
Di apartemen Zen. Di mana Fatika sudah pindah di apartment itu karena Zen sudah menikahi Fatika secara sederhana. Kehamilan Fatika masih terbilang masih sangat lah muda. Beberapa kali mereka berkencan dan melakukan hubungan intim, membuahkan hasil Fatika hamil dan mengandung anak Zen. Akhirnya Zen memboyong Fatika ke tempat tinggal nya setelah dia nikahi secara resmi. Walaupun hanya dengan mengadakan pesta kecil di kampung halaman Fatika.
Fatika pun setelah tidak menjadi asisten pribadi Anura, hanya fokus menjadi istri Zen saja. Menikmati menjadi istri Zen dan menikmati kehamilan nya untuk yang pertama kalinya.
Selama hamil, Fatika suka sekali memasak. Dan Zen lah yang harus menghabiskan hasil masakan dari istrinya. Walaupun terkadang keasinan maupun kepedesan, Zen berusaha memuji hasil masakan istrinya tersebut. Kalau tidak, dirinya bisa tidur di luar kamar karena sepanjang hari Fatika merajuk tidak jelas. Ibu hamil satu ini benar-benar sangat merepotkan bagi Zen. Terkadang Zen jadi tidak bisa pergi kemana-mana karena ditahan atau tidak boleh jauh dari Fatika. Hal ini membuat Dino Sudjatmiko jadi mencari orang kepercayaan nya lagi selain Zen. Karena Zen sangat lambat jika mendapatkan panggilan dari Dino Sudjatmiko.
"Tarra! Lihat hasil makanan yang aku masak!"teriak Fatika yang datang dari ruangan dapur sambil membawa piring yang di dalam nya ada makanan hasil masakannya. Zen segera memberikan tempat duduk yang luas di sebelah nya.
" Suamiku tersayang! Ayo dicoba hasil masakan ku ini," ucap Fatika dengan gaya manja nya.
"Hem, sepertinya lezat! Ini apa namanya?" kata Zen.
"Ini mie goreng spesial rasa cinta pada suami, hehehe. Ayo di cicipi mas Zen!" desak Fatika seraya menyodorkan piring itu lebih dekat pada Zen.
Zen mulai mengambil satu sendok mie goreng yang kata Fatika spesial rasa cinta pada suami. Namun saat Zen mulai mau mengunyah mie yang sudah masuk ke dalam mulut nya itu, Zen segera berlari ke arah di mana ada wastafel berada. Zen mengeluarkan makanan mie hasil masakan istrinya, Fatika. Fatika langsung cemberut melihat reaksi Zen yang memuntahkan kembali mie goreng yang sudah masuk ke mulut nya.
"Kok dimuntahkan sih? Kenapa? Tidak enak yah, mas?" tanya Fatika dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Zen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menjadi serba salah harus bersikap apa pada istrinya. Sedangkan rasa mie goreng itu asin, pedas dan bagi Zen akan bikin sakit perut nya
__ADS_1
"Eh, em enak kok sayang! Tadi itu aku tidak sengaja memakan cabe rawit nya yang masih utuh. Jadi kepedesan mulut ku, sayang!" Zen beralasan. Zen tidak mau membuat istrinya menangis gara-gara memuntahkan mie goreng hasil buatan Fatika.
"Beneran enak? Ya sudah ayo dimakan lagi! Dan habis kan!" pinta Fatika.
Zen menyipitkan bola matanya. Zen ragu-ragu untuk kembalikan memakan mie goreng itu. Namun Fatika menatap dirinya dengan tajam. Mau tidak mau Zen menelan mie goreng itu nyaris tanpa dikunyah nya. Fatika yang melihat suaminya makan mie goreng dengan lahapnya itu menjadi tersenyum lebar.
"Ini sudah habis, sayang! Mie goreng nya sangat enak. Masakan kamu benar-benar luar biasa, sayang!" kata Zen memuji.
"Benarkah? Kalau begitu aku ambilkan lagi untuk kamu yah!" sahut Fatika yang hendak bangkit berdiri untuk mengambil kan mie goreng untuk suaminya.
"Eh, eh sudah cukup sayang! Nanti kalau aku mau aku bisa mengambilnya sendiri. Kamu jangan capek-capek dong sayang! Duduk lah di sini di dekat aku. Aku hanya ingin duduk ngobrol dan bermanja-manja dengan kamu, sayang!" kata Zen sambil meminum air putih untuk menghilangkan rasa asin dan pedas di mulut nya.
Kembali ke pasangan pengantin yang sekarang ini sedang berbulan madu.
"Bagaimana kabar, Fatika sekarang yah?" gumam Anura yang saat ini sedang bermanja-manja dengan suaminya, Sultan.
"Menurut informasi dari orang kepercayaan ku, katanya asisten pribadi kamu itu sudah menikah dengan asisten pribadi nya Dino Sudjatmiko. Bahkan saat ini Fatika sudah hamil, anak dari Zen," jelas Sultan. Anura menyipitkan bola matanya mendengar kabar itu.
__ADS_1
"Ya ampun, mas Sultan! Kamu kok bisa tahu secara detail kabar dari Fatika sih?" sahut Anura.
"Tentu saja sayang! Bukannya kamu ingin tahu kabar terbaru dari Fatika, mantan asisten kamu itu? Jadi aku segera menyuruh orang-orang ku untuk mencari informasi mengenai Fatika. Yang pasti Fatika, asisten pribadi kamu itu sudah hidup bahagia dengan suami nya, sayang! Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi. Oke?" jelas Sultan.
"Syukur lah kalau seperti itu!" sahut Anura.
"Sekarang giliran kita yang harus kerja keras supaya kamu bisa hamil dan memberikan aku seorang putra. Bagaimana kalau sekarang kita mulai?" ucap Sultan yang saat ini memeluk Anura dengan penuh kasih sayang.
"Masih sore, mas! Bagaimana kalau kita keluar saja, mencari oleh-oleh untuk papa dan mama. Latina juga Danan perlu kita belikan mainan juga. Rasanya sudah kangen sekali dengan mereka berdua. Padahal baru juga satu hari ini kita meninggalkan mereka di sini," kata Anura.
"Beli oleh-oleh nya besok saja sayang! Lebih baik kita coba permainan baru yuk!" ajak Sultan dengan senyum seringai nya.
"Ih, mas Sultan!" sahut Anura.
Sultan tidak membiarkan Anura istirahat barang sebentar pun di dalam kamar itu sebelum apa yang diinginkan oleh Sultan di penuhi oleh Anura. Sultan kini mulai bereaksi mendominasi hingga Anura pasrah dalam kungkungan nya.
"Mas Sultan!" gumam Anura saat satu persatu pakaian miliknya di tanggal kan oleh Sultan.
__ADS_1
Sultan pun demikian. Kini kedua nya mengikis jarak di balik selimut hotel mewah di kamar itu. Suara indah saling beradu dalam irama gerakan yang membuat peluh. Kedua nya saling memberi dan menerima serta saling mengisi. Dalam tujuan indah dan harapan dalam benak keduanya adalah segera membuahkan keturunan dari buah cinta mereka. Betapa Sultan sangat merindukan akan bayi mungil dari benih nya yang berhasil berkembang di dalam rahim Anura. Semoga saja, doa dan harapan itu terwujud.