah? Emm seperti nya saya harus pulang. Saya masih punya anak bayi di rumah," ucap Anura sambil gemetaran. Tentu saja Anura sudah tidak nyaman lagi dengan apa. yang dirasakan nya.
"Pulang? Tapi asisten pribadi anda masih bersama dengan Zen, asisten pribadi ku juga," sahut Dino Sudjatmiko.
"Iya, anda benar tuan Dino! Sedangkan kunci mobilnya tadi Fatika yang membawanya. Tapi saya harus kembali. Bisakah tuan Dino memesankan taksi untuk saya? Saya harus pulang," ucap Anura. Dia mulai gemetaran. Anura sudah sangat yakin, ada yang tidak beres dengan apa yang dia alami.
"Kenapa harus memesan taksi? Kalau nona sudah sangat buru-buru ingin secepatnya pulang, saya bisa mengantarkan nona pulang ke rumah," tawar Dino Sudjatmiko.
"Hah? Hem tapi tuan? Apakah tidak merepotkan anda?" sahut Anura. Anura segera menyambar tasnya. Dan Anura mulai berlari meninggalkan tempat duduk itu. Dia sudah benar-benar tidak tahan dengan semua yang ia rasakan. Apalagi saat menatap laki- laki di depannya.
"Nona Anura, tunggu!" ucap Dino Sudjatmiko seraya mengejar. Dino tentu saja bingung dengan sikap aneh Anura.
"Ada apa sih dengan wanita itu? Apa yang terjadi pada nya?" Gumam Dino seraya mengejar Anura yang berlari dengan cepat menuju ke area parkir.
Dino Sudjatmiko berhasil mengejar Anura dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya. Anura merintih dan gemetaran menahan semua yang bergejolak dengan apa yang ia rasakan. Dino segera menjalankan mobilnya dengan cepat.
Dino Sudjatmiko melirik ke samping di mana Anura mulai berkeringat. Punggung tangannya dia gigit sendiri.
"Anura! Jangan menyakiti diri kamu sendiri!" cegah Dino seraya menampik tangan itu dengan satu tangan kiri nya. Satu tangan kanannya memegang kemudi.
"Panas banget, uhhh lebih cepat dikit!" ucap Anura dengan nada memerintah. Kedua kaki nya sudah merapat mencoba menahan segala kedutan yang meresahkan Anura.
"Tuan Dino tolong! Tolong lebih cepat sedikit! Panas sekali dan aku benar-benar tidak bisa menahan nya lagi," ucap Anura. Sekuat tenaga ia bertahan dan mengendalikan apa yang ia rasakan. Gairahnya meluap dan hasratnya meronta-ronta. Tentu saja Dino sangat mengkhawatirkan akan semua yang di alami. oleh wanita yang diam-diam menarik perhatian nya.
"Kamu bertahanlah, Anura! Kamu pasti kuat menahannya!" ucap Dino. Mata Anura sudah sangat sayu menahan gejolak nya. Ini sangat menyakitkan. Dia harus menuntaskan sendiri jika sudah tiba di rumah.
__ADS_1
Seperempat jam berlalu akhirnya Dino berhasil mengantarkan Anura Sampai di rumahnya. Mobil Dino berhenti di depan gerbang rumah kediaman Anura. Penjaga rumah itu sudah membukakan gerbang dan mendekati mobil Dino. Namun Anura sudah gemetaran dan penampilan nya sudah berantakan karena Anura menjambak rambutnya sendiri.
"Nona Anura! Ini rumah kamu bukan?" ucap Dino. Namun Anura masih tidak bergeming di dalam mobilnya. Sampai penjaga rumah itu mengetuk pintu kaca mobil Dino. Dino sengaja memilih keluar dan turun dari mobilnya.
"Maaf, anda mencari siapa?" tanya penjaga rumah itu.
"Maaf Pak! Saya mengantarkan nona Anura! Boleh bukakan pintu gerbang nya pak! Sepertinya nona Anura harus saya bopong masuk ke dalam. Nona Anura dalam keadaan sakit sedangkan asisten pribadi nya masih ada urusan," jelas Dino.
"Oh begitu! Jadi di dalam ada nona besar?" tanya penjaga rumah itu.
"Benar!" jawab Dino.
"Baiklah! Silahkan masuk kalau begitu, pak!" ucap penjaga rumah Anura.
Dino membuka pintu mobilnya dan mengangkat tubuh Anura yang sudah berantakan. Tubuh nya benar-benar sudah basah dengan keringat. Anura menggigit bibirnya sendiri merasakan semakin aneh dengan tubuh nya. Tanpa halangan Dino membawa masuk Anura ke dalam rumah. Di sana salah satu asisten rumah tangga membantu Dino membaringkan tubuh Anura di dalam kamar.
"Terima kasih, bibi! Boleh tinggal kan kami sebentar!" ucap Dino kepada salah satu assisten rumah tangga itu.
"Tapi, apakah tidak apa-apa dengan nona besar? Saya takut jika terjadi sesuatu dengan nona," ucap bibi asisten rumah tangga di rumah Anura.
"Tidak apa-apa, percaya dengan saya!" ucap Dino.
"Baiklah kalau begitu! Saya kembali ke belakang dulu, pak! Nanti jika memerlukan saya kembali, panggil saya saja pak!" kata bibi asisten rumah tangga itu.
"Baik, bibi!" sahut Dino seraya mengantarkan pembantu rumah tangga itu keluar dari kamar Anura. Kini di kamar itu menyisakan Dino bersama Anura. Sekarang Dino mulai mengangkat tubuh Anura dan membawanya ke bathtub. Namun Anura sudah semakin tidak bisa mengontrol dirinya saat Digendong dengan Dino. Tangannya sudah kemana-mana menyentuh wajah Dino. Bahkan jarinya yang lentik menari nari indah di bibir seksi Dino.
__ADS_1
"Jangan menggodaku nona! Aku laki-laki normal yang sewaktu-waktu jadi liar memangsa siapapun yang mencoba membangunkan adik kecilku," ucap Dino dengan menaham gejolak yang meluap-luap saat tangan lembut Anura mulai mengusap dada bidangnya. Namun itu tidak lama, Dino segera meletakkan tubuh Anura dan menceburkannya di bathtub yang sudah penuh air dingin di dalam nya.
"Ahhh dingin!!" ucap Anura. Dino masih mengkhawatirkan keadaan Anura. Apakah dengan cara itu, Anura bisa menghilangkan pengaruh afrodisiak di dalam tubuh nya.