JANDA LEBIH MENGGODA

JANDA LEBIH MENGGODA
BAB 30


__ADS_3

"Sebentar lagi pernikahan Anura dengan Sultan akan segera dilangsungkan, Zen. Aku mau tidak mau harus mengakui kekalahan ini," ucap Dino Sudjatmiko kepada asisten pribadi nya itu.


"Apakah tuan muda Dino menyerah begitu saja? Tidakkah tuan berencana melarikan atau membawa kabur non Anura?" tanya Zen.


"Aku sempat berpikir seperti itu. Tapi seperti nya Anura memutuskan menikah dengan Sultan dan kembali lagi pada pria itu sudah bulat. Aku akan merasa bersedih jika Anura sudah mantap dengan pilihan nya itu. Lebih baik aku mundur dan berusaha move on dengan semuanya. Memupus harapan untuk bersama dengan Anura," kata Dino panjang lebar.


"Malam nanti acara tasyakuran dan doa bersama untuk meresmikan proses pembuatan film terbaru harapan Roy. Dalam hal ini tuan muda akan menyatakan bahwa setelah acara malam itu tim dan kru film beserta aktris-aktris yang terpilih dan yang sudah menandatangani kontrak kerja akan memulai proses syuting," kata Zen.


"Apakah nanti malam ada Anura?" tanya Dino Sudjatmiko.


"Tentu saja, tuan! Anura aktris yang memerankan tokoh protagonis wanita dalam film itu," kata Zen.


"Zen, bolehkan malam ini aku berbuat curang dengan Anura? Aku ingin menikmati kebersamaan bersama wanita yang aku kagumi selama ini, malam ini. Sebelum Anura benar-benar menjadi istri dari pria itu," ucap Dino Sudjatmiko. Zen menyipitkan bola matanya menatap ke arah Dino.


"Dulu saya sudah membantu, tuan muda. Tetapi tuan muda sudah menyia-nyiakan kesempatan itu," sahut Zen.


"Jika kesempatan itu datang sekali lagi. Aku tidak akan melepaskan Anura lagi, Zen," ucap Dino. Zen tersenyum sambil memikirkan rencana apa supaya bisa menyatukan tuan muda Dino bersama dengan Anura. Tentu ini menjadi keinginan terakhir bagi Dino sebelum Anura menjadi istri dari CEO muda dan tampan itu, yaitu Sultan.


*****


Saat acara doa bersama dan peresmian tanda proyek pembuatan film terbaru dari sutradara Roy telah berlangsung. Semua aktris, aktor, kru film, dan juga produser film itu sendiri sudah berkumpul di acara pesta kecil itu. Setelah pemotongan tumpeng oleh Dino Sudjatmiko selalu produser film tersebut, kini acara berikutnya adalah makan-makan dan acara bersenang-senang. Setelah itu besok mereka semua nya akan serius menjalankan tugas-tugas nya masing-masing untuk menggarap film tersebut.


Terlihat Zen saat ini mendekati Fatika yang masih dipakai sebagai asisten pribadi bagi Anura. Di samping itu hubungan Fatika dengan Zen sudah bukan lagi rahasia umum. Orang-orang sudah mengetahui kalau Fatika dengan Zen menjalin hubungan lebih dari teman.


"Fatika, kasih minuman ini ke bos kamu, Anura! Pastikan jangan tertukar yah. Ini untuk Anura dan ini untuk tuan muda Dino Sudjatmiko," perintah Zen kepada Fatika dengan membisikkan nya ke telinga Fatika.


"Ada apa lagi, Zen?" tanya Fatika dengan mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat tuan mudaku bahagia malam ini. Sebelum Anura benar-benar tidak bisa dimiliki oleh tuan muda Dino Sudjatmiko," ucap Zen pelan.


"Enggak mau ah. Ini namanya perbuatan licik, Zen! Anura pasti akan dirugikan lagi dalam hal ini," ucap Fatika.


"Tidak kok. Itu hanya obat tidur saja," ucap Zen.


"Benar, hanya bius saja kok. Lalu terus kalau Anura tidak sadarkan diri terus mau diapain?" tanya Fatika bodoh.


"Tidak ada apa-apa! Tuan muda hanya ingin berdua saja dengan Anura," jelas Zen.


"Ha? Tidak jelas banget sih. Ogah ah!" sahut Fatika.


"Tolong lah Fatika! Aku pastikan kalau tuan muda Dino tidak akan menyakiti Anura," kata Zen.


"Hem, baiklah kalau begitu!" sahut Fatika.


*****


"Wah, kebetulan kamu datang dan membawa minuman. Aku sangat haus sekali," Roy mengambil gelas itu dan habis diminum nya. Dari kejauhan Zen melihat itu hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.


"Hah, dasar sutradara blo'on!" umpat Zen.


"Gagal lagi rencana ku. Kalau seperti ini kasihan tuan muda Dino," gumam Zen.


*****


"Sepertinya aku harus cabut duluan nih. Mataku sudah ngantuk berat," ucap Roy.

__ADS_1


"Aku juga mau pulang duluan kak Dino! Kasihan putraku sudah aku tinggal lama," sahut Anura.


"Kok kamu buru-buru dan ikutan pulang sih! Bagaimana kalau kita berdansa terlebih dahulu," ajak Dino pada Anura.


"Hah? Bagaimana yah? Hem," sahut Anura masih berpikir.


"Baiklah! Tapi sebentar saja yah kak! Aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus pulang," kata Anura memohon.


"Iya, hanya sebentar saja. Aku hanya ingin berdansa dengan kamu sebelum kamu benar-benar dimiliki oleh Sultan," bisik Dino Sudjatmiko.


Alunan musik melow mulai diputar. Kini Dino memeluk pinggang ramping Anura. Keduanya bertemu pandang. Tatapan mata Dino Sudjatmiko sebenarnya penuh minat. Apalagi saat ini mereka benar-benar mengikis jarak. Dino semakin merapatkan badannya ke badan Anura. Aroma khas yang keluar dari tubuh Anura membuat candu bagi Dino.


"I love you, Anura!" bisik Dino Sudjatmiko. Anura melebar matanya.


"Hah??" gumam Anura.


"Aku selalu menunggu saat-saat seperti ini. Bisa berdekatan dengan kamu. Menikmati aroma tubuhmu yang wangi. Kamu sangat cantik sekali, Anura!" ucap Dino Sudjatmiko. Anura menundukkan kepalanya. Alunan gerakan kaki mereka mengikuti musik pelan. Tangan Dino masih berada di pinggang ramping Anura. Nafas hangat Dino mampu membuat jantung Anura berdebar.


"Anura! Boleh kah malam ini aku meminta kamu berkencan setelah ini. Menghabiskan malam panjang bersama," bisik Dino. Anura melebar matanya.


"Hah, untuk apa?" jawab Anura


"Hanya menghabiskan malam panjang ini saja. Aku janji tidak akan menyakiti kamu," kata Dino.


"Maaf, Dino! Aku tidak bisa!" ucap Anura pelan.


"Hem, baiklah! Dalam hal ini aku tidak akan memaksakan kehendak ku. Karena kamu memang tidak menyukai aku bukan?" kata Dino Sudjatmiko sambil melepaskan pelukan di pinggang Anura.

__ADS_1


"Eh?? Maafkan aku, kak Dino!?" gumam Anura sambil menatap jauh Dino Sudjatmiko yang menyambar kunci mobilnya lalu meninggalkan tempat itu.


__ADS_2