JANDA LEBIH MENGGODA

JANDA LEBIH MENGGODA
BAB 26


__ADS_3

Fatika kini mendatangi rumah Anura setelah Anura mengabarkan dirinya telah kembali ke rumah nya. Fatika pun yang saat ini masih bersama dengan Zen di apartemen Zen segera bergegas menuju ke rumah Anura.


"Aku ikut yah, sayang! Aku juga akan memberitahu tuan muda Dino Sudjatmiko kalau Anura sudah pulang di rumahnya," ucap Zen yang berusaha menahan Fatika. Zen memeluk Fatika dari belakang. Kedua orang itu terlihat masih polos setelah melakukan kegiatan intens yang menguras energi. Fatika mulai mengenakan kembali pakaiannya namun sulit karena Zen masih memeluk dirinya.


"Zen, lepaskan dulu dong sayang! Aku harus pakai pakaian dulu. Aku harus ke rumah Anura dan memastikan kalau Anura baik-baik saja. Banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan pada Anura," kata Fatika.


"Hem, baiklah! Tapi hati-hatilah sayang! Kamu sekarang ini jangan terlalu capek yah! Di sini sudah ada kecebong ku. Aku tidak mau ini jatuh dan keguguran," ucap Zen sambil mengusap lembut perut Fatika.


"Biar saja jatuh dan gugur! Kalau kamu tidak secepatnya menikahi aku! Aku pastikan dalam satu minggu ini aku akan mengaborsi nya kalau kamu tidak sungguh-sungguh menikahi aku," ancam Fatika. Zen tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Fatika.


"Lusa aku pastikan kita menikah sayang! Cuma pesta pernikahan nya kita langsung kan bukan depan," kata Zen sambil merangkum kedua pipi Fatika.


"Enggak mau! Pokoknya jangan ditunda-tunda lagi! Aku mau sekalian pesta biar semua orang tahu kalau kita sudah menjadi suami istri," protes Fatika.


"Oke, oke, oke! Baiklah cantikku!" sahut Zen.


"Sekarang lepas dulu dong! Aku gak bisa pakai baju nya," kata Fatika. Zen melepaskan pelukan nya. Fatika mulai berdandan rapi. Demikian juga Zen.


"Biar aku yang mengantarkan kamu, yah sayang!" ucap Zen.


"Hem, aku tidak mengijinkan kamu pergi kalau kamu tidak mengijinkan aku mengantarkan kamu!" kata Zen. Fatika menyipitkan bola matanya menatap Zen.


"Baiklah! Tapi kamu tunggu di luar saat aku menjumpai Anura. Aku tidak mau Anura tidak nyaman dengan kedatangan kamu juga. Lagi pula aku rasa Anura pasti akan bercerita banyak dengan apa yang dia alami nya kemarin. Aku kok menjadi penasaran, Sultan membiarkan Anura kembali ke rumah nya. Pasti ada sesuatu yang membuat Sultan merelakan Anura kembali ke rumah," ucap Fatika.


"Hem, benar juga kata kamu! Duh Kasihan tuan muda Dino kalau seperti ini keadaan nya. Cinta nya bertepuk sebelah tangan," kata Zen.


*****


Di rumah Anura. Kini Fatika sudah bersama dengan Anura. Keduanya duduk ruang makan, di mana hanya mereka saja di ruangan itu.

__ADS_1


"Hem, Anura! Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Fatika.


"Aku sudah berjanji dengan mas Sultan akan menerima mas Sultan menjadi suamiku, Fatika. Tidak lama lagi kami akan menikah. Makanya mas Sultan membiarkan aku kembali pulang ke rumah ini dan bertemu dengan Danan putraku," jelas Anura.


"Kamu yakin, Anura? Kalau kamu akan menerima mas Sultan menjadi suami kamu? Kalian menikah, setelah mama mertua kamu berusaha menyingkirkan dan memisahkan kamu dengan mas Sultan?" tanya Fatika. Anura mengangguk kan kepala pelan.


"Sebenarnya apakah kamu masih mencintai Sultan? Atau keputusan ini karena didasari karena kamu takut?" tanya Anura.


