JANDA LEBIH MENGGODA

JANDA LEBIH MENGGODA
BAB 18


__ADS_3

"Sekarang ceritakan pada ku!" ucap Anura saat sudah duduk di dalam mobil dan Fatika sudah menjalankan mobilnya menuju kantor Dino Sudjatmiko.Fatika masih fokus menyetir membelah jalanan.


"Saat makan malam itu, kak Zen mengajakku pergi meninggalkan kalian berdua dengan alasan ingin berbicara dengan ku soal kerja sama kontrak antara kamu sebagai aktris dengan pihak yang terkait di rumah produksi. Namun pembicaraan dengan ku seperti nya tidak serius amat. Aku pikir itu adalah salah satu strategi supaya memberikan kesempatan pada kamu dengan tuan Dino Sudjatmiko supaya bisa berdua dan saling akrab," cerita Fatika.


"Lalu?" sahut Anura.


"Lalu? Saya dan Zen pikir, non Anura dengan tuan Dino Sudjatmiko telah menikmati malam panjang bersama," ucap Fatika. Anura membulat matanya menatap tajam ke arah Fatika.


"Aku ingin tahu, Fatika. Apakah kamu yang melakukan nya padaku?" tuduh Anura.


"Maksudnya apa, melakukan apa Anura?" sahut Fatika.


"Aku hampir saja gila merasakan sesuatu buruk di tubuhku. Rasanya aku ingin berontak melakukan hal-hal diluar akal sehatku. Aku berusaha mengendalikan diriku walaupun sebenarnya sangat sulit. Beruntung kak Dino tidak mau memanfaatkan situasi buruk yang terjadi padaku. Kalau tidak? Aku dan kak Dino pasti akan melakukan itu tanpa kontrol. Dan seperti pikiran kalian, aku dengan kak Dino akan menghabiskan malam panjang bersama," cerita Anura.


"Jadi, kamu yang memberikan obat yang mengandung afrodisiak itu kedalam minuman ku?" tuduh Anura kepada Fatika.


"Eh, tidak! Aku tidak melakukan nya?" sahut Fatika panik.


"Lalu siapa yang melakukan nya?" tanya Anura.


"Apa mungkin saja, Zen yang merencanakan hal itu?" jawab Fatika.


"Tuan Zen? Aku rasa dia yang melakukan nya. Apakah semua itu karena perintah kak Dino? Tapi kak Dino tidak menyentuh ku? Jadi?" kata Anura mencoba menerka nerka.


"Setelah kejadian ini, aku rasa Zen akan kena marah oleh tuan Dino Sudjatmiko. Seratus persen dugaan ku mengarah kepada Zen. Siapa lagi kalau bukan dia?" ucap Fatika.

__ADS_1


"Setelah ini kita akan bertemu dengan mereka! Aku rasa, kak Dino bisa menjelaskan ini karena Zen aku hampir saja merendahkan diriku sendiri," sahut Anura.


Fatika masih fokus mengemudi mobil itu dengan membelah jalanan yang mulai lenggang. Sedangkan Anura saat ini sedang menghubungi Dino sudjatmiko bahwasanya dirinya sudah menuju ke kantor nya.


"Sekarang ceritakan padaku, apa yang kamu lakukan dengan tuan Zen sehingga malam itu kamu tidak pulang ke rumah. Dan baru tadi kamu tiba dan menjemput ku," tanya Anura.


"Anura! Soal itu yah? Aku.. aku.. aku semalam bersama dengan tuan Zen check-in di hotel," jawab Fatika. Anura melebar matanya dengan sempurna. Fatika menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Anura! Tanpa aku jelaskan apa yang sudah aku lakukan di kamar hotel itu, kamu. pasti akan tahu bukan?" tambah Fatika.


"Haduh, kalian benar-benar gila!" ucap Anura seraya menoyor kepala Fatika. Fatika hanya meringis saja.


"Orang enak kok dilarang sih?" sahut Fatika. Anura menjulurkan lidahnya ke arah Fatika.


*****


"Bagaimana tuan muda? Apakah anda sudah merasa puas bisa menikmati malam panjang bersama dengan wanita idaman anda? Pasti saat ini kedua kaki tuan muda merasa lemas karena sudah menggempur habis-habisan non Anura yang sangat menggoda dan agresif bukan?" ucap Zen saat bertemu dengan bos nya di ruang kerja nya siang itu. Sorot matanya tajam menatap Zen seperti ada amarah dan kesal.


"Aku tahu kamu lah dalang semua ini. Kamu sudah memberikan obat itu ke dalam minuman Anura bukan?" tuduh Dino.


"Bukankah tuan muda sudah lama menginginkan nona Anura sejak dari dulu. Bahkan tuan muda pernah mengatakan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan non Anura? Jadi saya berpikir dengan cara itulah yang efektif supaya non Anura bisa Anda miliki secara seutuhnya," bela Zen.


"Tapi bukan dengan cara itu, Zen! Aku tidak tega dan tidak bisa melakukannya. Di saat Anura tidak berdaya seperti itu," kata Dino.


"Katanya anda bilang, dengan cara apapun supaya bisa mendapatkan non Anura? Tapi kenapa sekarang anda berubah pikiran?" sahut Zen.

__ADS_1


"Sudahlah, nyatanya aku tidak melakukan nya dengan Anura," ucap Dino.


"Hah, apa? Jadi tuan muda tidak menikmatinya malam panjang bersama dengan non Anura? Wah benar-benar sanggup rugi. Padahal saya sudah merencanakan semuanya supaya lancar. Tapi tuan muda sendiri yang menggagalkan nya," kata Zen. Dino Sudjatmiko menoyor kepala Zen.


"Sekarang cerita padaku! Apa yang kamu lakukan dengan asisten pribadi Anura? Bahkan Fatika, asisten pribadi Anura itu tidak juga tidak pulang malam itu," tanya Dino Sudjatmiko.


"Kami check-in di hotel," jawab Zen singkat padat dan jelas.


"Benar-benar gila kalian!" umpat Dino akhirnya.


"Kami laki-laki dewasa dan wanita dewasa yang butuh itu semua nya, bos!" jawab Zen membela diri.


"Apakah kamu yang menggoda Fatika? Kenapa begitu mudahnya kamu mengajak berkencan dengan Fatika? Sedangkan kalian belum ada status hubungan berpacaran," ucap Dino Sudjatmiko.


"Hehehe apakah semua nya harus saya jelaskan dengan detail pada tuan muda? Bagaimana caranya mengajak berkencan dengan seorang wanita dewasa yang sudah pernah dan bahkan berpengalaman dalam hal percintaan?" kata Zen.


"Ah sudahlah, kalian mungkin sudah sama-sama saling membutuhkan," sahut Dino Sudjatmiko.


"Nah, itu anda sudah tahu!" kata Zen.


"Jadi? Kalian melakukan nya tanpa didasari oleh perasaan suka? Melainkan karena saling butuh dan memenuhi keinginan kalian?" tanya Dino Sudjatmiko.


"Hahaha, ada sedikit rasa bos! Tertarik dengan Fatika, tentu saja ada! Makanya sedikit rayuan dan gombalan akhirnya kena juga tuh wanita," kata Zen jujur.


"Benar-benar gila kalian!" umpat Dino Sudjatmiko.

__ADS_1


"Mungkin setelah malam kemarin itu, kami. akhirnya memutuskan berpacaran bos!" kata Zen.


"Terserah! Itu bukan urusan aku!" sahut Dino Sudjatmiko kesal.


__ADS_2