Jangan Ada Duri Diantara Kita

Jangan Ada Duri Diantara Kita
17.punya cita-cita


__ADS_3

"Oya, kenapa kamu tahu kalau cita-citaku ingin  jadi seorang desain?" tanya Vanes saat menyadari suaminya mengetahui cita-citanya sejak dari kecil.


Brian langsung memperlihatkan buku yang dibacanya tadi, "dari sini."


"Diary? Oh, ya ampun itu 'kan punyaku. Kenapa bisa kamu mengetahui buku diary aku?" Vanes, menghampiri suaminya lalu mengambil buku diary tersebut dari tangan Brian.


"Tadi aku tidak sengaja melihat buku diary kamu dibawah lemari.  Aku merasa tertarik dengan buku itu ya sudah aku ambil. Ternyata isinya membuatku terkejut."


"Jangan bilang kalau kamu sudah baca semuanya buku diary ini!"


"Emang sudah, Sayang. Buku diary yang menurutku lebay sekali tentang cita-citamu, persahabatanmu terus sampai tentang pria brengsek itu," Brian menatap tidak suka Istrinya.


"Lagian bukan lebay tapi sengaja aku mencurahkan semuanya lewat buku ini dari pada dipendam dalam hati 'kan yang ada malah stress lagi. Jadi ini adalah buku sebagai bukti perjalanan hidupku."


Brian masih tidak terima dengan isi diary istrinya karena di dalam ada pria yang sangat ia benci.


"Termasuk dengan pria brengsek itu? Lebay sekali diarymu itu sampai bilang dia cowok paling oke, ganteng apalagi dia yang selalu membuatmu bahagia. Ck, diary apaan itu," ucap Brian sambil merebut buku diary tersebut.


"Apaan sih, lagian ini tentang masa lalu aku. Sudahlah yang berlalu biarkan berlalu, sekarang waktunya menatap masa depan kita. Bukannya kamu sendiri bilang untuk tidak membicarakan masa lalu 'kan?" Vanes sambil menautkan wajah sedih karena merasa kecewa.


"Maafkan aku, Sayang. Telah membuat kamu marah. Aku enggak suka tentang diary kamu karena ada pria brengsek itu!" Brian sambil berjalan menuju Istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Aku sudah bilang, itu cuma masa lalu. Terus apa yang harus aku lakukan sekarang?" Vaanes, sambil memegang tangan kekar suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Buang buku itu! Karena aku enggak suka tentang semua cerita dalam bukumu itu kecuali tentang cita-cita kamu dan persahabatanmu."


"Tapi sangat di-"


"Sayang, aku ini suami kamu sekarang jadi turutilah semua tentang perkataan suamimu ini. Hargai lah aku sekarang sebagai suami kamu!" Brian sambil menarik pinggang istrinya hingga kini saling berhadapan satu sama lain.

__ADS_1


"Ba-baiklah."


Vanes hanya mengelengkan kepala. Padahal itu buku diary masa lalu, terus ngapain suaminya harus marah? Karena tidak mau berdebat terus dan akhirnya memilih menuruti suaminya.


"Baguslah. Oya, gimana kalau rencana kamu pingin kuliah, kamu lanjutin saja?" lirih Brian yang masih melingkarkan tangannya dipinggang Istrinya yang kini saling berhadapan.


"Ide bagus juga sih. Tapi aku bingung enggak punya biaya untuk melanjutkan kuliahnya," Vanes sambil menatap pria tersebut.


"Ya ampun, Istriku ini benar-benar pelupa ya?


Lagian suamimu ini kaya raya dan kamu sudah tanggung jawabku jadi aku yang akan membiayai semua kuliah kamu."


"Seriusas? Kamu mau membiayai kuliahku?" Vanes, merasa tidak percaya.


"Tentu saja, Sayang. Lagian sangat disayangkan punya istri cantik terus pintar tidak di lanjutkan kuliahnya. Jadi aku


mau kamu melanjutkan kuliah. Tapi terserah kamu sayang, keputusan ada di pihakmu."


"Iya sayang. Terus kamu mau mengambil jurusan apa? Tentang desainer?" Tanya Brian sambil menguraikan pelukan Istrinya.


"Pinginnya sih begitu, gimana bolehkan 'kan?" tanya Vanes sambil menatap suaminya.


"Tentu saja boleh, Sayang."


Vanes merasa terharu dan tidak menyangka suaminya akan memperdulikan cita-citanya sejak kecil. Vanes bersyukur memiliki suami yang begitu pengertian.


"Gimana senangkan?" Brian menatap wanita yang ada di depannya dengan intesn.