"Aku tidak tahu, Fatika! Cuma aku merasakan kalau mas Sultan benar-benar sangat mencintai aku. Dia selalu hangat bersikap dengan aku. Saat di villa itu selama tiga hari rasanya aku merasakan kehangatan seperti dulu. Aku melihat mas Sultan yang dulu yang selalu perhatian dan tulus menyayangi aku. Walaupun berawal dari memaksa aku. Namun ini aneh Fatika. Dari sisa rasa cinta itu berubah menjadi besar. Aku tidak pernah menyangka nya beginilah rasanya kalau dicintai seseorang. Kita bak putri raja yang selalu di sanjung nya," kata Anura.


"Bagaimana dengan tuan Dino Sudjatmiko?" tanya Fatika.


"Kak Dino?" sahut Anura.


"Iya, bagaimana tuan Dino Sudjatmiko yang sebenarnya juga mengincar dirimu, Anura!" kata Fatika.


"Oke, baiklah! Kalau begitu aku tidak akan membuat kamu dalam posisi dilema dan bingung. Sekarang aku mendukung kamu dengan semua keputusan kamu, Anura. Tapi pastikan setelah menjadi istri dari Sultan, jangan mau diatur lagi oleh mertua kamu," kata Fatika masih saja tidak suka dengan mama nya Sultan.


"Aku tidak mau pindah kemana-mana, Fatika! Kecuali kalau mas Sultan mengajak pindah di rumahnya," kata Anura.


"Hahaha sudah pasti mas Sultan mengajak. pindah ke rumah nya. Rumah ini akan mengingatkan dirimu dan mas Sultan pada suami kamu, Dewa," ucap Fatika.


"Dewa! Dulu antara Dewa dengan mas Sultan sering bertengkar untuk memperebutkan aku. Kalau ingat hal itu aku rasanya ingin tersenyum sendiri," kata Anura.


"Resiko menjadi cewek cantik, menarik dan banyak kelebihan. Sehingga pria manapun walaupun sudah mapan dan kaya lebih menyukai wanita yang bertipe mandiri dan memiliki banyak kelebihan. Tidak seperti aku," ucap Fatika.


"Kamu juga memiliki banyak kelebihan Fatika," sahut Anura.


"Kelebihan apa sih?" tanya Fatika.

__ADS_1


"Kelebihan berat badan!?" jawab Anura.


"Hehehe iya benar! Aku suka iri dengan kamu. Walaupun kamu sudah pernah melahirkan Danan. Badan kamu tetap bagus Anura," kata Fatika.


"Yah syukurlah!" sahut Anura.


"Oh iya, Anura! Saat ini aku sedang hamil lima mingguan. Sebentar lagi Zen akan menikahi aku. Bagaimana kalau kita menikah sama-sama saja," ucap Fatika.


"Benarkah! Kamu hamil? Anak Zen? Hebat juga kecebong nya Zen bisa tumbuh di rahim kamu," kata Fatika.


"Hehehe kami sudah sering melakukan nya. Jadi wajar saja kalau aku hamil kecebong nya Zen," ucap Fatika.


"Hehehe selamat yah Fatika! Kamu akan menjadi seorang ibu!" kata Anura sambil memeluk Fatika.


"Anura, sebenarnya aku tadi ke rumah kamu karena diantar oleh Zen. Zen saat ini menunggu di dalam mobil," terang Fatika.


"Hah? Kasihan sekali! Ya sudah kalau kamu mau pulang! Aku tidak akan melarang kamu kok!" kata Anura. Fatika melebar bola matanya menatap tajam ke arah Anura.


"Hem, kenapa?" tanya Anura.


"Astaga! Aku pikir kamu akan menyuruh aku supaya Zen disuruh masuk ke dalam rumah dan ngopi sebentar. Ini malah kamu mau mengusir aku. Bahkan kamu sejak tadi tidak memberikan aku minuman segar. Apalagi disuruh makan. Kamu ini benar-benar yah!" omel Fatika.


"Hahahaha ya sudah! Ajak Zen masuk! Aku akan menyuruh bibi untuk menyiapkan minuman segar dan makanannya. Kita makan bersama yuk! Maaf yah, bumil! Saking asyiknya mengobrol sampai kamu tidak dikasih minum," kata Anura.


"Dasar kamu, Anura! Kamu pura-pura lupa atau memang pelit?" omel Fatika.


"Maaf, sayang! Sudah sana bilang sama calon suami kamu, supaya masuk ke dalam. Aku ada sup iga loh! Selain itu ada oseng-oseng iga juga," kata Anura. Fatika tersenyum dan segera beranjak mendatangi Zen untuk mengajaknya masuk.


"

__ADS_1


__ADS_2