
"Mas, sudah makan belum?" tanya Vanes.
"Belum Sayang, mungkin bentar lagi makannya. Lagi pingin rebahan dulu, Istirahat sejenak," jawab Brian.
"Ya sudah kalau begitu, jangan lupa nanti makan jangan sampai enggak dan selalu jaga kesehatan ya, Mas," ucap Vanes sambil menatap wajah suaminya di dalam layar ponsel.
"Iya siap, Sayang. Kenapa ngantuk ya Sayang? Aku perhatiin kamu menguap terus," tanya Brian.
"Iya ngantuk banget Mas, enggak apa- apa 'kan tidur duluan?" tanya balik Vanes.
"Ya enggak apa-apa kok, tidurlah, Sayang. Oya, selamat tidur nyenyak, Sayang. Ingat tetap jaga hatimu hanya untukku. Disini pun aku akan menjaga hatiku untukmu," ujar Brian, tersenyum pada Istrinya.
"Iya, Mas, aku percaya sama kamu kok. Ya sudah aku pamit tidur ya, i love you, honey," lirih Vanes.
"I love you too ...." jawab Brian.
Brian pun segera mematikan ponselnya lalu menaruh dia atas meja.
Seseorang pun mengetuk pintu, lalu dengan segera Brian pun turun dari ranjang dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Iya, ada apa Geo?" tanya Brian, saat membukakan pintunya ternyata sang asistennya yang mengetuk pintu.
"Sekarang waktunya makan, di bawah sudah disiapkan tuh makanannya sama pelayan," lirih Geo.
"Oke, baiklah."
Brian dan Geo segera pergi dari kamarnya dan berjalan menuju ruangan makan.
Tiba-tiba Nana datang, "selamat sore, kak Brian, Kak Geo," sapa Nana saat sudah terlebih dahulu berada di meja makan.
"Sore, ternyata sudah ada disini ya?" tanya Geo.
"Iya." jawab Nana.
Brian dan Geo segera duduk di kursi makan tersebut.
"Ya sudah mari kita makan, mumpung masih hangat nih makanannya," ajak Geo.
"Baiklah, kayaknya enak banget nih makanannya," ujar Nana.
Mereka pun kini sedang menikmati makanannya tanpa ada seorang pun yang berbicara sama sekali.
.
.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Vanes pun terbangun saat mendengar suara ketukan pintu, lalu menatap jam dinding menunjukan pukul jam 6 pagi.
'Ya ampun, aku kesiangan bangunnya.' gumam Vanes, mengucek matanya.
Seseorang pun terus mengetuk pintu karena tidak ada jawaban dari putrinya.
"Nak Vanes, Nak ...." panggil Bu Lia dibalik pintu.
"Iya Bu, masuk saja lagian pintunya tidak dikunci kok, Bu," jawab Vanes.
Bu Lia pun membuka kan pintu kamar putrinya dan ternyata emang tidak di kunci, lalu masuk ke dalam kamar Vanes.
"Lagi apa Nak?" tanya Bu Nina, sambil berjalan menuju ranjang putrinya, kemudian duduk.
"Enggak lagi ngapa-ngapain Bu," Vaned menatap Ibunya.
"Masa sih? Terus kamu ngapain lihat hp kamu?" tanya Bu Lia.
"Semalam mas Brian nelpon, Bu. Dia ngabari sudah sampai di paris dan kita ngobrol-ngobrol, terus Vanes ngantuk dan berakhir deh sambungan telponnya," jelas Vanes.
"Oh jadi begitu ya. Kamu beruntung banget ya Nak, dapat Slsuami yang pengertian, sayang sama kamu dan semoga saja disana Suami selalu menjaga hatinya hanya untuk kamu," lirih Bu Lia.
"Ya Bu, Vanes yakin pasti Mas Brian bisa menjaga hatinya buat Istri yang cantik ini," ucap Vanes dengan pedenya dan menaikan dua alisnya.
"So kecantikan ya ini anak Ibu. Oya, kamu doakan juga suamimu disana semoga sehat selalu, semua proyeknya berjalan lancar dan Suami disana bisa menjadi pempimpin perusahaan yang amanah dan bertanggung jawab," Bu Lia, sambil tersenyum kepada putrinya.
