Jangan Ada Duri Diantara Kita

Jangan Ada Duri Diantara Kita
20.Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Vanes sedang menikmati makan malamnya bersama Bi Ita. Awalnya menolak untuk tidak makan bareng bersama majikannya, akan tetapi Vanes tetap memaksa agar Bi Ita makam bersama denganya. Vanes pun mengancam kalau tidak makan akan melaporkan kepada suaminya karena Bi Ita yang membuat dirinya tidak makan. Dengan terpaksa Bi Ita pun ikut makan bersama. Vanes tersenyum saat melihat Bi Ita begitu menikmati makan malamnya.


"Oya Bi, Vanes boleh tanya enggak sama Bibi?" tanya Vanes sambil menatap Bi Ita.


"Tentu saja Boleh Non, emangnya mau nanya apa Non?" tanya balik Bi Ita.


"Bibi kenal Nana 'kan? Sebenarnya Nana itu siapanya dari keluarga Brian, Bi?" tanya Vanes.


Entah kenapa Vanes merasa ada sesuatu yang membuat Nana menyukai Brian. Dirinya berharap Nana memang saudaranya juga.


"Oh tentang Non Nana, Emangya Den Brian enggak kasih tau Non Vanes ya?" tanya balik Bi Ita.


"Enggak Bi," jawab Vanes, sambil mengelengkan kepala.


"Mungkin Den Brian belum sempat bicara sama Non kali. Sebenarnya Nana itu anak dari sahabatnya Tuan Andrew," lirih Bi Ita sambil menatap Vanes.


Deg. Benar dugaanya ternyata Nana bukan saudara suaminya. Hatinya kini menjadi was-was.


"Oh sahabatnya dari Ayah tuh. Kirain aku, sepupunya Brian, soalnya akrab banget sama Ibu," Vanes kini sudah selesai makannya.


"Ya mungkin karena waktu itu sering ketemu dan main ke rumah, jadi terbiasa dan akrab," Bi Ita sambil membereskan piring kotornya sisa tadi makan lalu berjalan menuju wastafel.


"Oh gitu ya Bi."


Vanes lalu menatap jam tangannya menunjukan pukul setengah sembilan malam.


'Jam segini Mas Brian belum pulang ya? Kemana dia?' gumam Vanes berbicara pada diri sendiri lalu menghembuskan nafas kasarnya.


"Eh Bi, Vanes ke kamar dulu ya," pamit Vanes saat Bi Ita sudah selesai dari wastafel.


"Iya silahkan Non."


Vanes pun bergegas menuju kamar dan meninggalkan Bi Ita sendirian disana. Entah kenapa hatinya jadi tidak tenang saat mengetahui Nana.


Setelah Vanes sampai tangga, tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya ke belakang dan menengok kiri, kanan menatap seluruh ruangan.


'Aneh sekali rasanya, perasaan tadi kayak ada yang mengikutiku.' gumam Vanes lalu melanjutkan untuk berjalan lagi menuju kamar.


Saat sampai digerbang pintung kamar kemudian datanglah seseorang menghampiri dirinya.


"Hei, Sayang," Brian, sambil merangkul pundak Istrinya.


"Eh Mas, sudah pulang ya?" tanya Vanes merasa kaget kepulangan suaminya yang tiba-tiba begitu saja. Vanes pun merangkul pinggang suaminya.


"Heem ...." jawab Brian.


"Jangan bilang kalau tadi kamu yang mengikuti aku 'kan m dari belakang ya?" tanya Vanes dengan menyipitkan matanya.


"Mengikuti dari belakang? Enggak kok, enggak ada kerjaan sekali mengikuti kamu dari belakang"

__ADS_1


"Sudahlah kamu jangan bohong dosa tau kalau bohong," Vanes menatap Brian dengan gemas.


Mereka pun kini sudah sampai di kamar miliknya.


"Tapi emang serius Sayang, aku tidak melakukan itu."


"Iyakah? Lalu ... " ucapan Vanes sengaja di gantung, kemudian mengindikan tubuhnya.


"Lalu kenapa, Sayang? Oya gimana hari pertama kuliah kamu, menyenangkan bukan?" tanya Brian sambil menatap Istrinya.


"Sudahlah, lupakan saja. Tentu saja menyenangkan."


Vanes merasa senang pertama masuk sudah di sambut baik oleh sang dosen, begitu pun dengan teman-temannya yang baru ia kenal.


"Ya pastinya bakal menyenangkan. Lagian pasti banyak tuh cowok yang mendekati kamu 'kan?" tanya Brian.


"Ih kamu itu bicara apaan sih? Walaupun Iya, banyak cowok yang mendekat bukan berarti itu cowok naksir kali. Mungkin hanya ingin berteman saja dengan aku. Emangnya enggak boleh aku berteman dengan cowok?" tanya Vanes.


Vanes pun kini membantu suaminya membukakan jas dan pakaiannya.


"Tentu saja enggak boleh! Apalagi kalau sampai dia berani macam-macam sama kamu dan menyukai  kamu," jawab Brian.


"Yaelah Mas, positiflah pikirannya. Lagian mana mau cowok sama cewek yang sudah menikah," gerutu Vanes.


"Ya namanya juga zaman sekarang, cowok tuh kalau lihat wanita cantik, dia tidak peduli cewek itu sudah menikah ya jadi langsung saja di gebet."


Brian berjalan menuju ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Yaelah itu belakangan nya jangan ditambahin dong, kata-katanya, Sayang. Sungguh menyebalkan sekali," gerutu Brian lalu mengelitiki perut Istrinya.


