
Dino Sudjatmiko, Zen dan juga Fatika kini dalam satu mobil yang sama menuju puncak villa. Tujuan mereka adalah mencari Anura yang diduga di bawa kabur dan disembunyikan oleh Sultan. Zen mengendarai mobil itu dengan kecepatan yang tinggi. Tentu saja Fatika dibuat mual dan pusing. Setibanya di bangunan villa, Zen menghentikan mobilnya. Fatika segera keluar dari dalam mobil itu dan memuntahkan semua isi makanan yang tadi dia makan.
"Astaga! Kamu ini benar-benar menyusahkan sekali!" ucap Zen sambil turun dari mobil itu. Namun sebelum nya Zen menyambar minyak kayu putih untuk diberikannya pada Fatika.
Zen mengoleskan minyak kayu putih itu ke bagian tengkuk Fatika. Dari dalam Dino memperhatikan pasangan itu dengan tersenyum.
"Zen, Jangan-jangan Fatika hamil anak kamu!" teriak Dino dari dalam mobil. Kini Fatika dengan Zen saling pandang.
"Eh??" Fatika terkejut. Benar, bulan ini dia belum mendapatkan menstruasi nya. Setelah kencan bersama dengan Zen, dirinya belum mendapatkan datang bulan.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu, Zen?" tanya Fatika.
"Kamu hamil?" tanya Zen memastikan.
"Itu tidak mungkin! Aku tidak mungkin hamil, Zen," sahut Fatika.
"Tapi setelah kita berkencan di malam itu, kamu sudah mendapat palang merah belum, Fatika?" tanya Zen memastikan.
__ADS_1
"Belum!" jawab Fatika singkat.
"Jadi? Jadi, kamu benar hamil anakku?" tanya Zen panik.
"Sepertinya aku sudah telat satu minggu. Jadi terhitung lima minggu ini aku belum menstruasi, Zen!" kata Fatika.
"Aduh!!" sahut Zen sambil menarik rambutnya sendiri.
"Zen! Ayo kita lanjutkan perjalanan! Di mana villa milik tuan Sultan itu!" teriak Dino sudah tidak sabaran lagi. Fatika melihat bangunan villa di depan nya.
"Hah? Baiklah! Ayo kita selamatkan Anura terlebih dahulu. Setelah ini aku akan membicarakan dan memastikan kalau kamu tidak benar-benar hamil. Aku belum ingin menikah, Fatika," ucap Zen.
"Tuan muda! Villa inilah milik tuan Sultan," kata Zen seraya mendekati Dino yang masih berada di dalam mobil.
"Hem, baiklah! Aku akan masuk ke villa itu. Aku akan menyelamatkan Anura," sahut Dino.
Diam-diam Dino menyiapkan senjata api. Zen tentu saja sangat tahu kalau bos nya itu memiliki senjata api.
__ADS_1
"Bagaimana dengan aku? Apakah aku ikut ke dalam?" tanya Fatika.
"Kau tunggu di sini saja, Fatika! Biarkan aku bersama tuan Dino Sudjatmiko yang akan masuk ke dalam villa itu. Sepertinya tidak ada yang menjaga villa itu. Sultan menganggap tempat ini adalah tempat aman untuk menyepi dan bersembunyi. Jadi dia tidak memerlukan bodyguard untuk menjaga keamanan nya," kata Zen.
"Baiklah! Aku akan di sini. Di dalam mobil ini," sahut Fatika.
"Kamu sudah tidak pusing?" tanya Zen sambil mengusap dahi Fatika.
"Sedikit! Sedikit banget kok!" sahut Fatika.
"Oke, aku masuk dulu! Bos sudah masuk ke dalam bangunan itu," kata Zen seraya mengecup lembut bibir Fatika.
"Eh??" Fatika kaget.
"Kenapa? Apakah kurang lama? Nanti setelah urusan ini selesai, kita baru berciuman lama," sahut Zen. Fatika memukul lengan Zen. Zen cekikikan dengan reaksi malu-malu yang ditunjukkan oleh Fatika.
"Semoga Anura baik-baik saja dan bisa dibawa pulang. Aku tidak menyangka jika Sultan sangat nekat melarikan Anura ketempat ini. Bagaimana kalau Anura telah.... aduh.. aku tidak akan memaafkan Sultan jika dia sudah menyakiti Anura," gumam Fatika yang kini sudah berada di dalam mobil itu.
__ADS_1