Jangan Ada Duri Diantara Kita

Jangan Ada Duri Diantara Kita
12. Rasa kecewa


__ADS_3

Brian pun mulai menyentuh kembali bib*r manis milik Istrinya. Kemudian melakukan hal yang sama seperti tadi sehingga mereka berdua merasakan hasrat yang tinggi dan panas di area tubuhnya karena akibat rangsangan.


"Sayang bolehkan?" tanya Brian kepada Istrinya.


"Tentu saja," jawab Vanes sambil mengaggukkan kepala.


Kemudian dengan cepat Brian pun membuka baju miliknya dengan tergesa-gesa saking semangatnya kemudian membuka semua baju Istrinya yang menempel ditubuhnya. Kini mereka pun dengan keadaan tubuh polosnya tanpa ada benang yang tersisa. Karena sudah tidak sabar lagi dan tidak bisa menahan hasratnya lalu Brian pun dengan segera mulai melakukan penyatuannya.


"Kak pelan pelan sakit?" ringis Vanes saat milik suaminya memasuki **** *************.


"Tahan sebentar sayang, enggak bakal lama kok sakitnya," ucap Brian sambil mengusap airmata istrinya karena kesakitan.


"Kak ...." teriak Vanes saat merasa kesakitan ketika pusaka miliknya memasukinya lebih dalam.


Ketika melihat bercak darah Brian pun menghentikannya karena tidak tega melihat wanita yang kini baru saja di sentuhnya kesakitan dan mengeluarkan airmata padahal masih belum sampai puncak kenikmatan.


"Kenapa kamu melepaskannya?" tanya Venes. karena tahu suaminya belum puas menikmatinya.


"Enggak Sayang, aku tidak tega melihat kamu menangis karena kesakitan," ucap Brian langsung bangun dari tubuh istrinya dan duduk di atas kasur membelakangi Vanes tanpa peduli dengan tubuh polosnya.


"Maaf, aku menangis bukan karena tidak mau berhubungan dengan kamu tapi aku cuma kesakitan saja. Coba sekali lagi pasti tidak akan merasa sakit lagi," ucap Vanes sambil memeluk suaminya dari belakang dengan sama-sama tubuh polosnya tanpa memakai benang sedikit pun.


"Tidak Sayang, ka-"


"Ayolah, jangan seperti ini. Kamu tau 'kan menangis ketika pertama kali melakukan hubungan badan itu wajar. Berarti itu menandakan bahwa aku ini masih perawan dan masih suci. Kamu juga lihat tadi ada sebercak darahkan?" Vanes masih dengan memeluk suaminya dari belakang.


"Iya Sayang, tapi-" ucapan harus tergantung saat tiba- tiba merasakan sentuhan lembut mengenai jenjang lehernya. Ternyata Istrinya sengaja melakukan itu dan akhirnya membuat Fattan kembali bergairah dan panas.

__ADS_1


Brian pun kembali menidurkan istrinya di atas kasur, kemudian menghimpit tubuhnya dan menciumi jenjang leher miliknya. Inci demi inci hingga meninggalkan bekas merah di lehernya dan dengan segera Brian pun melakukan penyatuannya karena hasratnya yang sudah bergejolak.


"Sayang maaf ya?" ucap Brian kepada Istrinya karena pasti kesakitan.


"Enggak apa-apa kok," Vanes berusaha menahan rasa sakit saat milik suaminya memasuki miliknya.


Vanes mendesah saat rasa sakitnya berkurang dan merasa nikmat saat pusaka milik suaminya menyentuh miliknya dengan lembut.


Mereka pun kini sedang menikmati indahnya surga dunia. Saat merasa sudah puas, Brian segera melepaskan penyatuannya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Brian sambil mencium lembut bibir Istrinya dan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Vanes.


"Iya. Awas, minggirlah berat sekali nih tubuhmu tidur di atas tubuhku," protes Vanes


"Sorry, sayang." Brian, lalu bangun dari atas tubuh istrinya dan tidur kembali di sampingnya.


Karena mereka merasa kelelahan dari tadi pagi harus menyambut dan bersalaman dengan para tamu undangan dan sekarang melakukan halnya Suami-Istri. Entah berapa lama melakukannya membuat mereka semakin lelah hingga akhirnya mereka tertidur dengan tubuh polosnya.


.


.


"Enggak tau Bu, lagian saya baru sampai ke sininya," ucap Bi Ita sambil menatap Bu Lia.


"Eh iya lupa ," ucap Bu Lia, sambil menepak jidatnya dengan tangan.


"Mungkin lagi malam pertama kali dikamarnya Bu, maklumlah namanya juga pengantin baru pasti pinginnya nempel terus Bu," Tika yang baru juga sampai dirumahnya.

__ADS_1


"Eh benar juga ya Ibu Tika. Tapi ini masih jam delapan Bu Tika," ucap Bu Lia sambil menatap jam dinding.


"Ya namanya pengantin baru tidak tahu waktu jam berapa sekarang, lagian pasti kita juga ngalaminan juga bukan," Tika tertawa renyah sambil menatap  Bu Lia.


"Benar juga ya Bu," ucap Bu Lia ikut tertawa.


"Oya Bi, jangan lupa nanti anterin makan malamnya buat mereka ya Bi," ucap Tika.


"Iya baik nyonya," kata Bi Ita sambil menatap majikannya.


"Ya sudah kalau begitu saya duluan ya Bu Lia mau kamar dulu," Tika kemudian tersenyum tersenyum.


"Iya silahkan Bu Tika," jawab Bu Lia.


Tika pun berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan besannya serta Bi Ati berduaan.


"Oya Bi, kayaknya orangtua Nak Brian baik banget ya?" tanya Bu Lia.


"Tentu saja Nyonya Tika sama Tuan Andrew sangat baik Bu, bahkan mereka sampai mengkuliahkan anak saya sekarang," jawab Bi Ita, sang Asisten rumah tangga dan sudah mengabdi selama 13 tahun.


"Wah mulia banget ya Bi mereka. Pantesan saja rezekinya lancar mulu dan kekayaannya banyak terus ternyata mereka orangnya baik juga tuh," Bu Lia merasa kagum dan beruntung memiliki besan sepertinya.


"Betul banget tuh Bu," sahut Bi Ita.


"Ya sudah kalau gitu saya permisi ya Bi, ngantuk dan cape nih pingin tidur, lagian besok saya harus pulang ke kampung saya lagi," lirih wanita baru baya.


"Iya silahkan Bu," jawab Bi Ita.

__ADS_1


Bi Lia pun berjalan menuju kamarnya, kini tinggal Bi Ati seorang.


'Oya tadi Nyonya suruh saya buat nganterin makanannya buat Den Brian dan Non Vanes. Ya sudah saya balik ke dapur untuk masak makanan buat mereka.' gumam Bi Ita sambil berjalan ke dapur untuk memasak makanan malam untuk Brian dan Vanes.


__ADS_2