
Sementara itu Dino Sudjatmiko saat ini sangat kebingungan karena mencari keberadaan Anura tidak juga dia temukan. Setelah acara makan siang itu, Tiba-tiba saja Anura menghilang dan tidak kembali lagi setelah dari toilet. Dino Sudjatmiko bersama dengan Zen mencari keberadaan Anura melalui CCTV yang terpasang di restoran saat itu. Fatika sebagai asisten pribadi Anura langsung bisa menduga kalau Anura saat ini telah dilarikan oleh Sultan, mantan suaminya yang masih terobsesi ingin kembali bersama dengan Anura.
"Benar dugaan ku, kalau Anura saat ini sedang bersama dengan Sultan. Namun kenapa sampai dua hari ini tidak pulang-pulang ke rumah. Sedangkan di rumah Anura masih memiliki Danan yang masih balita," kata Fatika. Zen dan Dino Sudjatmiko saling berpandangan lalu sama-sama menatap Fatika.
"Kamu mengenal laki-laki itu?" tanya Zen.
"Tentu saja aku dan juga Anura sangat mengenalnya. Dia adalah mantan suami dari Anura. Sultan dari dulu ingin kembali dan meminta rujuk dengan Anura. Namun Anura tidak menerima nya," jelas Fatika.
"Menurut kamu, di mana laki-laki itu membawa Anura pergi?" tanya Dino Sudjatmiko.
"Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi Sultan memiliki hotel and resort. Selain itu juga memiliki beberapa villa di berbagai tempat. Aku tidak tahu jelas di mana Sultan menyembunyikan Anura saat ini," terang Fatika.
"Zen, segera sebar anak buah kita untuk mendatangi tempat-tempat singgah laki-laki itu saat berlibur. Aku yakin laki-laki itu akan memilih tempat yang jauh dari keramaian dan kecil memungkinkan Anura untuk bisa melarikan diri. Itu jika laki-laki itu benar-benar membawa Anura dalam paksaan. Tapi jika Anura dengan senang hati memang sengaja sedang bersenang-senang dengan laki-laki itu ini masalah lain," kata Dino Sudjatmiko.
"Itu tidak mungkin tuan! Jika Anura saat ini sedang bersenang-senang dengan Sultan, Anura tidak mungkin meninggalkan Danan sampai beberapa hari seperti ini," sahut Fatika.
"Benar! Anura adalah ibu yang baik dan pasti tidak bisa meninggalkan putra nya yang masih bayi itu terlalu lama. Bahkan Anura masih memberikan air susu ibu secara eksklusif, bukan?" kata Dino Sudjatmiko.
"Benar, tuan Dino Sudjatmiko! Walaupun Anura selalu menyimpan air susu ibu nya di dalam freezer untuk Danan," sahut Fatika.
"Fatika, kamu tunjukkan salah satu villa milik tuan Sultan di daerah puncak. Aku menemukan titik keberadaan Anura saat ini berada. Handphone nya sudah aktif. Beruntung Anura membawa handphone nya. Jadi aku bisa melacak nya," ucap Zen bersemangat.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu aku akan menghubungi Anura sekarang!" sahut Dino Sudjatmiko. Zen menatap bos itu terlihat senang mendapatkan petunjuk dari keberadaan Anura.
"Anura! Kamu di mana?" tanya Dino yang saat ini sedang melakukan panggilan suara dengan Anura. Anura seperti terengah-engah sambil menjawab panggilan masuk dari Dino.
"Aku di puncak villa Dino! Fatika tahu lokasi nya. Saat ini aku sedang melarikan diri, Dino!" ucap Anura dengan terengah-engah.
"Hah? Cepat kamu bersembunyi di tempat aman dulu, Anura! Aku adan Zen akan segera menjemput kamu," kata Dino penuh kekhawatiran.
"Eh? Anura? Anura?" ucap Dino. Panggilan suara itu terputus. Dino dan Zen saling berpandangan.
"Aku tahu di mana Sultan saat ini membawa Anura," kata Fatika.
"Tuan muda benar!" sahut Zen. Mereka segera bergegas ke puncak villa itu di mana Anura dan Sultan saat ini berada.
*****
"Kamu mau lari? Itu tidak mungkin aku membiarkan kamu pergi, sayang! Kita akan berusaha terus menerus dan terus melakukan nya sebelum kamu dinyatakan hamil dan mengandung anakku," ucap Sultan seraya memeluk Anura dari belakang. Sultan mulai mencium bagian leher dan bahu Anura yang terbuka. Saat ini mereka berada di luar villa.
"Mas Sultan!" gumam Anura.
"Bagaimana kalau kita melakukan nya di sini sayang? Sepertinya ini akan membuat kamu terbakar gairah. Karena udara di sini sangat dingin. Kamu jangan khawatir, tidak ada orang yang berani mengintip kita saat melakukan semua ini, hem??" kata Sultan sambil tangannya mulai bergerilya ke bagian-bagian lain.
__ADS_1
"Jangan mas! Aku malu!" ucap Anura.
"Oh how?? Apakah jika di dalam kamu tidak akan malu? Kalau begitu ayo kita ke dalam. Tapi janji yah sayang, kalau kamu akan mendominasi permainan bersama dengan aku," kata Sultan sambil membalikkan badan Anura hingga keduanya saling berhadap-hadapan. Sultan merangkum kedua pipi Anura lalu serta merta membungkam bibir seksi Anura. Kembali Anura tidak bisa menolak akan perlakuan Sultan yang penuh paksaan. Bahkan saat ini Anura telah dipengaruhi obat yang mengandung afrodisiak. Senyum Seringai terlihat dari bibir Sultan. Kali ini dia dalam kemenangan karena Anura telah dikuasai oleh obat perangsang dari minuman yang tadi Sultan berikan pada Anura saat makan malam bersama.
"Mas Sultan!!" gumam Anura sambil mencengkram dan mencakar pundak Sultan.
"Iya sayang! Aku disini untuk kamu, sayang!" ucap Sultan mengikuti segala alur dan pergerakan Anura yang hendak menguasai dirinya.
"Aku tahu dalam hati kecil kamu yang terdalam masih mencintai aku, Anura! Tapi kamu terlalu sombong dan angkuh untuk mengakui nya. Nyatanya di saat seperti ini kamu benar-benar pasrah dan dikuasai oleh hasrat kamu. Dan kamu seperti sangat rela ketika dipeluk dengan aku," pikir Sultan.
"Katakan kalau kamu masih menyayangi aku, sayang!" kata Sultan.
"Hem?" gumam Anura.
"Katakan kalau kamu sangat menyukai aku?" ucap Sultan.
"Huum, aku masih menyayangi kamu, mas Sultan," kata Anura. Sultan tersenyum lalu memejamkan matanya menikmati segala sentuhan lembut mantan istrinya itu.
Betapa ini tidak bisa dihindari lagi. Anura dikuasai oleh hasrat nya yang tidak bisa dibendung lagi. Anura benar-benar mendominasi kegiatan itu di mana mereka berada di alam terbuka. Dengan lampu dan pencahayaan yang minim, kedua nya bergelut dan mengikis jarak dan saling menghangatkan.
"Anura, sayang! Aku mencintaimu sayang! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu," ucap Sultan sembari menikmati malam indah itu bersama wanita yang dia cintai selama ini.
__ADS_1