
"Mas Sultan! Apakah semua ini benar? Apakah kamu orang dibalik kecelakaan mas Dewa?" tanya Anura saat Sultan baru saja pulang dari tempat kerjaannya.
Sultan tentu saja tidak menyangka jika Dino Sudjatmiko sudah bergerak cepat mengirimkan barang-barang bukti yang mengarahkan pada Sultan lah yang membuat kecelakaan Dewa itu terjadi. Rekaman suara yang sangat jelas, di mana Sultan sedang melakukan percakapan dengan seseorang untuk memerintahkan orang tersebut untuk merusak rem mobil pribadi yang digunakan Dewa sehingga menyebabkan rem blong. Tidak hanya itu, bukti rekening koran di mana ada dana transfer masuk ke orang yang disuruh oleh Sultan. Anura benar-benar tidak percaya dan menduga jika kecelakaan itu karena adanya bentuk sabotase dari seseorang yang pernah dirinya kenal sangat dekat. Yaitu mantan suaminya.
Sultan diam membisu. Dia tidak bisa membuat alasan. Namun sesaat Sultan terlihat menarik nafasnya dan membuangnya pelan.
"Anura sayang! Seharusnya kamu paham situasinya sekarang ini. Selama ini bukan hanya aku saja yang menyukai kamu dan bahkan ada seseorang sangat terobsesi dengan kamu. Siapa dia? Dia adalah Dino Sudjatmiko. Aku tidak perlu menyudutkan dia. Seharusnya kamu lebih cerdas dalam hal ini. Kamu harus percaya, siapa disini yang akan berusaha merusak dan menghancurkan hubungan kita," ucap Sultan panjang lebar Anura diam lalu menundukkan kepala nya.
"Tapi mas! Aku butuh pengakuan dari kamu! Katakan kalau semua ini adalah bohong!" sahut Anura.
__ADS_1
"Tentu saja semua itu rekayasa dan fitnah yang besar. Supaya antara aku dan kamu kembali terpisahkan. Sayang, kita baru saja menikah kembali. Kita baru saja menikmati indahnya menjadi suami istri. Kamu harus tahu kalau aku tidak mungkin menyakiti kamu, Anura sayang! Aku sangat bahagia saat kamu merasakan kebahagiaan itu bersama dengan Dewa," terang Sultan.
Sultan merengkuh tubuh Anura yang langsing. Dia mengecup puncak kepala Anura dengan lembut. Tiba-tiba saja, Anura merasakan mual. Dia segera berlari menuju ke wastafel di kamar mandi. Saat Anura merasakan mual dan terlihat muntah-muntah seperti itu, ada senyuman kebahagiaan pada Sultan.
"Apakah Anura hamil? Akankan Anura mengandung anakku? Semoga saja! Yes, aku berhasil membuat Anura hamil dan mengandung benih ku. Semoga saja!" batin Sultan.
"Mas, rasa nya mual dan gak enak banget!" ucap Anura. Kini wajahnya sudah terlihat pucat.
"Iya, sayang! Lebih baik kita segera periksa ke dokter saja yah, sayang! Semoga kita akan mendapatkan kabar gembira setelah memeriksakan kondisi kamu," ucap Sultan. Anura mengerutkan dahinya menatap suaminya.
__ADS_1
"Hem, maksudnya?" sahut Anura.
"Bukankah selama ini aku selalu bekerja keras menabur benih-benih ku di rahim kamu sayang? Semoga ada yang kuat dan berhasil berbuah dan berkembang di dalam sana. Aku ingin memiliki banyak anak dari kamu, sayang!" ucap Sultan seraya kembali memeluk istrinya dengan penuh kelembutan.
"Aku menyayangimu, Anura sayang! Jangan lagi kamu meninggalkan aku. Karena aku tidak akan sanggup bila berpisah lagi dengan kamu," kata Sultan. Berkali-kali Sultan menciumi wajah istrinya itu tanpa ada rasa bosan.
"Aku hamil? Benarkah? Tapi benar juga, aku sudah telat datang bulan hampir lima minggu ini, mas!" ucap Anura lirih. Sultan berkaca-kaca matanya. Walaupun itu belum pasti kebenaran, tapi Sultan sudah memiliki harapan besar untuk memiliki anak dari benih nya dan melalui rahim Anura.
"Sayang! Ayo kita ke dokter sekarang juga! Aku ingin memastikan semua kebenaran ini. Semoga kamu benar-benar hamil dan itu adalah anak kita. Darah daging kita, sayang!" ucap Sultan dengan rasa haru nya.
__ADS_1