JANDA LEBIH MENGGODA

JANDA LEBIH MENGGODA
BAB 13


__ADS_3

Pak Dino Sudajmico bersama asisten pribadinya, Zen masih di dalam mobil mewahnya. Zen segera mempercepat laju mobilnya lantaran bos nya sudah cemberut dan uring-uringan karena sempat terjebak macet di jalan raya tadi. Namun sekarang Zen bisa bernafas dengan lega lantaran jalanan sudah lenggang sehingga Zen bisa mempercepat kemudinya supaya bisa lekas sampai di kafe Xxx yang hendak di tuju. Sesekali Zen melirik ke sebelah dan melihat bibir pak Dino Sudajmico yang masih terlihat kesal.


"Tenang tuan muda! Sebentar lagi kita akan tiba di kafe. Saya rasa nona Anura, aktris yang Anda undang makan malam ini belum tiba di sana. Saya berani taruhan dengan tuan muda jika wanita cantik itu lebih tiba duluan daripada kita," ucap Zen berusaha membuat tenang Dino Sudajmico. Dino Sudajmico mengerutkan dahinya.


"Baiklah, aku Terima tantangan kamu, Zen! Aku berani bertaruh jika wanita cantik itu sudah tiba di kafe itu lebih dulu daripada kita. Jika benar aku yang menang, aku ingin kamu mengajak asisten pribadi Anura menjauh dari aku dan Anura. Selain itu, usahakan kamu membawa pergi asisten Anura itu dengan mobil yang dibawa Anura. Jadi, aku bisa kembali bersama dengan Anura di mobil aku nanti," kata Dino panjang lebar.


"Tuan muda! Apakah ini rencana tuan muda untuk bisa menikmati malam panjang bersama dengan wanita itu?" sahut Zen.


"Benar! Aku begitu sangat mendamba sejak dari dulu. Aku ingin memiliki wanita itu dengan cara apapun. Aku ingin mengingat nya, Zen. Tapi aku juga tidak ingin membuat dia membenci aku," terang Dino yang terlihat benar-benar mengagumi Anura dan bahkan menggilai Anura dari dulu.


"Kalau begitu serahkan saja semuanya pada saya," sahut Zen dengan mengedipkan bola matanya. Dino Sudajmico mengerutkan dahinya.


"Apa yang kamu rencanakan? Jangan bertindak yang aneh-aneh dan licik. Aku tidak suka, Zen!" sahut Dino Sudajmico.


"Bukankah tadi, tuan muda ingin memiliki Anura dengan cara apapun? Pokoknya serahkan semuanya kepada saya dan saya pastikan wanita itu tidak akan lepas dari genggaman tuan muda," janji Zen.


"Terserah kamu, Zen! Yang terpenting jangan sampai kamu menyakiti Anura," ucap Dino memberikan peringatan.


Setengah jam berlalu, mobil itu masuk ke pelataran kafe yang sudah dijanjikan. Dengan cepat Dino Sudajmico dan juga Zen melangkah masuk ke kafe itu. Mereka tentu saja menuju meja yang sudah mereka boking.


Dari kejauhan meja itu sudah ada dua wanita yang terbilang cantik dan menawan. Mata Dino Sudajmico menatap jauh dia wanita itu.


"Apa aku bilang, Zen? Anura sudah tiba lebih dahulu daripada kita. Kamu harus memenuhi semua kesepakatan kita," ucap Dino mengingat kan.

__ADS_1


"Tidak masalah, tuan muda! Lagi pula asisten pribadi non Anura juga tidak kalah cantik dari non Anura. Tapi saya akan membawa asisten pribadi non Anura setelah kita makan bersama-sama kan tuan?" ucap Zen.


"Tidak! Kamu ambil meja jauh dari kami. Aku tidak mau kamu dan asisten pribadi Anura mengganggu acara makan malam ku dengan Anura. Ini acara makan malam yang sudah lama aku tunggu setelah wanita ini kehilangan suaminya karena kecelakaan maut yang menimpanya," ucap Dino Sudajmico.


"Baiklah! Semoga tuan muda akan mendapatkan kebahagiaan bersama non Anura setelah ini," sahut Zen dengan tersenyum lebar. Zen sudah menyiapkan obat perangsang yang nanti akan ia masuk kan ke minuman Anura tanpa sepengetahuan Dino dan juga Anura serta asisten pribadi nya. Hanya Zen yang mengetahui nya.


*****


Dino Sudjatmiko dan Zen sudah berdiri di meja yang sudah ada dua wanita cantik dan dewasa menunggu kedatangannya. Senyum mengembang tercipta di kedua sudut Dino Sudjatmiko dengan ramah. Sebelum Dino Sudjatmiko dan Zen duduk bergabung di saung rumah makan itu, kedua nya saling berjabat tangan.