Vanes hanya menganggukan kepala dan tidak bisa menjawab perkataannya. Suaminya begitu banyak membantunya dan keluarganya.

__ADS_1


"Vanes sangat berterima kasih sama kamu yang sudah mau membiayai kuliah aku dan juga sudah memberikan tempat usaha untuk Ibu. Aku enggak tau harus berkata apa lagi dan enggak tau  harus melakukan apa untuk membalas semua kebaikan kamu terhadap aku dan Ibuku."


"Sudahlah sayang, cukup menjadi Istri yang penurut, suka menyenangkan suami dan tentunya memuaskan di ranjang itu yang paling penting," bisik Brian ke telinga Istrinya.


"Ih apaan sih, kenapa sekarang Ka-"  ucapan Vanes tergantung saat merasakan benda kenyal menyentuh bib*rnya. Brian pun terus ******* bib*r manis Istrinya yang kini sudah menjadi candu baginya.


 Vanes tidak tinggal diam tapi Vanes pun merespon setiap sentuhan bib*r suaminya yang menjelajahi bib*r milikinya. Cium*n pun kini beralih ke jenjang lehernya dengan meninggalkan jejak berkas merah lalu menci*m kembali bib*r mungil milik Istrinya dan mereka saling membuka mulutnya untuk menjul*rkan lid*hnya dan menukar saliv*nya masing masing. Setelah menikmati ci*mannya lalu Brian pun dengan segera melepaskan ci*mannya lalu mengusap lembut bib*r mungil milik Istrinya.


"Terima kasih sayang, kamu sudah hadir dalam kehidupanku yang begitu berwarna meski awal pertemuan kita di awali dengan sering adu mulut dan suka saling menjatuhkan satu sama lain," Brian, kemudian mencium pucuk rambut Istrinya lalu tersenyum terhadap Istrinya sambil mengingat awal kejadian pertama kali bertemu bersama wanita tersebut.


"Aku juga enggak menyangka kenapa bisa kamu memilihku sebagai istrimu? Padahal disana banyak wanita yang jauh lebih cantik dan bertahta. Aku berpikir mungkin jodohku memang harus bersamamu."


"Benar, Sayang." Brian, tersenyum.


Brian tiba-tiba mengelitiki Istrinya hingga Vanes tertawa kegelian.


"Ih Brian! Geli tau lepasin ih, dasar kurang asem benar ya." Vanes merasa tidak kuat menahan kegeliannya.


"Romantis, nyaman dan memuaskan diranjang, itu harus kamu lakukan!" Brian menghentikannya lalu menarik kembali pinggang Istrinya sehingga netra mereka saling bertemu kembali.


"Ih apaan sih, sekarang suka ngantain rajang mulu ah. Sudah ah, aku mau beresin baju dulu tuh belum kelar. Mau sampai kapan beresnya kalau kamu mengganggu terus," Vanes, melepaskan tangan suaminya yang melingkar dipinggangnya lalu berjalan untuk kembali membereskan bajunya ke dalam koper.


"Ck, dasar Istriku ini ya," Brian  sambil menggelengkan kepala dan menatap Istrinya yang sedang memasukan barang-barangnya kedalam koper.


"Ternyata benar ya, cinta itu tidak perlu dicari.  Biar sang Maha Kuasa yang menentukan masalah jodoh. Seperti aku ini yang belum pernah pacaran sama sekali cuma menganggumi seseorang saja eh tidak menyangka bisa berjodoh dengan pengusaha kaya raya. Ternyata jodoh itu sudah di takdirkan oleh sang Pemilik Alam, harus dengan siapa pasangan kita," Vanes masih  fokus membereskan bajunya dan barang barang lainnya kedalam koper.


Karena merasa perkataannya tidak di respon suaminya lalu Vanes menatap suaminya.


'Ya ampun ternyata dia sudah tertidur tuh pantesan saja perkataanku enggak di jawab sama sekali, menyebalkan sekali. Tapi tidak apalah mungkin dia kecapean apalagi pas tadi mengemudi mobil suamiku ini menguap mulu.' gumam Vanes, kemudian tersenyum melihat suaminya yang kini sedang tidur diatas kasur.

__ADS_1


"Aku berharap kehidupan rumah tangga kita selalu harmonis, dan bila ada masalah selalu menyelesaikan dengan baik-baik. Semoga kamu juga menjadi suami yang bertanggung jawab dan selalu setia Brian Wijaya. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan yang kamu lakukan terhadap au dan keluargaku batin Vanes sambil menatap suaminya yang kini sangat nyenyak tidur siangnya. Kemudian Vanes pun kembali membereskan baju-bajunya dan barang-barang yang akan dibawa lalu memasukannya kedalam koper.


__ADS_2