"Mas, geli tau. Lagian emang benar kok kenyataannya kayak gitu Ih," Vanes membalas kembali gelitikan yang dilakukan oleh suaminya.


Terjadilah saling menggelitiki perutnya satu sama lain hingga tertawa terbahak-bahak.


"Sudah ah Mas, cape tu ketawa mulu," Vanes kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Tapi kalau kita melakukan sesuatu gimana? Tidak capekan?" tanya Brian, tiba-tiba menghimpit tubuh Istrinya di atas.


"Ma-Mas, mau ngapain? Lagian kamu baru pulang kerja, emang ...." ucapan Vanes harus tergantung saat Brian tiba-tiba menyerang bib*r mungil milik Istrinya.


Vanes pun bingung apa yang harus dilakukannya, karena ingat status sebagai Istri, lalu dia pun membalas semua ci*man yang diberikan suaminya lalu mereka saling membuk* mulut dan saling menj*lurkan lid*ahnya satu sama lain. Sehingga kini keduanya merasakan hawa panas dan hasrat yang sudah tinggi. Dengan segera Brian pun melepaskan ci*mannya lalu membuka baju miliknya dan Istrinya satu persatu hingga kini keduanya dalam keadaan tubuh polos tanpa sehelai benang. Karena merasa sudah tidak sabar lagi, Brian pun dengan segera melakukan penyatuannya dengan milik sang istri. Kini mereka pun sedang menikmati indahnya surga dunia diiringi dengan suara naungan ******* dikamar mereka.


Setelah merasa puas dengan beberapa kali mereka melakukannya hubungan suami-istri, kemudian Brian pun dengan segera melepaskan penyatuannya dari milik Vanes. Brian pun langsumg merebahkan tubuhnya di atas kasur kemudian bangkit dari atas ranjang sambil menggendong Istrinya.


"Eh Mas, mau ngapain?" tanya Vanes merasa kaget, tiba-tiba Brian mengendongnya.


"Kita mandi bersama," jawab Brian.


"Tapi Mas ...."

__ADS_1


"Sudahlah jangan banyak protes! Lagian enggak bakal melakukan hal itu lagi kok, 'kan barusan sudah puas, Sayang," Brian lamgsung memotong pembicaraan istrinya, karena sudah tau apa yang akan istrinya bicarakan.


"Iss, baiklah," Vanes pasrah.


Brian pun menurunkan sang istri dari gendongannya, ketika sudah sampai di bathroom. Kini mereka pun sedang mandi bersama di dalam bathtub. Vanes pun merasa kesal dibuat oleh suaminya ternyata apa yang di ucapkan oleh sang suami palsu. Kini Vanes pun harus melayani suaminya bercinta di kamar mandi.


*Satu jam sudah Vanes dan Brian Menghabiskan mandinya bersama  di bathtub.


Sekarang mereka sedang berada di kamar. Vanes kini sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer sedangkan suaminya masih memakaikan baju tidurnya.


Tiba-tiba Vanes pun bersin.


"Kenapa Sayang, kamu sakit ya?" tanya Brian.


Laki-laki itu, lalu menghampiri istrinya saat sudah selesai memakai bajunya.


"Tidak kok Mas, enggak tau kenapa tiba- tiba bersin begitu saja. Mungkin ini semua karena ulahmu, Mas," Vanes sambil menatap kesal suaminya.


"Lho, kenapa jadi nyalahin aku sih? Emangnya apa yang sudah aku lakuin ke kamu, Sayang?"


Brian pura-pura tidak mengerti dan merasa tidak melakukan kesalahan pada istrinya.


"Iss, Mas, benar-benar pelupa ya? Barusan apa yang tadi terjadi di bathrub? Satu jam lamanya disana hingga aku kedinginan tau," kesal Vanes.


"Maaf, Sayang,sengaja nih ngelakuin itu biar nanti aku kangen terus sama istriku yang cantik ini," Brian kemudian tersenyum.


"Biar kangen? Maksudnya apa bicara seperti itu?"


Vanes benar-benar tidak mengerti apa yang dibacarakan oleh suaminya.


"Iya Maksudnya ...."


Brian sengaja menggantung ucapannya agar istrinya semakin penasaran dengan apa yang diucapkannya.


"Maksudnya apa sih? Kalau bicara jangan di putus terusin saja bicaranya." Angel menatap kesal suaminya.


"Yakin nih ingin tau?"


"Enggak mau tau ah," Vanes pura-pura marah kepada suaminya, lalu berjalan menuju sofa yang ada di kamar.


Brian berjalan menghampiri istrinya yang kini sedang duduk di sofa, lalu laki-laki itu ikut duduk di sampingnya.


"Jangan marah dong, Sayang. Aku cuma ingin ngerjain kamu aja."


"Enggak lucu tau, candanya."


Brian segera menceritakan kepada istrinya kalau besok harus pergi keluar negeri karena urusan bisnis. Sebenarnya Brian sangat berat bila harus meninggalkan istrinya sendirian, akan tetapi harus gimana lagi, ini demi perusahaannya biar tambah berkembang pesat dan maju.


"Enggak apa-apa 'kan bila aku tinggalin kamu sendirian?" tanya Brian menatap istrinya.

__ADS_1


Vanes hanya diam tanpa menjawab perkataan suaminya. Wanita itu belum sanggup bila harus jauh dari laki-laki yang sangat ia cintai.


__ADS_2