"Hai, Anura yah! Saya Dino Sudjatmiko dan ini Zen, asisten pribadi ku," ucap Dino Sudjatmiko seraya mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. Anura menyambut uluran tangan laki-laki muda dan tampan itu dengan tangan terbuka.


"Benar, saya Anura tuan Dino! Dan ini sahabat sekaligus menjadi asisten pribadi saya, Fatika," sahut Anura ramah. Anura, Fatika, Dino Sudjatmiko beserta Zen akhirnya sama-sama duduk di saung tersebut dengan meja di dalamnya. Mereka duduk dengan beralaskan bantal duduk yang sudah disiapkan di dalam saung tersebut.


"Rasanya sangat tidak sopan bukan, jika kami lebih dahulu memesan makanan dan minuman sedangkan yang mengundang acara makan malam bersama belum tiba," sahut Fatika seraya mulai menulis makanan dan minuman yang hendak dia pesan untuk dirinya dan juga Anura. Tentu saja Fatika sangat paham betul selera Anura.


"Ya sudah, silahkan pesan makanan dan minuman sesuai dengan selera kalian. Zen, aku pesan makanan dan minuman seperti biasanya," ucap Dino Sudjatmiko.


"Siap tuan muda!" sahut Zen lalu mulai menulis ke buku kecil untuk mencatat makanan dan minuman yang hendak diinginkan oleh dirinya dan juga tuan muda nya.


Zen dan juga Fatika menyerahkan catatan menu makanan dan minuman itu kepada pelayan di kafe itu yang sudah sejak tadi berdiri di luar saung tempat mereka duduk.


"Ada tambahan lagi, pak? Bu?" tanya pelayan kafe itu yang terbilang masih muda. Dino mengernyitkan dahinya lalu menjawab pertanyaan dari pramusaji kafe tersebut.

__ADS_1


"Hem, boleh di catat nona, cah kangkung, ayam bakar khas solo lengkap dengan sambal terasi dan lalapannya, empat porsi nasi, ikan gurami asam manis pedas, ditambah minuman nya teh manis dingin," kata Dino. Fatika menyimak pesanan tuan muda Dino Sudjatmiko dengan tersenyum lebar.


"Baik Pak! Mohon sabar menunggu, kami secepatnya akan mengantarkan pesanan bapak dan ibu semuanya,"sahut pramusaji tersebut dengan ramah.


" Oke, eh tunggu dulu mbak!" potong Zen.


"Iya, pak! Ada lagi tambahannya?" tanya pramusaji tersebut.


"Tolong jangan pakai lama yah!" kata Zen. Hal itu membuat Fatika menarik nafasnya dengan kasar.


"Aku pikir, mau apa lagi? Eh kirain hanya mau pesan jangan pakai lama, huh," omel Fatika. Anura menoel lengan Fatika supaya bisa menjaga sikapnya.


"Baik Pak, bu! Kafe ini akan melayani dengan cepat dan kilat namun makanan dan minuman yang disajikan akan memuaskan anda semuanya," terang pramusaji tersebut.


"Oke, baiklah!?" sahut Zen. Fatika kembali mendengus kesal lantaran sikap Zen yang terlihat sok menjadi bos saja.


Dino Sudjatmiko mencuri pandang ke arah Anura yang sejak tadi melihat Fatika dan Zen secara bergantian. Diam-diam Dino sangat mengagumi kecantikan Anura malam ini apalagi Anura mau mengenakan gaun pemberian nya yang dia kirim tadi siang untuk nya.


"Terimakasih banyak, Anura! Kamu mau memenuhi Undangan makan malam bersama saya di tempat ini. Walaupun kafe ini sederhana, namun kafe ini makanan dan minuman nya tidak kalah lezat kok. Ditambah tempat dan suasana nya sangat romantis dengan kesan kekeluargaan," kata Dino basa-basi.


"Justru saya yang seharusnya berterima kasih dengan pak Dino Sudjatmiko. Kami orang rendahan seperti ini mendapatkan undangan dari Pak Dino yang dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses," Anura tidak kalah pintarnya jika diajak berbasa-basi.


"Haduh kenapa begitu formal sekali sih, tuan? Santai saja tuan muda! Ini tidak seperti di dalam kantor. Apalagi nona Anura adalah seorang model dan aktris. Dia lebih suka santai daripada terlalu formal," protes Zen.

__ADS_1


Dino Sudjatmiko dan Anura saling melemparkan senyuman dan akhirnya terkekeh.


__ADS_2