"Iya pastinya dong Bu, setiap waktu beribadah selalu terselipkan doa untuk Suami tercinta, untuk Ibu dan juga mendiang Bapak," Vanes tiba-tiba merasa kangen dengan kehadiran Bapaknya yang sudah tiada.
"Sudah jam enam lebih tuh, ayo, cepat siap-siap untuk berangkat kuliah dan setelah itu kita sarapan."
"Iya siap, Bu, tapi Vanez mandi dulu."
"Ya sudah Ibu ke bawah dulu, mau siapin dulu makanannya," lirih Bu Lia.
"Lho kenapa Ibu yang harus siapin? Bukannya sudah ada Chef Indris ya, minta masakin aja," sahut Vanes.
"Ya beda lah Nak, kalau untuk kamu, ya Ibu yang masakin. Emang enggak mau ya Ibu masakin makanan untuk kamu?" tanya Bu Lia.
"Tentu saja mau dong, Bu," jawab Vanes
"Ya sudah kalau begitu, kamu sekarag mandi dan beresim ruangan kamar kamu dan berkas-berkas yang akan kamu bawa kuliah sekarang."
"Baik Bu."
Vanes segera melakukan apa yang dikatakan oleh sang Ibu.
Bu Lia pun berjalan menuju dapur untuk memasak sarapan pagi untuk putrinya.
__ADS_1
.
.
Vanes pun sudah beres melakukan apa yang diperintahkan Ibunya. Kemudian berjalan kebawah tangga dan menuju meja makan.
"Anak Ibu sudah siap-siap untuk berangkat kuliah ya?" tanya Bu Lia sambil meletakan makanan yang sudah dimasaknya di atas meja.
"Tentu dong Bu, lagian Vanes enggak bakal mengecewakan suami sendiri yang sudah mengkuliahkan Vanes."
"Baguslah kalau begitu. Ya sudah sarapan dulu nanti kesiangan."
"Baiklah Bu," jawab Vanes.
Vanes dan Bu Lia pun kini sedang menikmati sarapan paginya hingga sampai selesai.
*Lima belas menit kemudian ...
"Ya sudah Bu, Vanes berangkat dulu," pamit Vanes.
"Iya silahkan Nak, hati-hati dijalannya," ucap Bu Lia menatap putrinya.
"Iya Bu, siap."
Vanes, kemudian salim dan mencium tangan punggung Ibunya lalu berjalan pergi meninggalkan Bu Lia dan berjalan keluar.
"Non Vanes, sudah siap?" tanya Pak Wawan yang tiba-tiba berada di balik pintu.
"Eh Pak Wawan? Sudah kok, emangnya kenapa, Pak? Terus Pak Wawan mau ngapain?" tanya Vanes, sambil menatap Pak Wawan.
"Ya tentu saja untuk menjemput Non Vanes," jawab Pak Wawan.
"Ya ampun Pak Wawan, padahal enggak usah repot- repot main jemput segala. Aku 'kan bisa naik taksi online Pak," ujar Vanes merasa tidak enak hati.
"Tidak apa apa Non, ini sudah kewajiban Saya untuk menjemput dan mengantar pulang Non Vanes. Lagian saya sudah berjanji sama Den Brian, Apa jadinya bila mengingkari janji sendiri, nanti bahaya Saya bisa dipecat." Ucap Pak Wawan.
"Sungguh keterlaluan banget Suamaku ini. Ya sudah ayo kita berangkat Pak," ajak Vanes.
"Baiklah, Non."
Vanes dan Pak Wawan pun berjalan menuju mobil, kemudian Pak Wawan pun segera menjalankan mobilnya menuju kampus, tempat kuliah Vanes.
#Setengah jam sudah perjalanan menuju kampus, kini Vanes pun keluar dari mobilnya setelah sampai dari kampusnya.
"Ya sudah Pak Wawan, Saya permisi dulu ya Pak," pamit Vanes.
"Iya Non, silahkan."
__ADS_1
Vanes pun keluar dari mobilnya setelah berpamitan dengan supir pribadinya. Wanita itu segera masuk ke dalam kamus dan pergi meninggalkan pak Wawan.
Saat Vanes sudah masuk ke dalam kampus, Pak Wawan pun menjalankan mobilnya dan segera pergi dari tempat tersebut.