JANDA LEBIH MENGGODA

JANDA LEBIH MENGGODA
BAB 29


__ADS_3

Pernikahan Anura dengan Sultan sudah dipersiapkan oleh keluarga besar Wisesa dengan meriah. Saat ini Sultan mengajak Anura menjumpai mama dan papa nya, ibu Subangun dan pak Wisesa. Anura pun mengajak Danan yang masih balita. Dengan penuh kasih sayang, Sultan menggendong Danan. Pemandangan itu bagi Anura sangat manis dan seksi ketika seorang laki-laki dewasa menggendong seorang anak kecil.


"Mas, biar Danan aku yang menggendong nya, mas! Malu jika dilihat mama papa dan juga saudara kamu yang lain jika kamu menggendong anakku," bisik Anura.


"Tidak, sayang! Danan ini sudah menjadi anakku juga. Karena kamu adalah ibu nya dan aku adalah ayahnya," sahut Sultan.


"Sultan, Anura ayo kita ke ruang makan dulu! Papa sudah menunggu di ruang makan, kita akan makan bersama-sama. Terus si kecil. yang tampan ini biar mbak baby sitter saja yang menjaganya. Di kamar Latina masih ada box bayi juga kok. Nanti biar Latina juga mengajak main Danan," kata bu Subangun. Mbak baby sitter yang di ajak oleh Anura di rumah itupun langsung mengganti menggendong Danan. Dengan berat Sultan menyerahkan Danan ke gendongan mbak baby sitter.


"Rasanya ingin terus menggendong Danan," ucap Sultan. Anura tersenyum simpul.


"Ayo, Sultan Anura, papa sudah menunggu kalian," kembali bu Subangun mengajak kedua nya.


"Baik, mama!" sahut Sultan dan Anura bersamaan.

__ADS_1


*****


Di ruang makan. Kini sudah ada pak Wisesa dan juga bu Subangun. Duduk di depannya ada Sultan dengan Anura. Keduanya sudah mengambil makanan yang sudah di siapkan. Tidak ada pembicaraan karena mereka sama-sama menikmati makan dipiring mereka. Setelah beberapa saat mereka menghabiskan makanan di piring nya, baru bu Subangun mulai berbicara.


"Kamu tidak tambah lagi, nak? Sultan, kamu harus makan banyak dong, sayang! Ini sate kambing kesukaan kamu kan? Oh iya, Anura! Ini ada juga tongseng iga yang menjadi makanan favorit kamu kan? Ambil lagi yang banyak, sayang!" ucap bu Subangun sambil mengambilkan tongseng iga itu dan memasukkan nya di piring Anura.


"Sudah, ma! Cukup! Ini sudah banyak sekali!" sahut Anura. Pak Wisesa tersenyum melihat Anura yang ada di depannya. Bahkan sebentar lagi wanita muda itu akan kembali menjadi menantunya karena akan menikah kembali dengan putranya.


"Benar, Anura! Kamu harus makan yang banyak supaya tidak terlalu kurus. Nanti kalau kurus, mama papa pikir aku tidak bisa membahagiakan kamu," sahut Sultan.


"Wanita-wanita sekarang ini berlomba-lomba untuk menjaga penampilan nya, Sultan. Apalagi seorang istri, sibuk memikirkan masalah berat badan dan juga penampilan. Itu semuanya supaya suaminya tetap setia dan tidak berpaling dari istrinya. Suaminya saat diluar sana tidak tergoda dengan wanita lain," sambung pak Wisesa. Anura menyipitkan bola matanya mendengar ucapan papa calon mertuanya itu.


"Hem, masalah setia sebenarnya itu merupakan sebuah pilihan. Walaupun istrinya cantik dan seksi serta langsing menjaga penampilan nya, jika suaminya mudah tergoda dengan wanita lain di luar sana, semua nya tetap sama saja. Apalagi istrinya belum bisa memberikan keturunan," sahut Anura. Bu Subangun dan pak Wisesa hampir saja tersedak mendengar ucapan Anura. Sultan pun melirik ke arah Anura.

__ADS_1


"Eh em, soal itu mama Minta maaf yah sayang! Dulu mama khilaf!" kata bu Subangun.


"Semuanya sudah berlalu, ma!" sahut Anura.


"Yah, semua sudah berlalu dan aku akan memperbaiki kesalahan yang dulu. Aku juga sudah bersalah dan mengecewakan kamu, Anura sayang! Setelah ini aku janji akan setia dengan kamu dan tidak mudah tergoda lagi dengan wanita lain lagi," kata Sultan. Bu Subangun dan pak Wisesa saling berpandangan lalu menatap ke arah Anura.


Suasana di ruang makan itu masih sama-sama canggung dan kaku saat mengungkit masa lalu. Namun setelah mereka berbicara dari hati ke hati suasana kembali cair dan penuh keakraban dan kasih sayang.


"Mama papa harap kalian berdua bisa kembali membina rumah tangga yang penuh kebahagiaan dan kedamaian," ucap Pak Wisesa. Bu Subangun tersenyum dan meng Aamiin kan ucapan suaminya.


"Aamiin, papa mama! Yang terpenting adalah, mama papa merestui kami dan jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Di mana mama selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kami. Biarkan kami mengurus rumah tangga kami dan menyelesaikan semuanya bersama. Papa mama perlu mendoakan kami supaya kami bisa langgeng dalam menjalani biduk rumah tangga kami nanti," ucap Sultan.


"Iya, sayang! Kalian sudah cukup dewasa dalam memutuskan segala sesuatunya. Kami dari jauh hanya bisa berdoa supaya kalian bahagia dunia akhirat dan rumah tangga kalian diselimuti kebahagiaan dan kedamaian," kata bu Subangun. Anura tersenyum lebar saat melihat banyak perubahan ke arah yang lebih baik dari mama mertuanya dulu, yaitu bu Subangun.

__ADS_1


__ADS_2